Harga Beras Anjlok, Mentan Klaim Petani Tetap Terlindungi

Sabtu, 23 Agu 2025, 23:25 WIB

SEMARANG - Harga beras memiliki keterkaitan langsung dan kompleks dengan kesejahteraan petani, karena beras bukan hanya komoditas pangan utama, melainkan juga sumber pendapatan terbesar bagi jutaan rumah tangga petani di Indonesia. 

Kenaikan harga beras pada tingkat konsumen dapat memberikan peluang peningkatan pendapatan bagi petani, tetapi hanya jika kenaikan tersebut benar-benar dirasakan di tingkat produsen. 

Ket. Foto: Ilustrasi - Pedagang beras. — Sumber: Antara.

Faktanya, rantai distribusi panjang dan dominasi tengkulak sering membuat margin keuntungan petani tetap tipis, sementara beban harga ditanggung konsumen.

Sebaliknya, penurunan harga beras justru menekan daya beli petani yang mayoritas juga berperan sebagai konsumen pangan. 

Ironisnya, banyak petani yang meskipun memproduksi beras, tetap harus membeli kembali untuk kebutuhan rumah tangga karena keterbatasan stok dan keterdesakan kebutuhan lain. Hal ini menciptakan paradoks: petani sebagai produsen utama justru rentan secara ekonomi ketika harga jatuh.

Analisis yang lebih dalam juga memperlihatkan bahwa kesejahteraan petani tidak hanya ditentukan oleh harga jual beras, tetapi juga oleh biaya produksi (pupuk, benih, sewa lahan, dan tenaga kerja). 

Ketika biaya terus meningkat, kenaikan harga beras di pasar tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan mereka. 

Oleh karena itu, stabilitas harga beras diikuti dengan kebijakan subsidi input pertanian, akses pembiayaan murah, serta jaminan pasar menjadi kunci untuk memastikan bahwa fluktuasi harga tidak merugikan petani.

Di tingkat makro, harga beras juga terkait erat dengan stabilitas ekonomi dan politik. Beras merupakan komoditas strategis dan sangat sensitif bagi inflasi pangan. 

Ketika harga beras melonjak, tekanan pada rumah tangga miskin meningkat, dan pemerintah sering dipaksa melakukan intervensi besar-besaran melalui impor maupun operasi pasar. 

Namun, kebijakan impor yang tidak tepat waktu juga bisa menghantam petani lokal karena menekan harga jual saat panen raya.

Dengan demikian, kesejahteraan petani dalam konteks harga beras harus dilihat dari perspektif sistem pangan yang utuh: bukan sekadar menjaga harga tetap rendah bagi konsumen, tetapi juga memastikan harga jual di tingkat petani cukup untuk memberikan margin hidup layak. 

Kebijakan ideal adalah menciptakan keseimbangan: harga yang stabil, pasar yang transparan, distribusi yang efisien, serta keberpihakan nyata pada petani sebagai garda terdepan ketahanan pangan nasional.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan penurunan harga beras di pasaran tidak akan berpengaruh terhadap turunnya kesejahteraan petani.

Menurut Amran, di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (22/8), tugas pemerintah tidak mudah untuk tetap menjaga petani tetap sejahtera dan konsumen bahagia.

Karena itu, Mentan memastikan harga pembelian gabah di tingkat petani dijaga minimal pada angka Rp6.500 per kilogram (kg).

Menurut dia, pemerintah telah bekerja keras menjaga agar semua pihak aman dan nyaman. "Jaga kondisi yang baik ini. Stok kita saat ini tertinggi, harga sekarang lebih rendah dibanding tahun sebelumnya," katanya lagi.

Bahkan, kata Mentan, hingga saat ini Indonesia tidak mengimpor di saat negara-negara lain kesulitan beras.

"Pemerintah sudah bekerja keras, mampu setop impor dalam waktu singkat," ujarnya pula.

Dia menyebut sedikit kontraksi harga yang terjadi saat ini sudah langsung direspons dengan upaya keras pemerintah.

Dalam dua hingga tiga pekan ke depan, ia optimistis harga beras masih akan turun lebih rendah.

Operasi pasar, kata dia pula, masih akan berlangsung hingga Desember 2025 mengingat persediaan beras masih sangat besar.

"Masyarakat sabar, persediaan masih sangat besar," katanya lagi.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.