Anomali Iklim Dunia Mendorong Wisatawan Mencari Destinasi yang Sejuk

Senin, 25 Agu 2025, 01:00 WIB

NEW YORK - Gelombang panas yang memecahkan rekor, kebakaran hutan yang hebat, dan kelembaban yang sangat tinggi tengah mengubah industri pariwisata dunia sementara para wisatawan berjuang mengatasi kerusakan yang disebabkan oleh perubahan iklim.

Hal ini membuat semakin banyak orang beralih ke destinasi lain selain destinasi populer seperti Yunani dan Portugal, dan lebih memilih 'coolcation' – mengunjungi belahan dunia yang menawarkan iklim lebih sejuk. Hampir separuh penasihat perjalanan mewah Virtuoso mengatakan klien mereka mengubah rencana mereka karena perubahan iklim.

Ket. Foto: Turis menggunakan kipas angin di bus pariwisata di dekat Menara Eiffel di Paris Sabtu (16/8). — Sumber: AFP/Martin LELIEVRE

Gelombang panas di Eropa menyebabkan lokasi wisata termasuk Acropolis di Athena dan Menara Eiffel di Paris ditutup pada musim panas ini, dan kawasan tersebut diperkirakan akan mengalami kesenjangan pariwisata yang semakin lebar karena dampak perubahan iklim yang tidak merata.

Wilayah pesisir utaranya kemungkinan mengalami peningkatan permintaan lebih dari 5 persen selama musim panas dan awal musim gugur, sementara wilayah selatannya akan kehilangan hampir 10 persen wisatawan musim panas, menurut studi Komisi Eropa.

Suhu yang sangat tinggi telah menurunkan jumlah pengunjung di Tokyo Disney Resort, dan operator taman hiburan Amerika Serikat, Six Flag Entertainment, mengatakan cuaca buruk, termasuk gelombang panas, menyebabkan kerugian hampir 100 juta dolar AS pada kuartal kedua karena mengurangi prospek pendapatan. Sementara itu, tempat-tempat seperti Antartika, Norwegia, dan Islandia justru mengalami lonjakan popularitas.

Dari taman es hingga oasis hijau di pusat kota, berikut ini cara dunia mencoba membantu wisatawan mengatasi panas.

Kota Paling Berkelanjutan

Abu Dhabi memadukan praktik kuno dan teknologi mutakhir untuk melawan panas ekstrem yang menyebabkan suhu siang hari melonjak hingga 51,8 derajat Celcius awal bulan ini – hampir mencapai rekor.

Kota Masdar sudah menjadi salah satu kota paling berkelanjutan di dunia, dengan sebagian besar kebutuhan energinya dihasilkan oleh panel surya di atap dan pabrik fotovoltaik di lokasi yang mengimbangi sekitar 15.000 ton emisi karbon per tahun.

Selain teknologi mutakhir, Masdar telah berupaya memodernisasi terowongan angin barjeel tradisional yang menyalurkan angin ke pusat kota. Jalan-jalannya yang sempit dan teduh juga membantu menciptakan iklim mikro yang beberapa derajat lebih dingin daripada daerah sekitarnya, dan bangunan-bangunannya diorientasikan untuk memaksimalkan naungan.

Uni Emirat Arab menyebut Kota Masdar, yang berjarak sekitar 110 kilometer dari Dubai, sebagai contoh pembangunan perkotaan berkelanjutan dan merupakan bagian inti dari tujuan jangka panjang negara tersebut untuk mendiversifikasi ekonominya dari minyak.

Paris mengecewakan pengunjung ketika menutup Menara Eiffel selama gelombang panas bulan Juli lalu dan suhu sekali lagi mencapai 40 derajat Celcius pada bulan Agustus.

Kota ini memerangi panas ekstrem dengan menciptakan lebih dari 800 'pulau sejuk' – taman, hutan, kolam renang, dan museum – di sepanjang jalan setapak yang teduh untuk memberikan tempat istirahat bagi wisatawan dan menawarkan aplikasi interaktif, Extrema, yang memandu pengguna ke tempat sejuk terdekat.

Redaktur: Andreas Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.