Harga Ayam Rendah, Sinyal Gagalnya Tata Niaga Pangan?

Kamis, 18 Sep 2025, 00:00 WIB

JAKARTA – Harga ayam di tingkat peternak dalam beberapa bulan terakhir cenderung rendah. Karena itu, kenaikan harga perlu didorong agar sesuai Harga Acuan Penjualan (HAP) di sisi hilir demi menjaga keseimbangan hulu-hilir.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilitas Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa menjelaskan harga ayam di tingkat peternak dalam beberapa bulan terakhir cenderung rendah di kisaran16.000–17.000 rupiah per kilo gram (kg). Padahal, HAP di tingkat produsen yang ditetapkan pemerintah sesuai Perbadan 6 tahun 2024 adalah 25.000 rupiah per kg.

Ket. Foto: Sektor Peternakan - Harga Ayam di Peternak Masih Rendah — Sumber: istimewa

“Dengan kondisi itu, kenaikan di tingkat hilir perlu didorong sesuai HAP, supaya peternak di hulu juga mendapatkan harga yang wajar. Prinsipnya, keseimbangan hulu dan hilir ini penting untuk terus dioptimalkan,” jelas Deputi Ketut di Jakarta, Rabu (17/9).

Bapanas menegaskan pergerakan harga daging ayam ras di pasaran dalam beberapa hari terakhir, masih berada di bawah HAP di konsumen yang telah ditetapkan pemerintah berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 6 tahun 2024 tentang Harga Acuan Pembelian (HAP) di Tingkat Produsen dan Harga Acuan Penjualan (HAP) di Tingkat Konsumen Komoditas Jagung, Telur Ayam Ras, dan Daging Ayam Ras.

Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi menuturkan, dari data Panel Harga Pangan per 16 September 2025, harga rata-rata nasional daging ayam ras di tingkat konsumen sebesar 38.050 rupiah per kilogram (kg), masih berada di bawah HAP sebesar 40.000 rupiah per kg.

“Jadi kenaikan yang terjadi masih dalam koridor harga acuan yang ditetapkan pemerintah. Hal ini kita harapkan agar memberi ruang yang adil bagi peternak sekaligus tetap terjangkau bagi masyarakat,” ujar Arief.

Dalam data Badan Pusat Statistik (BPS), indeks harga yang diterima petani unggas cenderung mengalami penurunan. Sejak awal 2025 berada di level 120,58 dan memuncak pada Maret 2025 dengan 122,53. Namun sampai Agustus 2025 menurun hingga 119,95.

Keseimbangan Hulu-Hilir

Arief menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan peternak di hulu dan keterjangkauan harga bagi masyarakat di hilir.

“Kita tentunya perlu memastikan bahwa peternak mendapatkan harga yang wajar agar mereka terus bisa berproduksi, sekaligus menjaga agar konsumen mendapatkan harga yang terjangkau. Jadi keseimbangan hulu hilir ini yang harus dijaga,” kata Arief.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.