AI Jadi Isu Penting Jelang Pertemuan Trump-Xi Jinping di AS

Kamis, 17 Sep 2026, 09:12 WIB

WASHINGTON - Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) diperkirakan akan menjadi isu penting ketika Presiden Tiongkok Xi Jinping bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Washington minggu depan.

Amerika Serikat dan Tiongkok adalah dua kekuatan dominan dalam perlombaan AI, dan para pejabat serta analis menggambarkan masa depan teknologi ini secara gamblang, sebagai dunia yang dibentuk oleh AI dari salah satu negara adidaya atau AI dari negara adidaya lainnya.

Ket. Foto: Presiden AS Donld Trump bersama Presiden Tiongkok Xi Jinping mengunjungi Temple of Heaven di Beijing dalam kunjungannya ke Tiongkok. 14 Mei 2026. — Sumber: NBC

Tiongkok, yang sejak lama dianggap tertinggal dari Amerika Serikat dalam hal AI mutakhir, dengan cepat mempersempit kesenjangan tersebut.

Perusahaan-perusahaan Tiongkok, termasuk DeepSeek dan Moonshot AI, telah merilis model open-weight -- yang dapat diunduh, dimodifikasi, dan dijalankan oleh siapa pun -- yang kini berada tepat di belakang OpenAI dan Anthropic, dengan biaya yang jauh lebih rendah.

Moonshot Kimi K3, yang dirilis musim panas ini, dipandang para analis sebagai tanda paling jelas dari penyempitan kesenjangan tersebut.

Washington telah lama berupaya memperlambat kemajuan Tiongkok dengan kontrol ekspor terhadap chip canggih yang dibutuhkan untuk AI mutakhir, memblokir akses ke semikonduktor kelas atas AS seperti Nvidia.

Pemerintahan Trump telah melonggarkan aturan perizinan untuk beberapa chip meskipun berupaya membatasi chip lainnya, yang membuat frustrasi para pendukung kebijakan keras terhadap Tiongkok di Washington yang menginginkan sikap yang lebih tegas.

Isu AI menjadi semakin mendesak setelah insiden Hugging Face baru-baru ini, di mana model OpenAI keluar dari lingkungan pengujian, memicu kekhawatiran global atas kemajuan teknologi yang pesat -- dan seruan agar industri memperlambat atau menghentikan pengembangan.

Kalah dalam Perlombaan

Debat tentang AI di AS masih didominasi oleh anggapan bahwa para pengembang terkemuka di negara itu -- OpenAI, Anthropic, Google, dan Meta -- tidak mampu memperlambat laju inovasi mereka, apa pun risikonya, karena takut Tiongkok akan mengungguli mereka.

"Jika Kongres langsung bersidang darurat untuk mencoba mengatur AI, kita akan kalah dalam persaingan dengan Tiongkok, dan itu merupakan ancaman bagi setiap warga Amerika," kata Ketua DPR Mike Johnson pekan ini.

Trump mengambil sikap yang lebih keras, menuduh para pendukung keamanan AI bertindak tidak jujur ​​dan membangkitkan momok dominasi Tiongkok di bidang ini.

"Ada konspirasi JAHAT yang sedang berlangsung terhadap AI dan Pusat Data, dan satu-satunya pihak yang senang dengan hal itu adalah Tiongkok," tulisnya di platform Truth Social miliknya.

Kekhawatiran tentang bahaya AI terhadap kedudukan geopolitik juga masih ada di Beijing.

Menteri Keamanan Negara Chen Yixin pada hari Minggu menggambarkan AI sebagai "medan pertempuran utama" untuk persaingan global "dan jalur baru untuk persaingan strategis kekuatan besar."

Terlepas dari retorika yang memanas, masih ada harapan bahwa kedua rival global ini dapat menyepakati sesuatu terkait teknologi tersebut ketika para pemimpin bertemu di Washington.

Namun, hal-hal yang ambisius, seperti menyetujui untuk memperlambat pembangunan atau merancang perlindungan global, kemungkinan besar berada di luar jangkauan.

AS dan TYiongkok terjebak dalam "dilema tahanan di dua tingkatan," kata Aalok Mehta dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), dengan alasan, baik laboratorium AI individual maupun negara individual tidak mampu memperlambat laju AI secara sepihak selama mereka takut saingan mereka tidak akan melakukannya.

"Apa artinya jika AS memperlambat laju perkembangannya sementara Tiongkok tidak?" tanya Jennifer Huddleston dari Cato Institute, menggambarkan dilema yang dihadapi para pembuat kebijakan AS.

"Apa artinya ini bagi sekutu kita yang akan mencari solusi teknologi dari pihak lain selain Tiongkok?" tambahnya.

Komunikasi yang Erat

Yang lain skeptis bahwa bahkan kerja sama yang sederhana pun mungkin terjadi.

Jonathan Czin dari Brookings Institution mengatakan prospek kerja sama yang suram mencerminkan perpecahan di kedua belah pihak.

"Tidak ada konsensus yang jelas di Amerika Serikat mengenai apa yang harus dilakukan, jika ada, terkait AI," katanya.

Dari pihak Tiongkok, katanya, ada "kecurigaan yang sangat mendalam" bahwa dialog apa pun tentang pengekangan "hanya akan menjadi jebakan" yang dirancang untuk memperlambat Tiongkok.

Kesepakatan apa pun kemungkinan besar akan dirundingkan terlebih dahulu oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent, yang akan bertemu dengan mitranya dari Tiongkok, He Lifeng, akhir pekan ini untuk mempersiapkan landasan.

"Sebagai negara adidaya nomor satu dan dua dalam bidang AI, sudah sepatutnya kita semua memasang pembatas, dan menjalin komunikasi yang erat," kata Bessent kepada wartawan bulan ini.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.