ParagonCorp Manfaatkan Hasil Hutan Non-Kayu Demi Bioekonomi Berkelanjutan
Kamis, 04 Jun 2026, 17:50 WIBJAKARTA - Potensi hasil hutan non-kayu dinilai semakin penting dalam mendukung pengembangan bioekonomi berkelanjutan di Indonesia. Pemanfaatan sumber daya alam yang berasal dari hutan tanpa membuka lahan baru dianggap mampu menciptakan nilai ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dalam jangka panjang.
Salah satu komoditas yang mulai mendapat perhatian adalah illipe butter yang berasal dari buah pohon tengkawang (Shorea stenoptera) di Kalimantan Barat. Bahan alami tersebut dipanen oleh komunitas lokal dengan mengikuti siklus alami pohon sehingga tidak memerlukan aktivitas deforestasi maupun perubahan fungsi kawasan hutan.
ParagonCorp menilai pendekatan tersebut dapat menjadi contoh bagaimana kekayaan hayati Indonesia dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Selain memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan, model pemanfaatan hasil hutan non-kayu juga berkontribusi menjaga keseimbangan ekosistem yang menjadi sumber kehidupan berbagai spesies flora dan fauna.
âIndonesia memiliki kekayaan hayati yang luar biasa. Melalui forum ini kami ingin menunjukkan bahwa hutan yang tetap berdiri juga dapat menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat apabila dikelola secara bertanggung jawab,â ujar Deputy CEO & Chief R&D Officer ParagonCorp, dr. Sari Chairunnisa.
Menurut ParagonCorp, pengembangan bioekonomi berbasis hasil hutan non-kayu masih memiliki ruang yang sangat luas untuk dieksplorasi. Berbagai komoditas alami yang berasal dari kawasan hutan berpotensi memberikan nilai tambah bagi industri, termasuk sektor kecantikan, tanpa harus mengorbankan fungsi ekologis yang dimiliki hutan.
Selain menyoroti peluang ekonomi, perusahaan juga menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan kawasan hutan sebagai penopang sistem kehidupan. Hutan tidak hanya berfungsi sebagai penyimpan karbon dan penjaga keanekaragaman hayati, tetapi juga berperan dalam menjaga ketersediaan air serta menjadi sumber penghidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Sebagai bagian dari upaya konservasi, ParagonCorp bersama sejumlah mitra disebut telah mendukung perlindungan ribuan hektare kawasan hutan di Jambi dan Kalimantan. Kawasan tersebut menjadi habitat berbagai satwa penting seperti bekantan, beruang madu, rangkong gading, pangolin, hingga macan dahan Borneo yang keberadaannya perlu terus dijaga.
Pemanfaatan hasil hutan non-kayu dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk menciptakan keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Pendekatan ini memungkinkan masyarakat memperoleh manfaat langsung dari keberadaan hutan sehingga mendorong praktik pengelolaan sumber daya alam yang lebih bertanggung jawab.
âKami percaya masa depan industri tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menciptakan inovasi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga ekosistem dan komunitas yang mendukung inovasi tersebut. Perjalanan ini masih panjang, dan kami terus belajar untuk melangkah ke arah yang lebih baik,â tutup dr. Sari.
- Kalimantan Barat
- Keberlanjutan
- Konservasi Hutan
- Paragon Corp
- industri kecantikan Indonesia
- Bioekonomi
- Hutan non Kayu
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
BGN Setop Sementara 1.256 SPPG di Indonesia Timur Tanpa IPAL dan SLHS
-
Menteri PPPA Ungkap Sekolah Rakyat Bangkitkan Harapan Anak Kurang Mampu
-
Pemkab Tanah Datar Perkuat Kepemimpinan Desa, 75 Wali Nagari Ikut Retret IPDN
-
Dari Rendang Sampai Kafe Kekinian, Kuliner Padang Sumbang Rp5 Miliar ke PAD
-
Hadapi El Nino, Kementan Maksimalkan Puluhan Ribu Pompa Air di Lapangan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.