Menelusuri Perpaduan Budaya dalam Ukiran Buddha di Gua Yungang

Jumat, 29 Agu 2025, 13:30 WIB

BEIJING - Diukir di sejumlah tebing di China utara lebih dari 1.500 tahun silam, Gua Yungang di Datong, Provinsi Shanxi, Tiongkok utara, menunjukkan babak monumental dalam perkembangan awal seni Buddhis dan pertukaran lintas budaya. Dibangun pada abad kelima oleh istana kekaisaran Dinasti Wei Utara (386-534), situs ini menjadi bagian dari Buddhisme yang saat itu berkembang pesat di bawah perlindungan negara dan menyebar di sepanjang Jalur Sutra.

Gua Yungang menjadi titik temu berbagai pengaruh artistik dari seluruh Eurasia. Ukiran-ukirannya, yang ditemukan di 45 gua utama dan lebih dari 59.000 patung, mencerminkan perpaduan tradisi visual, dari realisme pahatan Gandharan dan motif-motif dekoratif Asia Tengah hingga estetika seni Buddhis Tiongkok awal yang berkembang secara bertahap selama era Dinasti Wei Utara.

Ket. Foto: Zhan Yan, Hu Jingwen — Sumber: Istimewa

Transisi gaya pahatan yang terlihat pada wajah, gestur, dan jubah patung-patung di Gua Yungang menelusuri narasi visual dari perpaduan budaya. Kini, Gua Yungang tidak hanya menjadi situs warisan keagamaan, tetapi juga bukti interaksi dinamis antarperadaban.

Gua Yungang diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 2001 dan tetap menjadi salah satu kompleks terbuka seni Buddhis paling signifikan yang masih ada di Tiongkok, jejak abadi tentang bagaimana peradaban kuno bertemu, beradaptasi, dan diukir di bebatuan. Ant/Xinhua 

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.