Dibalik Kecepatan Whoosh, KAI Digrogoti Utang Rp2 Triliun per Tahun ke China
Selasa, 26 Agu 2025, 13:41 WIBJakarta â Di tengah gemerlapnya proyek prestisius Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau yang dikenal dengan nama Whoosh, ternyata terselip beban finansial yang menekan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI. Tak banyak yang tahu, di balik lajunya kereta berkecepatan tinggi ini, terdapat utang jumbo yang terus menggerus keuangan BUMN transportasi ini.
Proyek yang dioperasikan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) tersebut saat ini dibebani total utang mencapai USD7,2 miliar atau setara Rp116 triliun, dengan sekitar 75 persen berasal dari pinjaman ke China Development Bank (CDB). Bunga pinjamannya? Sekitar 3,5â4 persen per tahun, menghasilkan kewajiban pembayaran bunga tahunan hingga Rp2 triliun.
Menurut pengamat BUMN Universitas Indonesia, Toto Pranoto, ini adalah tekanan finansial yang sangat berat bagi KAI. Pasalnya, KAI merupakan pemegang saham mayoritas di KCIC, sehingga beban tersebut secara tidak langsung menghantam neraca keuangannya. "Pendapatan dari tiket tidak akan cukup menutupi bunga dan cicilan pokok. Ini di luar jangkauan KAI," ungkap Toto.
Sampai semester I-2025, KCIC masih mencatatkan kerugian Rp1,6 triliun, meskipun menurun dari tahun sebelumnya. Tingkat okupansi harian Whoosh yang masih berada di sekitar 60 persen, jauh dari target ideal, juga menjadi faktor pembatas pertumbuhan pendapatan.
Lebih memprihatinkan, Toto memperingatkan bahwa struktur keuangan KAI yang rapuh bisa berdampak pada layanan publik kereta reguler. âJika ini dibiarkan, pelayanan KAI yang selama ini andal bisa terganggu,â katanya.
Namun, harapan masih ada. Langkah Danantara entitas pengelola aset negara yang berencana mengambil alih sebagian utang proyek kereta cepat, dinilai sebagai solusi strategis. Dengan pengalihan sebagian beban, KAI dapat kembali fokus pada bisnis intinya sebagai operator transportasi.
Toto juga mendorong optimalisasi kawasan TOD (Transit Oriented Development) seperti Halim dan Tegalluar sebagai sumber pendapatan alternatif. "Whoosh tidak bisa hanya mengandalkan tiket. Potensi ekonomi di sepanjang jalurnya sangat besar," ujarnya.
Proyek kereta cepat memang membanggakan, tapi perlu manajemen keuangan yang cermat agar tidak menjadi beban berkepanjangan. Kini, saatnya pemerintah dan pemangku kepentingan turun tangan lebih serius untuk menyelamatkan masa depan Whoosh dan KAI.
- KAI
- Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB)
- Whoosh
- Danantara
- Utang KAI ke China
- Keuangan KAI
Redaktur: Andriani Nuraini
Penulis: Andriani Nuraini
Berita Terkait:
-
Kebijakan WFH, ASN Kemenag Diminta Jaga Ritme Kerja
-
KAI Percepat Proyek Peron Baru Stasiun Bogor untuk KRL 12 Rangkaian
-
Harga BBM Naik Akibat Perang Iran, Pakistan Gratiskan Transportasi Umum
-
Panen Raya "Urban Farming" di Jaktim, Melon Inthanon Jadi Daya Tarik Utama
-
Reformasi Investasi Danantara Dinilai Bisa Tekan Gelombang PHK
-
Tips Cegah Kebakaran Rumah Akibat Listrik Saat Ditinggal Mudik Ala Schneider Electric
-
Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu di Serang Bertahan dengan Cara Pahit
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.