Transisi Energi Harus Didukung Kepastian dan Konsistensi Regulasi
Jumat, 31 Jul 2026, 01:15 WIB» Transisi energi global menjadi peluang bagi Indonesia memperkuat industri hijau dalam negeri.
JAKARTA - Momentum transisi energi global harus dimanfaatkan Indonesia menjadi peluang memperkuat industri hijau dalam negeri. Pemerintah harus segera bergerak maju memastikan industri energi terbarukan seperti panel surya dan mobil listrik tidak seluruhnya bergantung pada impor.
Managing Director Energy Shift Institute (ESI) Putra Adhiguna mengatakan investasi energi bersih dunia telah melampaui investasi bahan bakar fosil sejak 2-3 tahun lalu. âPembangunan renewable energy itu berjalan jauh lebih cepat dan ini adalah persimpangan untuk Indonesia mulai berpikir,â kata Putra di Jakarta, Rabu (29/7).
Tiongkok misalnya pada 2021 berkomitmen menghentikan pendanaan pembangkit batu bara di luar negeri, meski kapasitas pembangkitnya masih dibangun, tingkat penggunaannya justru mencapai titik terendah sepanjang sejarah.
Bahkan, pada Juni tahun lalu, pemerintah Tiongkok mengumumkan inisiatif Zero Emission Industrial Park, yang menunjukkan upaya berkelanjutan negara tersebut dalam meningkatkan standar pengembangan industri rendah emisi.
Kini, negara-negara Barat tidak lagi menjadi motor transisi energi global karena posisi tersebut diambilalih Tiongkok dengan kecepatan pembangunan yang jauh melampaui negara maju.
Selain Tiongkok, India juga membangun PLTS setara Cirata, pembangkit surya terbesar Indonesia setiap lima hari sekali.
Ketua Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES) Surya Darma juga sepakat bahwa momentum transisi energi global menjadi peluang bagi Indonesia memperkuat industri hijau dalam negeri. Namun demikian, harus diakui gap antara target dan realisasi bauran energi terbarukan atau EBT masih sangat besar.
Dia mengatakan potensi energi terbarukan Indonesia sangat besar dan beragam, namun pemanfaatannya masih sangat kecil. âPotensi energi terbarukan Indonesia cukup beragam dan sangat besar. Sementara pemanfaatannya masih sangat kecil, baru 16,32 giga watt (GW),â kata Surya.
Padahal total listrik terpasang di seluruh Indonesia saat ini sekitar 103 GW. Artinya, kontribusi EBT belum sampai 20 persen.âHal ini menggambarkan bahwa bauran energi terbarukan juga masih sangat kecil,â kata Surya.
Dalam Kebijakan Energi Nasional atau KEN, target bauran EBT pada 2060 adalah 72 persen. âBerarti masih sangat besar gap yang harus diisi oleh energi terbarukan dalam beberapa dekade mendatang,â tegasnya.
Untuk mengejar target tersebut Indonesia perlu menyiapkan dua hal utama sejak sekarang. âPerlu menyiapkan dari baik SDM maupun kesempatan peningkatan industri dalam negeri untuk memperkuat bauran energi terbarukan di masa mendatang,âtegasnya.
Dengan kombinasi momentum global dan penguatan kapasitas nasional, Surya berharap Indonesia bisa mempercepat transisi energi sekaligus menangkap peluang industri hijau.
Kepastian Bagi Investor
Pada waktu lain, Program Manager & Research Lead for Just Energy Transition and Climate Action The Habibie Center, Irvan Tengku Harja, menilai pergeseran investasi global ke energi bersih menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk mempercepat pembangunan industri hijau.
Perubahan lanskap investasi tersebut seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk menyiapkan kebijakan industri yang mampu menarik investasi sekaligus meningkatkan daya saing nasional.
Irvan mengatakan pengembangan industri hijau tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam, tetapi harus didukung kebijakan yang memberikan kepastian bagi investor dan kelestarian lingkungan hidup. Pemerintah, kata dia, perlu menyelaraskan kebijakan energi, industri, perdagangan, investasi, hingga lingkungan hidup agar mampu membangun ekosistem industri hijau yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Indonesia jelas Irvan memiliki peluang besar untuk menjadi bagian penting dalam rantai pasok global energi bersih, terutama melalui pengembangan industri baterai, kendaraan listrik, panel surya, dan berbagai teknologi rendah karbon lainnya. Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila Indonesia mampu memperkuat kapasitas manufaktur dalam negeri dan mendorong alih teknologi, bukan sekadar menjadi pemasok bahan baku mineral kritis.
Diakui, persaingan menarik investasi hijau kini semakin ketat karena banyak negara telah menawarkan insentif fiskal, kemudahan regulasi, serta pembangunan kawasan industri rendah emisi. Indonesia pun perlu bergerak lebih cepat agar tidak kehilangan momentum ketika perusahaan global mulai merelokasi rantai pasoknya ke negara yang dinilai lebih siap.
âTransisi energi global harus dipandang sebagai strategi pembangunan industri, di samping agenda pengurangan emisi. Indonesia memiliki modal sumber daya yang kuat, tetapi keunggulan itu harus didukung kebijakan yang konsisten, kepastian regulasi, serta pengembangan teknologi dan SDM agar mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional,â ujar Irvan.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.