Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

TSI: Jangan Main-main Tangani Macan Tutul Kabur di Lembang, Berpotensi Konflik Satwa dengan Manusia

📅 Rabu, 03 Sep 2025, 23:48 WIB | Oleh:
TSI: Jangan Main-main Tangani Macan Tutul Kabur di Lembang, Berpotensi Konflik Satwa dengan Manusia Doc: Instagram BBKSDA Jabar
Ket. Penampakan Macan Tutul yang kabur dari Lembang Park Zoo saat masih di penangkaran.

BANDUNG - Taman Safari Indonesia (TSI), salah satu lembaga konservasi hewan, mengungkapkan penanganan macan tutul yang kabur dari Lembang Park and Zoo ke wilayah Gunung Tangkuban Parahu, Kabupaten Bandung Barat, Jabar dilakukan secepatnya dan tidak boleh main-main.

"Ini bukan hal yang mudah dan bukan yang tanpa risiko, sehingga tidak bisa main-main soal ini," kata Anggota Dewan Pengelola TSI John Sumampau melalui telewicara kepada Antara di Bandung, Rabu (3/9).

Pasalnya, kata dia, kawasan Gunung Tangkuban Parahu sudah cukup banyak penduduk dan menjadi destinasi wisata unggulan Jawa Barat, sehingga berpotensi konflik satwa dengan manusia lagi serta berbahaya bagi anak kecil dan ternak, meski kawasan tersebut sebetulnya bisa cocok sebagai habitat macan tutul.

Ia menjelaskan bahaya juga bisa meningkat jika macan tutul muda tersebut ternyata mengalami gangguan secara psikologis karena berbagai faktor, termasuk tingkat stres berlebihan.

"Macan tutul adalah hewan yang pandai kamuflase, lima meter itu bisa tidak kelihatan. Umpamanya jika dia secara psikologis terganggu, maunya ingin terlihat ya bisa terlihat lagi, bisa datang lagi ke perkampungan mencari makanan," ucapnya.

Masyarakat,  katanya, bisa melakukan pengamanan kampung mereka dari ancaman masuknya macan tutul lewat menggalakkan siskamling dengan per kelompok lima orang atau lebih untuk bisa menghalau satwa itu kembali ke hutan.

Terkait dengan psikologis macan tutul yang tidak stabil, katanya, bisa meningkatkan bahaya bagi tim yang berusaha mengamankan satwa tersebut.

Ia menjelaskan semisal dengan peralatan yang umum digunakan, yakni "blow pipe" untuk membius hewan dengan batas maksimal digunakan dalam radius tak lebih dari 10 meter, kemungkinan besar bisa gagal karena macan itu lari atau malah balik menyerang karena merasa terdesak.

Ia menjelaskan berbagai aspek penanganan yang standar perlu menjadi pertimbangan berbagai pihak, karena insiden ini akan menjadi perhatian dunia terkait dengan penanganan satwa dilindungi tersebut.

"Kalau nyawa satwanya hilang, nama kita jelek di dunia, karena dunia akan menyorot kita, dan kalau kita kehilangan nyawa petugas juga tidak lucu. Karena ini tidak bisa main-main," ujarnya.

Pihaknya menyatakan kesiapan jika sewaktu-waktu diminta bantuan menangani insiden ini, mengingat beberapa kali telah terjun dalam penyelamatan macan tutul di beberapa daerah.

Peralatan yang dimiliki, khususnya di TSI, terbilang siap dengan kandang jebak, kandang angkut, senjata bius jarak jauh, dan sumber daya manusia, seperti keeper, dokter hewan, dan tim medis hewan yang berpengalaman.

"Kami selalu terbuka jika tenaga dan pengalaman kami selama ini dibutuhkan oleh berbagai pihak dalam penyelamatan hewan dilindungi ini. Karena itu tadi, kita tidak bisa main-main," katanya.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat menyebutkan macan tutul yang lepas dari kandang karantina di Lembang Park and Zoo, Kabupaten Bandung Barat, diduga mengarah ke kawasan hutan Gunung Tangkuban Parahu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Liga Arab Kukuhkan Nabil Fahmy sebagai Sekjen

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Liga Arab Kukuhkan Nabil Fa...
Luar Negeri
Pemimpin Korut Bertekad Per...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.