Tiongkok Minta Filipina Hentikan Provokasi

Senin, 15 Sep 2025, 02:50 WIB

BEIJING - Tiongkok menyerukan Filipina untuk menghentikan provokasi dan eskalasi ketegangan di Laut Tiongkok Selatan (LTS). Seruan itu dilontarkan juru bicara Komando Armada Wilayah Selatan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), Tian Junli, pada Minggu (14/9).

“Filipina terus berusaha menarik negara-negara asing untuk menggelar patroli bersama, menyebarkan klaim ilegal di LTS, serta merusak perdamaian dan stabilitas kawasan," ujar Tian seperti dikutip Kementerian Pertahanan Tiongkok.

Ket. Foto: Dua anggota marinir Filipina sedang berpatroli di sebuah pulau yang berada di kawasan perairan LTS pada Juni lalu. Pada Minggu (14/9), Tiongkok menyerukan Filipina untuk menghentikan provokasi dan eskalasi ketegangan di LTS. — Sumber: AFP/TED ALJIBE

"Kami dengan tegas memperingatkan Filipina untuk segera berhenti memprovokasi dan meningkatkan ketegangan di LTS, karena keterlibatan kekuatan eksternal untuk memberi dukungan pasti akan gagal,” imbuh dia.

Tian menegaskan bahwa pasukan Komando Armada Wilayah Selatan Tiongkok tetap siaga tinggi untuk membela kedaulatan dan keamanan Tiongkok, sekaligus menjaga perdamaian dan stabilitas di LTS.

Sejumlah pulau dan karang di LTS selama beberapa dekade menjadi sengketa antara Tiongkok, Filipina, dan beberapa negara lain di kawasan Asia-Pasifik. Kawasan tersebut diketahui memiliki cadangan minyak dan gas yang signifikan, termasuk di Kepulauan Paracel, Pulau Thitu, Scarborough Shoal, dan Kepulauan Spratly yang mencakup Whitson Reef.

Pada Juli 2016, setelah gugatan yang diajukan Filipina, Pengadilan Arbitrase Permanen di Den Haag di Belanda memutuskan bahwa Tiongkok tidak memiliki dasar hukum atas klaim teritorial di LTS. Pengadilan itu menyatakan pulau-pulau itu bukan wilayah yang disengketakan dan tidak membentuk zona ekonomi eksklusif.

Namun, Beijing menolak mengakui maupun menerima putusan tersebut.

Seruan Tiongkok pada Filipina Filipina untuk menghentikan provokasi dilontarkan setelah militer Filipina pada Minggu mengatakan mereka mengadakan latihan gabungan dengan Pasukan Bela Diri Maritim Jepang dan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) di LTS.

Latihan trilateral itu digelar untuk meningkatkan kerja sama ketiga negara saat Tiongkok meningkatkan tindakan koersifnya.

Latihan tersebut adalah latihan tiga arah pertama yang melibatkan Manila, Tokyo, dan Washington DC di LTS sejak Maret.

Para pejabat mengatakan latihan itu menunjukkan koordinasi operasional di perairan yang semakin didominasi oleh Tiongkok.

Ketegangan Meningkat

Ketegangan semakin meningkat setelah Beijing pada Rabu (10/9) lalu mengatakan bahwa mereka telah menyetujui pembentukan cagar alam nasional di Scarborough Shoal, yang terletak di dalam zona ekonomi eksklusif Filipina, sebuah langkah yang dikritik keras oleh Manila.

Atas rencana Beijing itu, AS pada Jumat (12/9) lalu menolak niat Tiongkok untuk membentuk cagar alam nasional di LTS dengan menyebut langkah itu sebagai upaya destabilisasi untuk memperkuat klaim teritorial dan maritim secara sepihak di kawasan tersebut.

Dalam pernyataannya, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan AS akan berdiri bersama sekutunya, Filipina, untuk menolak rencana itu.

"Klaim Beijing atas Scarborough Shoal sebagai kawasan cagar alam hanyalah pemaksaan untuk memperluas klaim teritorial dan maritim secara sepihak di LTS, yang merugikan negara-negara tetangganya, termasuk dengan mencegah nelayan Filipina masuk ke wilayah tangkapan tradisional mereka," kata Menlu Rubio.

Filipina pun sebelumnya telah memprotes keras rencana Tiongkok di LTS yang disengketakan itu, dan menyebutnya sebagai ilegal dan tidak sah, seperti dilaporkan kantor berita PNA. Ant/I-1

  • philippines peso

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.