Pameran Alat Perkayuan IFMAC & WOODMAC, Kemenperin Harap Ekspor RI bisa Meningkat
Rabu, 24 Sep 2025, 17:38 WIBJAKARTA - Analis Kebijakan Direktorat Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Direktorat Jenderal Industri Agro Kemenperin Yulis Anggunita Kurniasih mengatakan pameran solusi desain furnitur dan alat pendukung industri kayu olahan dapat berperan dalam peningkatan produktivitas industri furnitur Indonesia.
"Industri kayu olahan dan furnitur merupakan industri hilir yang produknya memiliki nilai tambah tinggi, dan industri ini secara aktif memberi dampak positif bagi perekonomian negara melalui kinerja ekspor serta pemenuhan pasar dalam negeri," kata Yulis dalam acara pembukaan International Furniture Manufacturing Components and Woodworking Machinery Exhibition (IFMAC & WOODMAC) di Jakarta, Rabu (24/9).
Data Kemenperin pada tahun 2024 mencatat industri pengolahan kayu (KBLI 16) memberikan kontribusi sebesar 2,25 persen terhadap PDB pengolahan nonmigas, dengan nilai kinerja ekspor mencapai 3,73 miliar dollar AS.
Sedangkan industri furnitur (KBLI 31), pada tahun 2024 memberikan kontribusi sebesar 1,15 perseb terhadap PDB pengolahan non migas, dengan nilai kinerja ekspor mencapai 1,61 Miliar dollar AS.
Adapun permintaan pasar terhadap produk kayu olahan di masa depan masih sangat tinggi untuk memenuhi proyek konstruksi, infrastruktur dan pembangunan industri, serta pemenuhan bahan baku untuk industri furnitur.
Tren penggunaan furnitur saat ini juga berkembang ke arah furnitur ramah lingkungan, terintegrasi dengan teknologi (smart features), desain multifungsional, modular dan kostumisasi.
Pasar furnitur juga didukung oleh kebutuhan furnitur pada bisnis pariwisata dan hospitality, serta kebutuhan permukiman dan perkantoran.
"Dari sisi metode pemasaran, penggunaan teknologi 4.0 seperti Augmented Reality (AR) untuk mempermudah belanja furnitur secara online semakin meningkat. Kemudian dari sisi produksi, teknologi 3D printing juga semakin banyak digunakan untuk mempermudah proses desain dan mengurangi biaya produksi," tambah Yulis.
Namun Yulis juga menyoroti masih ada beberapa tantangan di industri ekspor furnitur Indonesia untuk bisa melebarkan ekspansinya ke luar negeri di antaranya kondisi geopolitik, kebijakan pelestarian lingkungan negara tujuan ekspor, kebijakan non-tariff barriers, tarif resiprokal Amerika (tarif Trump), meningkatnya impor furnitur, dan Isu keamanan dalam berinvestasi.
Ia mengatakan dengan adanya pameran ini dapat dimanfaatkan oleh pelaku industri untuk meningkatkan daya saing dengan cara memanfaatkan sumberdaya permesinan sehingga dapat mengoptimalkan produksi dan memenuhi permintaan pasar.
Pameran ini juga diharapkan dapat memberikan akses kepada produk-produk mesin, peralatan, komponen pendukung, serta teknologi lainnya untuk industri kayu olahan dan furnitur di Indonesia dengan teknologi terkini, efisien, hemat energi, namun tetap dapat memberikan hasil yang optimal, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas produk kayu olahan dan furnitur Indonesia serta meningkatkan kinerja ekspor nasional. Ant
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Opik
Berita Terkait:
-
Rancangan Umum Sementara Program 2027 Kota Bogor Dirilis
-
Dua Warganya Tewas Ditembak KKB di Papua, Gubernur NTT Geram: Kalian Sangat Biadab!
-
Siap Hadapi Kekeringan! Bendungan Raksasa di Aceh Ini Disiapkan Hadapi El Nino
-
Chelsea Ultimatum Manchester City: Bayar 2,5 Triliun Rupiah atau Lupakan Enzo Fernandez
-
Shell Resmikan Pabrik Gemuk di Marunda, Perkuat Rantai Pasok Pelumas Dalam Negeri
-
Kunjungi PT Bogor Sari Nutrisi, Kemenperin Apresiasi Pengembangan IKM Binaan Yayasan Astra
-
'Kami Ingin Perang Darat': Iran Telah Habiskan Puluhan Tahun untuk Menyambut Invasi Darat AS
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.