Ekonomi Digital Rentan Roboh Tanpa Sistem Keamanan Kuat
Rabu, 10 Sep 2025, 17:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ Muhammad Zulfikar
JAKARTA – Teknologi keamanan memegang peranan vital dalam membangun ekosistem ekonomi digital yang sehat dan berkelanjutan.
Seiring meningkatnya transaksi daring, adopsi fintech, e-commerce, hingga layanan berbasis kecerdasan buatan, risiko kejahatan siber juga semakin kompleks.
Tanpa perlindungan yang memadai, kebocoran data, serangan ransomware, maupun penipuan digital dapat meruntuhkan kepercayaan publik yang menjadi fondasi utama ekonomi digital.
Dari sisi bisnis, investasi pada teknologi keamanan bukan sekadar biaya tambahan, melainkan instrumen strategis untuk menjaga reputasi dan keberlangsungan usaha.
Perlindungan data konsumen, keamanan infrastruktur pembayaran, hingga sistem enkripsi menjadi keharusan agar transaksi digital berjalan lancar.
Dengan meningkatnya kepercayaan konsumen, partisipasi masyarakat dalam ekonomi digital pun kian luas, sehingga memperbesar potensi pasar.
Lebih jauh, teknologi keamanan juga penting untuk mendukung agenda pemerintah dalam memperkuat kedaulatan digital.
Standar keamanan yang ketat mampu mencegah eksploitasi oleh pihak asing sekaligus melindungi infrastruktur kritis nasional.
Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo (Tiko) mengatakan kesiapan teknologi keamanan harus menjadi prioritas dalam membangun ekonomi digital, lantaran sektor perbankan menjadi salah satu target utama serangan siber.
Menurut Tiko, serangan phising hingga ransomware terjadi setiap hari, terutama pada aplikasi perbankan digital besar seperti Livin' Mandiri, BRImo, hingga Byond BSI.
"Paling penting adalah human capital kita menyiapkan cyber troops, cyber patrol yang memang actively memprotect seluruh ekosistem digital kita," ujar Tiko di Jakarta, Rabu (10/9).
Ia menyampaikan, ancaman siber tidak hanya menguji kesiapan teknologi keamanan, tetapi juga integritas kepercayaan publik terhadap sistem keuangan nasional.
Lebih lanjut, Tiko menyebut bahwa perbankan Indonesia telah fokus pada sistem keamanan digital yang lebih kuat sejak lima tahun lalu.
Sebagai contoh, Kementerian BUMN bersama-sama dengan Bank Indonesia serta seluruh perbankan Indonesia mampu membangun ekosistem pembayaran dari awal mulai dari infrastruktur, hardware, software, API integration, serta dari sisi keamanan.
Sebagai upaya menekan serangan siber, kata Tiko, dalam proses pembangunan ekosistem digital harus dibarengi dengan penguatan infrastruktur keamanan, mulai dari enkripsi, sistem autentifikasi multifaktor, hingga tata kelola pengembangan aplikasi yang terintegrasi.
Langkah tersebut dinilai Tiko dapat meminimalisir terjadinya peretasan ataupun phising.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!