Pemprov DKI dan Perhimpunan Kebayaku Gelar “Seribu Wajah Kebaya Betawi” di Balai Kota

Jumat, 29 Agu 2025, 12:30 WIB

JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama Perhimpunan Kebayaku menggelar pentas budaya bertajuk “Seribu Wajah Kebaya Betawi” di Balairung, Balai Kota Jakarta, pada Kamis (28/8). Acara ini bertujuan mengembangkan kebaya Betawi sebagai identitas budaya lokal yang memiliki peran penting dalam memperkuat keberagaman budaya nasional.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam sambutannya menekankan bahwa kebaya Betawi adalah hasil akulturasi berbagai kebudayaan yang berkembang di Jakarta. "Kebaya Betawi merupakan cerminan akulturasi dari berbagai kebudayaan yang datang ke Jakarta. Kota ini menjadi melting pot, dan salah satu kebaya yang paling menonjol adalah Kebaya Encim Betawi," ujarnya.

Ket. Foto: — Sumber: Istimewa

Menurut Pramono, Kebaya Encim lahir dari perpaduan budaya Betawi, Tionghoa, dan pengaruh Eropa yang menjadikannya anggun sekaligus sarat makna keberagaman. Ia menegaskan, kebaya ini bukan hanya identitas perempuan Betawi, melainkan juga mencerminkan karakter Jakarta sebagai kota yang inklusif dan berbudaya.

"Budaya Jakarta adalah budaya Betawi. Karena itu, setiap kegiatan yang berkaitan dengan Kebetawian, saya selalu membuka diri. Mau diadakan di Balai Kota, Lapangan Banteng, atau di tempat-tempat milik Pemprov DKI, kami siap bekerja sama," tegasnya.

Lebih lanjut, Gubernur Pramono menyampaikan komitmennya untuk terus menggencarkan agenda kebudayaan, khususnya yang berakar pada tradisi Betawi, demi mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang berbudaya.

"Saya ingin bekerja keras memajukan Jakarta, mengangkat budaya Betawi, dan membuat siapapun yang datang merasa bahagia berada di Jakarta," ucapnya.

Ketua Perhimpunan Kebayaku, Nunun Daradjatun, menambahkan bahwa perhelatan ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan peringatan HUT ke-500 Kota Jakarta. Ia menyebut momentum tersebut sebagai kesempatan penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya Betawi kepada masyarakat luas.

"Kebaya bukan sekadar busana, melainkan juga simbol warisan dan jati diri bangsa. Melalui acara ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk lebih mencintai budaya sendiri," ujarnya.

Selain menampilkan peragaan busana, acara ini juga menjadi ruang pertemuan bagi para tokoh perempuan, budayawan, serta pemangku kebijakan untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga dan melestarikan budaya Betawi.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.