Prof Montesqrit: Sapi di Mentawai Perlu Dilokalisir untuk Tangkal Virus Jembrana

Selasa, 23 Sep 2025, 20:45 WIB

Pakar Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Universitas Andalas (UNAND), Sumatera Barat Prof Montesqrit menyarankan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai segera melokalisir ternak khususnya sapi untuk mencegah perluasan virus jembrana terhadap hewan lainnya.

"Ya harus dipisahkan atau dikandangkan agar sapi-sapi yang lain tidak terjangkit virus jembrana," kata Prof Montesqrit di Padang, Selasa.

Ket. Foto: Pakar nutrisi dan teknologi pakan, Fakultas Peternakan, Universitas Andalas (UNAND), Sumatera Barat Prof Montesqrit saat diwawancarai di Padang, Selasa (23/9/2205). — Sumber: Antara Berita

Hal tersebut disampaikan Prof Montesqrit menanggapi puluhan ternak yang mati mendadak di Kabupaten Kepulauan Mentawai akibat terjangkit virus jembrana.

Prof Montesqrit mengatakan pemerintah atau pemangku kepentingan terkait perlu secepatnya mengambil langkah preventif sebelum sapi-sapi lain terjangkit virus jembrana.

Sebab, jika penanganan lambat dilakukan maka bisa saja virus itu menyebar ke seluruh ternak yang ada di Kabupaten Kepulauan Mentawai, dan otomatis akan merugikan masyarakat terutama peternak.

Selain melakukan lokalisir Prof Montesqrit juga menyarankan agar Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kepulauan Mentawai secepatnya menyuntikkan vaksin termasuk vitamin bagi ternak yang belum terpapar.

Terakhir, ia mengimbau masyarakat terutama pemilik ternak untuk lebih memperhatikan makanan terutama gizi, sebagai salah satu langkah preventif mencegah virus jembrana.

"Jadi, pakan ternak terutama gizinya juga harus diperhatikan agar tidak terpapar virus," kata dia.

Ia memastikan virus jembrana sama sekali tidak menular kepada manusia, karena hanya menjangkit ke sapi. Namun, sapi yang sudah terjangkit tidak dianjurkan untuk dikonsumsi karena berisiko terhadap kesehatan.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kepulauan Mentawai, Hatisama Hura membenarkan sekitar 47 ekor sapi mati akibat terserang virus jembrana.

Hal itu diketahui setelah dinas terkait mengirimkan sampel ke Balai Veteriner Kota Bukittinggi untuk memeriksa serta memastikan penyebab kematian ternak sejak beberapa waktu terakhir.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai sudah melakukan langkah antisipasi berupa pemberian vitamin agar tidak terjadi perluasan virus jembrana. Selain itu, pemerintah setempat juga melakukan penyuntikan vaksin terhadap ternak yang belum terpapar.

Pemkab Mentawai laporkan puluhan sapi terjangkit Virus Jembrana

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), melaporkan puluhan sapi di daerah tersebut mati dan diduga terjangkit Virus Jembrana.

"Data terakhir sudah ada 47 sapi yang mati dan tersebar di empat lokasi berbeda," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Kepulauan Mentawai Hatisama Hura di Padang, Selasa.

Dari catatan DKPP Kabupaten Kepulauan Mentawai, sapi-sapi yang diduga terjangkit Virus Jembrana tersebar di Desa Sipora Jaya 1, Tuapejat, Dusun Pasapuat, dan di Kecamatan Sikakap.

Berdasarkan hasil pengiriman sampel ke Balai Veteriner Kota Bukittinggi, kata dia, diketahui bahwa sapi-sapi yang mati di Kabupaten Kepulauan Mentawai selama beberapa waktu terakhir karena terinfeksi Virus Jembrana.

Hatisama Hura mengatakan saat ini pemerintah daerah (pemda) masih mendalami asal mula penyebaran Virus Jembrana, termasuk melacak apakah ada lalu lintas ternak yang masuk ke wilayah itu tanpa kelengkapan dokumen resmi.

Sejauh ini Pemkab Kepulauan Mentawai sudah melakukan langkah antisipasi berupa pemberian vitamin agar tidak terjadi perluasan Virus Jembrana.

Selain itu pemerintah setempat juga berkoordinasi dengan Dinas Peternakan Provinsi Sumbar serta Balai Veteriner agar membantu percepatan penanganan Virus Jembrana.

Tidak hanya itu beberapa waktu lalu DKPP Kabupaten Kepulauan Mentawai menerima 500 dosis vaksin Virus Jembrana yang langsung disuntikkan kepada ternak warga.

"Kita sudah mengajukan ke provinsi agar ada penambahan dosis karena jumlah yang dikirimkan kemarin masih kurang," ujarnya.

Redaktur: Yebdi Trismar

Penulis: Tim Koran Jakarta

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.