Perlu Moratorium, Sri Sultan Menduga-duga Alasan Siswa-siswa Keracunan MBG

Jumat, 19 Sep 2025, 15:27 WIB

YOGYAKARTA – Banyaknya murid keracunan MBG sampai juga ke Sri Sultan dan membuatnya resah, khawatir kesehatan pelajar terganggu. Maka, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menduga-duga bahwa munculnya kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di DIY mungkin karena tukang katering terpaksa memasak sejak dini hari karena jumlah pesanan melebihi kapasitas.

"Mungkin masaknya jam setengah dua pagi. Kalau sayur dimasak jam setengah dua pagi, baru dimakan jam delapan atau jam 10 ya mesti layu, basi," ujar dia di Yogyakarta, Jumat. Menurut dia, masalah itu terjadi ketika beban katering meningkat dua kali lipat, misalnya dari biasanya 50 porsi menjadi 100 porsi, sementara jumlah SDM atau tenaga memasak tidak ditambah.

Ket. Foto: pengawasan mbg perlu lebih ketat lagi — Sumber: ist

Kondisi tersebut membuat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai penyedia jasa harus menyiapkan masakan jauh lebih awal demi mengejar waktu. "Biar pun MBG masih percobaan tapi dibebani jadi 100 porsi. Berarti kan dua kali lipat. Berarti apa? Mungkin masaknya jam setengah dua pagi," ucap Raja Keraton Yogyakarta itu.

Demi mencegah kasus berulang, ia menilai tenaga memasak harus ditambah agar makanan tidak disiapkan terlalu dini. "Gimana menghindari seperti itu, tukang masaknya aja diperbanyak. Jadi tidak masak jam dua atau jam tiga pagi, lalu dimakan di jam delapan atau jam 10 ya mesti keracunan," ujar dia.

Terkait pengawasan, Sultan menyebut hal itu menjadi tanggung jawab pemerintah daerah setempat yang menaungi sekolah-sekolah sasaran program MBG. "Ya berarti pemerintah daerah setempat, wong sekolah-sekolah lha, Pemda DIY mau mengawasi bagaimana," katanya.

Mengenai higienitas, ia menilai faktor itu relatif, karena risiko besar tetap muncul manakala makanan tetap disiapkan terlalu dini. "Kalau higienitasnya relatif itu. Tapi masak sayurnya, makin malam, bukan makin pagi, nih makin malam, mesti sudah dalam bentuk layu," ucapnya.

Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY menyatakan telah melakukan kajian kemungkinan penetapan kejadian luar biasa (KLB) program MBG pasca-keracunan massal menimpa ratusan siswa di sejumlah kabupaten di provinsi ini.

Kasus keracunan massal, di antaranya di Kabupaten Sleman pada 13 Agustus 2025 yang dilaporkan menimpa 212 siswa dari SMP Muhammadiyah 1 Mlati, SMP Muhammadiyah 3 Mlati, SMP Negeri 3 Mlati, dan SMP Pamungkas Mlati. Seluruh siswa itu diketahui mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan dalam program MBG yang disalurkan ke sekolah masing-masing.

Moratorium

Sebelumnya diingatkan bahwa pemerintah tidak perlu malu, pemerintah tak boleh menutup mata bahwa telah terjadi begitu banyak siswa keracunan makan yang katanya bergizi. Jangan sampai anak sehat gara-gara ada MBG menjadi pada sakit-sakitan. Maka perlu moratorium pemberian MBG. Benahi dulu komponennya agar benar-benar siap. Sebab semua mengeklaim sudah sesuai dengan prosedur. Lalu mengapa masih terus saja jatuh korban keracunan MBG.

Selama moratorium (pemberhentian sejenak) perlu juga diselidiki potensi korupsi. Misalnya, mengurangi standar yang ditetapkan, kalau tidak ada pengurangan standar, tidak mungkin banyak siswa keracunan. Untuk mengambil untung yang lebih besar, maka standarnya diturunkan. Terbaru 500 siswa Garut keracunan. Saat ini Kepolisian Resor Garut menyelidiki penyebab keracunan massal siswa di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat untuk mengetahui karena diduga mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau adanya faktor lain.

  • Siswa Keracunan MBG

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.