• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Indonesia dalam Era Transf...

Indonesia dalam Era Transformasi Digital: Keamanan Infrastruktur, AI, dan Respon Insiden Jadi Prioritas

Senin, 22 Sep 2025, 16:05 WIB

JAKARTA - Seiring percepatan transformasi digital, Indonesia kini berhadapan dengan ancaman siber yang semakin nyata dan kompleks. Serangan siber tidak lagi terbatas pada isu teknis, melainkan sudah menimbulkan dampak langsung pada skala nasional.

Gangguan pada infrastruktur vital seperti jaringan listrik dapat melumpuhkan aktivitas industri dan rumah tangga, serangan pada sistem perbankan bisa menghambat transaksi keuangan masyarakat. Sementara itu kebocoran data pada layanan publik berisiko merusak kepercayaan terhadap institusi pemerintah.

Ket. Foto: Direktur Spentera, Royke L. Tobing. Ia menuturkan ketahanan siber hanya bisa dicapai melalui kolaborasi lintas sektor. Acara Cyberwolves Con 2025 merupakan komitmen Spentera dalam memperkuat ekosistem keamanan siber Indonesia. — Sumber: Spentera

Situasi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan siber bukan sekadar kebutuhan teknologi, melainkan fondasi penting bagi stabilitas ekonomi, keamanan nasional, dan keberlangsungan hidup masyarakat sehari-hari.

Menjawab urgensi tersebut, Spentera pada 11 September 2025 kembali menghadirkan Cyberwolves Con 2025, konferensi tahunan yang mempertemukan praktisi keamanan siber, akademisi, regulator, serta komunitas teknologi. Forum ini menjadi ruang kolaborasi untuk bertukar wawasan, membagikan praktik terbaik, sekaligus merumuskan strategi bersama dalam memperkuat ketahanan siber Indonesia.

Direktur Spentera, Royke L. Tobing menjelaskan, ketahanan siber hanya bisa dicapai melalui kolaborasi lintas sektor, dan Cyberwolves Con 2025 menjadi bukti komitmen Spentera untuk memperkuat ekosistem keamanan siber Indonesia. Pada seminar ini, pihaknya menyoroti strategi perlindungan infrastruktur vital seperti energi, ICS dan SCADA yang menjadi penopang layanan publik dan perekonomian nasional, risiko AI, dan tantangan digital di masa mendatang serta kesiapannya.

“Seluruh rangkaian agenda dirancang untuk menegaskan pentingnya langkah cepat dan kolaborasi dalam menghadapi ancaman digital yang terus berkembang,” ungkapnya melalui keterangannya pada hari Senin (22/9).

Dalam panel diskusi yang menghadirkan peneliti, akademisi, dan praktisi keamanan siber, para narasumber menyoroti empat isu strategis yang dinilai mendesak untuk segera diantisipasi. Keempatnya antara lain sebagai berikut:

1. Infrastruktur Energi dan ICS/SCADA

Jaringan listrik Jawa–Bali yang menyuplai lebih dari 60% energi nasional memiliki peran strategis bagi Indonesia. Namun, sistem ini juga menyimpan sejumlah kerentanan, seperti masih digunakannya perangkat lama yang belum mendapat pembaruan, protokol komunikasi SCADA yang minim enkripsi, hingga antarmuka sistem yang terhubung ke internet dengan kredensial bawaan.

Ditambah dengan integrasi IoT dan akses jarak jauh yang belum sepenuhnya terlindungi, kondisi ini memperluas permukaan serangan yang bisa dimanfaatkan aktor negara maupun kelompok kriminal siber.

Pengalaman pemadaman listrik di Jawa–Bali pada 2019 maupun gangguan di Bali pada 2025, mengingatkan kita akan besarnya dampak jika terjadi gangguan pada sektor energi. Karena itu, upaya memperkuat ketahanan siber di sektor kelistrikan bukan hanya soal mencegah risiko, tetapi juga memastikan keberlangsungan layanan publik dan menjaga kepercayaan masyarakat.

2. Risiko AI bagi Ekonomi dan Pertahanan

Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/Machine Learning) di Indonesia terus meluas, mulai dari sektor finansial, e-commerce, telekomunikasi, layanan publik, hingga pertahanan. Namun, di balik peluang besar yang ditawarkan, terdapat tantangan baru yang perlu diperhatikan, khususnya terkait keamanan dan keandalan sistem.

“Risiko AI bisa muncul jika model atau data yang digunakan tidak diverifikasi secara menyeluruh, sehingga membuka kemungkinan adanya celah yang dimanfaatkan pihak tertentu,” ujar Royke.

Ketergantungan pada teknologi impor tanpa pengujian ketat berpotensi meningkatkan risiko tersebut. Karena itu, penguatan tata kelola, standar keamanan, serta kemandirian dalam pengembangan AI menjadi langkah penting agar teknologi ini benar-benar mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga kepentingan strategis nasional.

3. Tantangan Kesiapan Tanggap Insiden

Di luar kerentanan teknis, kesiapan organisasi dalam menangani serangan siber di Indonesia masih menghadapi tantangan. Deteksi dan respon insiden sering kali memakan waktu, pencatatan forensik digital belum konsisten, serta koordinasi antar unit yang terlibat kerap berjalan secara terpisah. Kondisi ini membuat proses pemulihan krisis tidak selalu berjalan efektif, terlebih ketika serangan bersifat kompleks.

Peristiwa ransomware pada Pusat Data Nasional tahun 2024 menjadi pengingat penting akan dampak luas jika respons terhadap serangan tidak cepat dan terkoordinasi. Insiden tersebut menekankan perlunya peningkatan kapasitas, simulasi insiden secara berkala, serta penguatan tata kelola agar Indonesia lebih siap menjaga keberlangsungan pelayanan publik yang vital.

4. Kolaborasi Sebagai Kunci

Kombinasi kerentanan pada infrastruktur energi, risiko dalam pemanfaatan AI, serta keterbatasan kesiapan tanggap insiden menunjukkan perlunya langkah bersama agar Indonesia lebih siap menghadapi dinamika ancaman siber.

Mengingat vitalnya jaringan listrik Jawa–Bali bagi ekonomi nasional, besarnya data digital yang dikelola, serta meningkatnya ketergantungan pada teknologi, pemerintah dan publik didorong untuk memperkuat tata kelola keamanan siber, melakukan audit pada infrastruktur kritis, serta meningkatkan kapasitas SDM di sektor strategis seperti energi, keuangan, dan pemerintahan.

Royke menambahkan bahwa isu siber tidak dapat dipandang hanya dari sisi teknologi. “Ancaman siber bersifat multidimensi. Dampaknya bukan hanya pada infrastruktur saja, tetapi juga pada kepercayaan publik, ekonomi, hingga stabilitas nasional. Yang dibutuhkan adalah tata kelola yang kuat, kolaborasi lintas sektor, dan peningkatan kapasitas SDM agar Indonesia lebih siap menghadapi dinamika ini,” jelas Royke.

“Pada akhirnya, menjaga ketahanan digital Indonesia bukan sekadar upaya teknis, melainkan komitmen bersama. Dengan kolaborasi yang erat, standar keamanan yang konsisten, serta investasi berkelanjutan pada sumber daya manusia, Indonesia dapat memanfaatkan peluang transformasi digital sekaligus melindungi kepentingan nasional di tengah lanskap siber yang semakin kompleks,” tambahnya.

  • keamanan siber
  • transformasi digital
  • Cyberwolves Con 2025
  • Spentera
  • Royke L Tobing

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.