Banyak Hujan Membuat Suasana Anyes. Hangatkan dengan Bir Pletok, Minuman Khas Jakarta

Minggu, 21 Sep 2025, 14:04 WIB

JAKARTA – Berbagai daerah termasuk kawasan Jabodetabek belakangan terus diguyur hujan. Hal ini membuat suasana anyes, alias dingin. Jangan khawatir, untuk menghangatkan badan dari suasana tersebut ada bir pletok. Apa itu? Ini adalah minuman khas Jakarta. Berada di bus Transjakarta atau Commuter Line, atau gedung yang berpendingin menambah sensasi dingin di tubuh, bahkan nyaris membuat menggigil. Minuman hangat pun dapat menjadi pilihan menenangkan suhu tubuh di waktu-waktu dingin.

Meneguk bir pletok untuk menghangatkan tubuh? Mengapa tidak. Strategi sederhana pun dilakukan pembuat bir pletok Titin Nurhajati asal Sukapura, Cilicing, Jakarta Utara, di sela Jakarta International Investment, Trade, Tourism, Small and Medium Enterprise Expo (JITEX) 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC) sejak 17 September lalu.

Ket. Foto: Bir Pletok — Sumber: ist

Wanita paruh baya itu menyiapkan bir pletok hangat dalam gelas plastik ukuran kecil dan menawarkannya pada pengunjung, khususnya kalangan muda, secara gratis. Hasilnya lumayan, sebagian pengunjung tertarik mencicipi dan membeli bir pletok buatan Titin. Sembari menawarkan bir pletok, Titin kerap ditanyai terkait kehalalan produknya. Rupanya, masih ada orang yang menganggap bir pletok tidak halal gara-gara ada label bir. Kebanyakan yang bertanya pelajar sekolah menengah atas (SMA).

Bir pletok dibuat dari berbagai macam rempah, seperti jahe, cengkeh, pala, cabai jawa, serai, kapulaga, kayu manis, daun pandan, daun jeruk, kayu secang yang menampilkan warna merah pada minuman. Selain itu, juga ditambahkan rempah lain, seperti bunga lawang atau pokak, dan kembang pala, seperti resep asli Betawi untuk menambah rasa sedap. Untuk menambah rasa manis, gula merah yang biasa disebut gula jawa, gula kelapa, gula aren atau madu juga dimasukkan. Semua bahan rempah tersebut kemudian direbus dan setelah dingin siap diminum.

Dari pandangan medis, peneliti, sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) Dr (Cand.) dr Inggrid Tania, MSi mengakui bir pletok memang dapat menghangatkan tubuh, bahkan mencegah dan membantu mengatasi "masuk angin" atau dalam istilah medisnya selesma (common cold) akibat infeksi virus yang sifatnya ringan.

Manfaat lainnya, kata Inggrid Tania, yakni membantu melancarkan pencernaan, menyeimbangkan gula darah, menyeimbangkan kolesterol darah, menyeimbangkan asam urat, menyeimbangkan tekanan darah dan meningkatkan vitalitas tubuh. Ini karena ada bahan di dalam bir pletok yang memiliki sifat antioksidan.

Menatap ekspor

Titin sebenarnya bukan orang Betawi. Dia berasal dari Kuningan, Jawa Barat, yang menikah dengan pria asli Betawi. Dia mengenal bir pletok melalui acara-acara keluarga sang suami, seperti arisan keluarga dan Idul Fitri. Satu kata yang terucap usai mencicipi minuman rempah itu, yakni "enak". Dia lalu belajar meracik bir pletok dari mertuanya, dan hasilnya memuaskan. Titin lalu terpikir menjadikan minuman itu sebagai ladang mengumpulkan rupiah.

Usaha bir pletok Titin sudah berlangsung selama beberapa tahun belakangan ini. Skalanya pun masih rumah tangga. Dalam memproduksi bir pletok, dia dibantu sekitar enam karyawan yang sebagian adalah tetangga dan anggota keluarganya. Produk bir pletok Titin sudah sampai ke luar Jawa, seperti Bali dan Kalimantan, meskipun hanya terbatas pada kenalannya yang memesan. Strategi penjualan daring pun dia jalankan. Dalam sehari, 25-50 botol bir pletok bisa dia jual.

Ditanya tentang pendapatan, Titin tersenyum. Katanya, cukup untuk membiayai hidup dirinya dan suami serta menggaji para karyawan. Melihat potensi produk bir pletok di pasar global, Titin pun ditawari untuk ekspor produk. Dalam hati dia mengamini tawaran itu, namun dia mengaku terbentur kendala skala produksi.

Titin mengaku belum bisa memproduksi bir pletok dalam jumlah banyak karena masih mengerjakannya secara manual, khususnya dalam pengupasan bahan, seperti jahe dan penggilingan. Untuk produksi skala rumahan saja, cukup banyak tenaga karyawan yang terkuras dalam sehari. Sementara untuk ikut serta dalam pameran, seperti JITEX 2025, butuh waktu lebih dari sehari untuk urusan mengupas jahe saja.

"Supaya bisa berkembang ingin punya mesin penggiling. Harganya mahal, sekitar Rp500-700 juta. Jadi selama ini kan diblender. Awalnya diblender berapa kali, blender sudah berkali-kali rusak," ungkap Titin. Selain mesin, Titin juga belum paham menyiapkan produk untuk ekspor, salah satunya terkendala bahasa asing. Menurut informasi yang dia dengar, produsen harus menyiapkan produk dengan kemasan bertuliskan Bahasa Inggris.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.