- Home
-
- Luar Negeri
-
- Raja Malaysia Peringatkan ...
Raja Malaysia Peringatkan Kemenhan agar Jangan Menempatkan Pilot dalam 'Peti Mati Terbang'
Minggu, 17 Agu 2025, 19:42 WIBKUALA LUMPUR â Raja Malaysia, Sultan Ibrahim Iskandar, pada Sabtu (16/8) mengeluarkan peringatan keras kepada Kementerian Pertahanan agar tidak mengulangi kesalahan masa lalu dalam pengadaan aset militer, khususnya pesawat bekas yang dapat membahayakan nyawa pilot dan personel militer.
Dari The Straits Times, Sultan Ibrahim mengatakan, pengalaman Malaysia dalam membeli jet tempur Skyhawk bekas harus menjadi pelajaran, karena pesawat tersebut tidak dapat digunakan sepenuhnya.
"Jangan ulangi kesalahan masa lalu seperti saat kita membeli Skyhawk bekas... Apakah kita akan menempatkan pilot kita di 'peti mati terbang'? Pikirkan sendiri," katanya.
"Saya yakin semua ini terjadi karena Kementerian Pertahanan penuh dengan agen atau mantan jenderal yang beralih profesi menjadi pedagang, bahkan pedagang tekstil yang mencoba menjual drone," ujar Sultan Ibrahim pada parade peringatan 60 tahun Rejimen Gerak Khas (RGK) di Kem Iskandar, 16 Agustus lalu.
A-4 Skyhawk, yang dikembangkan oleh McDonnell Douglas (sekarang Boeing), berkaitan erat dengan Angkatan Udara Kerajaan Malaysia, yang memperoleh 80 unit dari AS pada tahun 1982 dengan harga masing-masing 1 juta dolar, sebelum memensiunkan armada tersebut karena tingkat kecelakaan yang tinggi.
Sultan Ibrahim yang juga Kolonel Komandan Gerup Gerak Khas, lebih lanjut menyarankan Menteri Pertahanan untuk membatalkan rencana pembelian helikopter Black Hawk yang usianya lebih dari 30 tahun, karena khawatir kesalahan yang sama akan terulang.
Berhenti 'membeli omong kosong'
Ia mengatakan semua pihak yang terlibat dalam pengadaan militer harus memastikan evaluasi dilakukan secara transparan, berdasarkan harga pasar dan kebutuhan riil angkatan bersenjata, dan bukan sekadar berdasarkan rekomendasi agen atau kepentingan tertentu.
"Jangan buang waktu membeli omong kosong yang tidak sesuai dengan kebutuhan militer. Kalau tidak tahu harganya, tanya saya dulu," katanya.
âLima tahun lalu, saya menunjukkan pembelian kapal serbu kaku untuk pasukan komando seharga 5 juta ringgit, padahal saya bisa mendapatkan kapal yang lebih baik dengan harga di bawah 2 juta ringgit,â ujarnya.
"Baru-baru ini, saya mendengar ada usulan untuk membeli kapal serupa, tetapi ukurannya lebih besar, dengan harga hampir 10 juta ringgit. Ini tidak masuk akal dan harus ditinjau ulang dengan cermat."
Ia menekankan bahwa jika semua pembelian aset dilakukan dengan harga âperantaraâ yang meningkat, maka alokasi pemerintah tidak akan pernah mencukupi.
"Karena itu, jangan coba-coba membodohi saya. Kalau kamu tidak mau mendengarkan nasihat saya, saya tidak akan bicara lagi," katanya.
Selain menyoroti perlunya transparansi harga, Sultan Ibrahim juga mengkritik keterlambatan proyek kolam selam tempur di Kamp RGK yang seharusnya selesai pada tahun 2022 namun hingga kini belum beroperasi.
Pada saat yang sama, ia mendesak pemerintah untuk memprioritaskan pengadaan peralatan baru guna memastikan kesiapan RGK tetap prima, sehingga memungkinkan respons cepat terhadap segala ancaman.
- Boeing
- Black Hawk
- Kepolisian Malaysia
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Realisasi Anggaran Infrastruktur hingga September 2025
-
Kejadian Unik! 23 Pemain Dikartu Merah Massal pada Pertandingan Bola Brasil, Ini Kronologinya
-
Warga Kasemen Serang Sahur di Tengah Kepungan Banjir
-
Menag Nasaruddin Umar Salat Tarawih di Masjid Negara IKN, Ajak Umat "Naik Kelas" Selama Ramadan
-
Kepolisian Malaysia Tangkap Pasutri yang Eksploitasi Pekerja RI Selama 20 Tahun, Ini Kata Menteri P2MI!
-
Pekan Kedua Maret, Harga BBM Pertamina, Shell, BP, Vivo Masih Stabil
-
Disiapkan untuk Hadapi Invasi Tiongkok di Taiwan, Angkatan Darat AS Pertahankan Black Hawk Hingga 2050
Berita Terbaru
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.