Mapag Toya Sriharjo, Tradisi Menyambut Air dan Menjaga Harapan Petani
Kamis, 04 Jun 2026, 17:45 WIBBANTUL - Rombongan kirab bergerak menuju pintu air di Kalurahan Sriharjo, Imogiri, Bantul, Kamis (4/6). Di antara barisan bregada prajurit, petani, dan masyarakat yang mengikuti upacara adat Mapag Toya, tersimpan harapan yang sama: tersedianya air bersih yang cukup untuk mengawali musim tanam dan menjaga hasil panen tetap melimpah.
Tradisi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun itu kembali digelar sebagai bentuk rasa syukur sekaligus doa bersama agar sektor pertanian di Sriharjo mendapatkan keberkahan. Prosesi pembukaan pintu air menjadi simbol dimulainya pemanfaatan irigasi bagi lahan pertanian warga.
Bagi para petani, Mapag Toya memiliki makna yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satunya dirasakan Barman (75), petani asal Sriharjo yang sejak awal terlibat dalam gerakan menjaga kebersihan saluran irigasi.
âSudah ada sejak tahun 2013. Saya ikut dari awal. Ini bermula dari keresahan kita semua karena waktu itu irigasi untuk pertanian kotor sekali. Banyak sampah. Terutama sampah plastik,â tutur Barman.
Menurut dia, kondisi saluran irigasi yang dipenuhi sampah pernah menjadi persoalan serius karena berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian. Air yang tercemar membuat pertumbuhan tanaman tidak optimal dan berpengaruh pada kualitas hasil panen.
âPanen jadi jelek. Itu kalau padi. Kalau melon? Nggak bisa melon diberi irigasi dengan air kotor,â imbuhnya.
Tahun ini, penyelenggaraan Mapag Toya bertepatan dengan Gerakan Air Bersih (GIB) Tirta Amartani Kabupaten Bantul ke-13. Selain prosesi adat, kegiatan juga diisi sarasehan yang membahas pentingnya pengelolaan air dan adaptasi sektor pertanian terhadap perubahan iklim.
Lurah Sriharjo, Titik Istiyawatun Khasanah, mengatakan edukasi kepada petani menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan tersebut. Melalui sarasehan, petani diharapkan semakin memahami tantangan pertanian di masa depan dan cara menghadapinya.
âIni nanti juga ada sarasehan gerakan irigasi bersih dengan narasumber Prof. Sigit Supatmo Arif. Materi sarasehan juga dikaitkan dengan dengan perubahan iklim agar petani paham dan kita sama-sama tahu bagaimana menghadapi perubahan iklim, lalu bagaimana meresponsnya dalam dunia pertanian,â ujar Titik.
Menurut Titik, setiap tahapan dalam Mapag Toya mengandung pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan aktivitas pertanian. Karena itu, tradisi ini tidak hanya dimaknai sebagai ritual budaya, tetapi juga pengingat akan tanggung jawab bersama menjaga sumber air.
âMapag Toya itu, resik irigasine lan resik atine. Ini kan permulaan awal petani mengolah tanah yang tentu membutuhkan air, lalu lanjut ke proses berikutnya. Harapannya Tuhan Yang Maha Esa memberi kelancaran, memberi kesuburan, dan petani kita mendapat hasil melimpah,â pungkasnya.
Melalui Mapag Toya, masyarakat Sriharjo tidak hanya menyambut datangnya aliran air ke sawah-sawah mereka, tetapi juga merawat nilai gotong royong, kepedulian lingkungan, dan optimisme para petani dalam menghadapi musim tanam yang baru.
Berita Terkait:
-
10 Maskapai Kelas Ekonomi Terbaik di Dunia Tahun 2026 Menurut Skytrax
-
Dukung Urban Farming, Pemkot Tangerang Gelar Pelatihan Hidroponik
-
Kebakaran Hotel di Bangladesh Akibatkan 10 Wisatawan Tewas
-
Pasien Stroke Kini Akan Ditangani secara Lebih Modern di RSUD Bakti Pajajaran Bogor
-
Start dari Posisi Ketujuh, Veda Pratama Langsung Gas Pool di Moto3 GP Indonesia
-
Joshua Zirkzee Jadi Penentu Kemenangan Belanda atas Serbia
-
Legislator Sebut Mekanisasi Atasi Krisis Tenaga Kerja Sektor Pertanian
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.