CELIOS: Beras Bisa Jadi Sumber Kerentanan Ketahanan Pangan

Rabu, 17 Sep 2025, 14:50 WIB

JAKARTA - Ketergantungan Indonesia pada beras justru berpotensi mengancam ketahanan pangan. Untuk itu, sudah saatnya Indonesia menerapkan kebijakan restoratif dan diversifikasi pangan dalam membangun ketahanan pangannya.

"Pemerintah menjadikan beras sebagai indikator ketahanan pangan dengan klaim surplus stok. Padahal kenyataannya, harga beras di pasar tradisional tetap tinggi," kata Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira dalam diskusi publik "Polemik Harga Beras dan Kebijakan Pangan di Tengah Krisis Iklim," di Jakarta, Selasa (16/9).

Ket. Foto: Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira — Sumber: CELIOS

Menurut Bhima, perspektif ketahanan pangan Indonesia terlalu sempit karena selalu dikaitkan dengan cadangan beras.

"Yang membuat Indonesia semakin rentan pangan, padahal Indonesia memiliki sumber pangan lokal yang beragam di berbagai daerah," ucap Bhima.

Harga beras saat ini masih tinggi, rata-rata di atas Rp15.000/kg, dari sebelumnya di bawa Rp12.500/kg. Ironisnya, berbagai kebijakan ketahanan pangan seperti food estate dan impor pupuk tidak mampu meningkatkan produktivitas pangan.

Di sisi lain, luas panen padi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, terus menurun sejak tahun 2021-2023. Terutama di Pulau Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

Produksi beras semakin terancam oleh perubahan iklim, yang dapat menyebabkan gagal panen atau bergesernya musim panen.

"Untuk itu tata niaga dan tata kelola pangan harus diperbaiki, atasi impor pangan, dan mengenalkan diversifikasi pangan," ujar Bhima.

Pangan lokal, laut dan hutan, seharusnyamenjadi tumpuan baru untuk menopang kedaulatan dan ketahanan pangan.

"Bukan sekedar mengejar surplus beras," kata Kepala Departemen Kampanye dan Manajemen Pengetahuan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Benny Wijaya.

"Kedaulatan pangan bisa terwujud jika lahan kembali ke petani dan pangan lokal diberi tempat, tidak hanya berpusat pada beras," ucapnya.

Selama ini, petani banyak kehilangan lahan pertanian karena digunakan untuk pembangunan perumahan hingga ekspansi perkebunan sawit dan pertambangan.

Menurut data CELIOS, sebanyak 23.472 desa di Indonesia punya potensi tinggi menjadi basis pangan restoratif. Yaitu pangan yang memberi nilai tambah bagi masyarakat tanpa merusak alam.

Indonesia juga memiliki 14,88 persen desa yang berbatasan dengan laut dan 24,11 persen desa yang berbatasan dengan hutan.

"Sumber daya ini dapat dimanfaatkan untuk ikan, tanaman pangan, dan obat-obatan," pungkas Bhima. ils/I-1

  • Ketahanan Pangan
  • CELIOS

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.