• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Kekaisaran Gupta, Zaman Ke...

Kekaisaran Gupta, Zaman Keemasan India Kuno

Rabu, 20 Agu 2025, 07:37 WIB

PADA masa kejayaan Kekaisaran Gupta India mengalami kejayaan di bidang seni, arsitektur, sains, agama, dan filsafat. Chandragupta I (320 – 335 M) perluasan wilayah Kekaisaran Gupta dilakukan.  Setelah itu ia segera mengukuhkan dirinya sebagai penguasa berdaulat pertama kekaisaran tersebut.

Perang yang dilakukan menandai berakhirnya 500 tahun dominasi kekuatan provinsi dan keresahan yang dialami masyarakat setelah jatuhnya Dinasti Maurya. Perang yang dilakukan oleh Kekaisaran Gupta menjadi awal bagi periode kemakmuran dan pertumbuhan yang berlanjut selama dua setengah abad berikutnya, yang kemudian dikenal sebagai “Zaman Keemasan” dalam sejarah India.

Ket. Foto: Brhatsamhita , juga disebut Brihat samhita , adalah teks ensiklopedis Hindu karya Varahamihira yang berasal dari akhir abad ke-5 atau awal abad ke-6 Masehi. — Sumber: Foto Wikimedia Commons

World History menyebut, benih Kekaisaran Gupta telah ditaburkan setidaknya dua generasi lebih awal. Saat itu Srigupta, yang saat seorang raja daerah melakukan perluasan kekuasaan dan menjadi awal bagi kejayaan dinasti perkasa ini sekitar tahun 240 M.

Awal hingga Puncak

Tidak banyak yang diketahui tentang masa-masa awal dinasti Gupta ini. Catatan perjalanan dan tulisan para biksu Buddha yang sering mengunjungi wilayah ini merupakan sumber informasi paling tepercaya yang dimiliki tentang masa-masa tersebut.

Catatan perjalanan dari peziarah dari Tiongkok seperti Fa Hien (Faxian, sekitar 337 – 422 M), Hiuen Tsang (Xuanzang, 602 – 664 M), dan Yijing (I Tsing, 635 – 713 M) terbukti sangat berharga dalam memberikan informasi tentang kekaisaran tersebut.

Kekaisaran Gupta pada masa pemerintahan Srigupta (sekitar 240 – 280 M) hanya mencakup Magadha dan kemungkinan juga sebagian Benggala. Seperti Maurya dan raja-raja Magadha lainnya yang mendahuluinya, Srigupta memerintah dari Pataliputra, dekat Patna modern.

Srigupta digantikan takhta oleh putranya, Ghatotkacha (sekitar 280 – 319 M). Para penguasa wilayah di berbagai wilayah India tidak mampu melawan kekuatan bersenjata Chandragupta I yang superior dan terpaksa menyerah.

Chandragupta I

Dari bangsa Kushan, raja-raja Gupta mempelajari manfaat mempertahankan pasukan kavaleri, dan Chandragupta I, putra Ghatotkacha, memanfaatkan pasukannya yang kuat secara efektif. Melalui pernikahannya dengan Putri Licchhavi, Kumaradevi, Chandragupta I menerima kepemilikan tambang-tambang kaya yang penuh dengan bijih besi di dekat kerajaannya.

Metalurgi sudah berada pada tahap maju dan besi tempa tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga menjadi komoditas perdagangan yang berharga. Para penguasa wilayah di berbagai wilayah India tidak mampu melawan kekuatan bersenjata Chandragupta I dan terpaksa menyerah.

Diperkirakan bahwa pada akhir masa pemerintahannya, batas wilayah Kekaisaran Gupta telah meluas hingga ke Allahabad yang sekarang telah berganti nama menjadi Prayagraj. Allahabad terletak di negara bagian utara, Uttar Pradesh, yang dikuasai partai nasionalis Hindu, Bharatiya Janata Party (BJP).

Samudragupta

Samudragupta (sekitar 335 – 375 M), putra Chandragupta I yang kemudian naik takhta, adalah seorang jenius militer dan ia melanjutkan pertumbuhan kerajaan. Setelah menaklukkan sisa wilayah India Utara, Samudragupta mengalihkan perhatiannya ke India Selatan dan menambahkan sebagian wilayahnya ke dalam kekaisarannya pada akhir Kampanye Selatan.

Diyakini secara umum bahwa pada masanya, Kekaisaran Gupta membentang dari Himalaya di utara hingga muara Sungai Krishna dan Godavari di selatan, dari Balkh, Afghanistan di barat hingga Sungai Brahmaputra di timur.

Samudragupta sangat memperhatikan raj dharma (tugas seorang raja) dan sangat berhati-hati dalam mengikuti Arthashastra (risalah ekonomi, sosial, dan politik yang berisi instruksi jelas tentang bagaimana sebuah monarki seharusnya diperintah) karya Kautilya (350 – 275 SM).

Ia menyumbangkan sejumlah besar uang untuk berbagai tujuan filantropi, termasuk untuk memajukan pendidikan. Selain menjadi raja yang berani dan administrator yang cakap, ia juga seorang penyair dan musisi.

Banyaknya koin emas yang diedarkan menunjukkan bakatnya yang beragam. Sebuah prasasti, yang kemungkinan besar ditugaskan oleh raja-raja Gupta berikutnya, yang dikenal sebagai Pilar Allahabad, paling fasih menggambarkan kualitas kemanusiaannya.

Samudragupta juga percaya pada pentingnya membangun niat baik di antara berbagai komunitas agama. Ia memberikan, misalnya, izin dan dukungan kepada Meghavarna, raja Ceylon, untuk pembangunan sebuah biara di Bodh Gaya.

Chandragupta II

Perebutan kekuasaan yang singkat tampaknya terjadi setelah masa pemerintahan Samudragupta. Putra sulungnya, Ramagupta, menjadi raja Gupta berikutnya. Hal ini dicatat oleh penulis Sansekerta abad ke-7 Masehi, Banbhatta, dalam karya biografinya, Harshacharita.

Kisah selanjutnya menjadi bagian dari drama Devi Chandra Guptam karya penyair dan penulis naskah Sansekerta Visakh Dutta. Konon, Ramagupta segera dikalahkan oleh raja Skithia dari Mathura. Namun, raja Skithia, selain kerajaannya sendiri, juga tertarik pada Ratu Dhruvadevi, seorang cendekiawan ternama.

Demi menjaga perdamaian, Ramagupta menyerahkan Dhruvadevi kepada lawannya. Adik Ramagupta, Chandragupta II, bersama beberapa ajudan dekatnya, kemudian pergi menemui musuh dengan menyamar.

Ia menyelamatkan Dhruvadevi dan membunuh raja Skithia. Dhruvadevi secara terbuka mengecam suaminya atas perilakunya. Akhirnya, Ramagupta dibunuh oleh Chandragupta II, yang kemudian juga menikahi Dhruvadevi.

Seperti Samudragupta, Chandragupta II (sekitar 380 – 414 M) adalah seorang raja yang baik hati, pemimpin yang cakap, dan administrator yang terampil. Dengan mengalahkan satrap Saurashtra, ia memperluas kerajaannya hingga ke pesisir Laut Arab. Upayanya yang berani membuatnya mendapatkan gelar Vikramaditya.

Untuk memerintah kekaisaran yang luas dengan lebih efisien, Chandragupta II mendirikan ibu kota keduanya di Ujjain. Ia juga merupakan pelindung seni dan budaya yang hebat. Beberapa cendekiawan terhebat pada masanya, termasuk navaratna (sembilan permata), menghiasi istananya. Banyak lembaga amal, panti asuhan, dan rumah sakit yang mendapatkan manfaat dari kemurahan hatinya.

Rumah peristirahatan bagi para pelancong didirikan di pinggir jalan. Kekaisaran Gupta mencapai puncaknya pada masa ini dan kemajuan yang belum pernah terjadi sebelumnya menandai semua bidang kehidupan. Politik & Administrasi

Kebijaksanaan dan visi yang luar biasa ditunjukkan dalam pemerintahan kekaisaran yang luas. Efisiensi sistem militer mereka sudah teruji. Kerajaan yang besar itu dibagi menjadi pradesha (provinsi) yang lebih kecil dan kepala-kepala administrasi ditunjuk untuk mengurusnya. Para raja menjaga disiplin dan transparansi dalam proses birokrasi.

Hukum pidana ringan, hukuman mati jarang terdengar, dan penyiksaan hukum tidak dilakukan. Fa Hien menyebut kota Mathura dan Pataliputra sebagai kota yang indah, dengan Pataliputra digambarkan sebagai kota bunga. Orang-orang dapat bergerak bebas. Hukum dan ketertiban berlaku dan, menurut Fa Hien, insiden pencurian dan perampokan jarang terjadi.

Hal-hal berikut juga menunjukkan kehati-hatian raja-raja Gupta. Samudragupta memperoleh wilayah India selatan yang jauh lebih luas daripada yang ingin ia masukkan ke dalam kekaisarannya. Oleh karena itu, dalam beberapa kasus, ia mengembalikan kerajaan kepada raja-raja aslinya dan hanya puas dengan memungut pajak dari mereka.

Kemunduran Kekaisaran

Setelah kematian ayahnya, Chandragupta II, Kumaragupta I (sekitar 415 – 455 M) memerintah kekaisaran yang luas dengan keterampilan dan kemampuan. Ia mampu menjaga perdamaian dan bahkan menangkis tantangan berat dari suku yang dikenal sebagai Pushyamitra. Ia dibantu oleh putranya yang cakap, Skandagupta (455 – 467 M), yang merupakan penguasa berdaulat terakhir dari Dinasti Gupta.

Ia juga berhasil mencegah invasi bangsa Hun (Hephthalites). Skandagupta adalah seorang cendekiawan besar dan penguasa yang bijaksana. Demi kesejahteraan penduduknya, ia melaksanakan beberapa pekerjaan konstruksi, termasuk pembangunan kembali bendungan di Danau Sudarshan, Gujarat. Namun, ini adalah masa-masa terakhir kejayaan kekaisaran.

Setelah kematian Skandagupta, dinasti tersebut terlibat dalam konflik domestik. Para penguasa tidak memiliki kemampuan seperti kaisar-kaisar sebelumnya untuk memerintah kerajaan sebesar itu. Hal ini mengakibatkan kemunduran hukum dan ketertiban. Mereka terus-menerus diganggu oleh serangan bangsa Hun dan kekuatan asing lainnya. Hal ini menggerogoti kesejahteraan ekonomi kekaisaran.

Selain itu, para raja lebih sibuk memanjakan diri daripada bersiap menghadapi tantangan musuh-musuh mereka.

Bangsa Hun kemudian kembali menghantui kekaisaran dan akhirnya menutup kerajaan yang gemilang ini pada sekitar tahun 550. hay

  • Kekaisaran Gupta

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.