Jangan Panik, Ini Pesan BMKG soal Ancaman Gempa Megathrust di Lombok

Selasa, 26 Agu 2025, 19:55 WIB

MATARAM - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk tetap waspada terhadap potensi gempa megathrust di selatan Lombok. Simulasi menunjukkan skenario terburuk tsunami bisa mencapai 26 meter dengan waktu tiba sekitar 20 menit, sehingga kesiapsiagaan menjadi kunci.

"Ketika kita bicara megathrust tujuannya untuk kesiapsiagaan dari pada gempa terjadi kita tanpa kita tahu sumbernya dari mana. Itu lebih parah," kata Ahli Seismologi BMKG, Pepen Supendi saat menjadi narasumber pada kegiatan bimbingan teknis peningkatan efektivitas komunikasi risiko bencana yang diselenggarakan oleh BNPB di Kota Mataram, Selasa.

Ket. Foto: Ahli Seismologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Pepen Supendi dikonfirmasi wartawan usai saat menjadi narasumber pada kegiatan bimbingan teknis peningkatan efektivitas komunikasi risiko bencana yang diselenggarakan oleh BNPB. — Sumber: ANTARA/Nur Imansyah

Ia mengakui Pulau Lombok, termasuk Bali masuk dalam segmen Sumba. Di mana segmen ini merupakan bagian dari megathrust selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara dengan magnitudo gempa bisa mencapai 8,9 Skala Richter.

"Itu skenario terburuk zona megathrust pada bagian-bagian terkunci. Namun ada bagian sudah keluar dalam gempa-gempa kecil. Cuman yang dikhawatirkan oleh kita selama ini adalah bagian yang tidak terkunci-nya itu yang kita sebut sebagai seismic gap," kata Pepen.

Pepen menegaskan BMKG telah melakukan skenario model ketika terjadi tsunami akibat gempa megathrust di kawasan pantai selatan Pulau Lombok. Berdasarkan simulasi, Kabupaten Lombok Tengah estimasi ketinggian gelombang ketika terjadi tsunami mencapai 25-26 meter dengan kecepatan waktu tiba 15-20 menit setelah gempa.

"Permodelan atau skenario ini sangat baik untuk kesiapsiagaan, sehingga masyarakat sudah harus waspada meskipun yang datang kecil tapi kita sudah lebih siap. Jadi, itu bukan untuk menakut-nakuti atau membuat masyarakat resah tapi untuk kesiapsiagaan," tegasnya.

Ia mengingatkan potensi bencana gempa bumi tidak hanya datang dari megathrust, melainkan dari sesar lain. Ia mencontohkan gempa yang terjadi di selatan Pulau Lombok pada tahun 1977 akibat outer rise di luar megathrust dengan magnitudo 8,3 SR yang mengakibatkan gelombang tsunami.

"Tapi jangan lupa di utara Lombok, Bali, Sumbawa sampai dengan Flores di utara itu adalah sebuah sesar naik yang disebut Flores Megathrust yang memiliki karakteristik yang bisa menimbulkan tsunami juga kalau gempanya besar dan menimbulkan formasi di bawah permukaan laut," terang Ahli Seismolog Direktorat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG ini.

Namun demikian lanjut Pepen, adanya skenario yang dimodel-kan supaya ketika terjadi gempa atau tsunami yang lebih kecil masyarakat juga sudah lebih siap, termasuk apabila terjadi skenario terburuk. Mengingat yang menjadi perhatian para ahli selama ini adalah Busur Sunda. Mulai dari pantai barat Sumatera hingga selatan Bali dan Nusa Tenggara.

"Sekarang itu kita bukan lagi berbicara kapan terjadi gempa karena setiap hari ada gempa. Karena kita berhadapan dengan sumber-sumber gempa. Yang paling penting adalah bagaimana kita siap dengan gempa itu. Mulai dari yang kecil lah di rumah tangga kita harus tahu di mana jalur evakuasi, titik kumpul paling aman di rumah kita di mana, jauh dari pepohonan, jauh dari tiang listrik sehingga kita siap," ucap Pepen.

Lebih lanjut, ia mengatakan sampai dengan saat ini belum ada teknologi dan metode, termasuk waktu serta lokasi presisi yang memprediksi kapan terjadi gempa belum ada yang tahu.

"Tapi kalau zona-zona-nya jelas tidak akan jauh dari zona subduksi dan tidak jauh dari sesar aktif. Makanya yang paling penting di bangun itu adalah bagaimana mitigasi," katanya.

  • tsunami
  • bmkg
  • gempa megathrust
  • lombok selatan

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Alfred, Antara

Berita Terbaru

Debt Collector Paksa Masuk ke Dalam Mobil, Piting Leher dan Ancam Pengemudi

TNI-Polri Bongkar Arena Judi Sabung Ayam di Gowa, Tidak Ada Orang di Lokasi

Dinsos Tanjungpinang Buka Ruang Bagi Warga untuk Perubahan Desil

Sudah 2 Hari Juanda Belum Ditemukan Akibat Terseret Arus saat Kemping di Pantai

DPR Sebut RUU Perampasan Aset Disusun dengan Hati-hati

Atasi Kebakaran Gambut di Kalimantan Barat, Wamen LH Diaz Hendropriyono Dorong Swasta Bangun Sekat Kanal

Resmikan RS Toto Tentrem, Gubernur Pramono Dorong Penguatan Layanan Stem Cell Jakarta

Apakah Rambut Botak Bisa Tumbuh Lagi? Kenali Tandanya

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

KPK Tekankan Pentingnya Penguatan Integritas Kampus usai OTT di Unsoed

Kemenbud Fokus Pulihkan Warisan Budaya dari Desa Adat Sade Pasca Kebakaran 

Ada Apa dengan Rekening Dana Aliansi Masyarakat Pati Bersatu? Polda Metro Jaya Jelaskan

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.