Beras SPHP Mengalir Deras, Kementan Target 7.000 Ton Setiap Hari

Jumat, 15 Agu 2025, 21:59 WIB

JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) menetapkan target ambisius untuk mendistribusikan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) hingga 7.000 ton per hari. 

Langkah ini dirancang sebagai strategi ganda: menjaga ketersediaan beras di pasar dan menahan laju kenaikan harga yang kerap dipicu fluktuasi pasokan.

Ket. Foto: Penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dilakukan oleh Perum Bulog. — Sumber: ANTARA/Maria Cicilia Galuh

Distribusi harian dalam skala besar tersebut diharapkan mampu memperkuat cadangan beras pemerintah sekaligus memperlancar suplai ke daerah-daerah yang rawan kekurangan stok. 

Dengan demikian, tekanan inflasi dari sektor pangan dapat ditekan, khususnya menjelang periode rawan harga seperti musim paceklik atau menjelang hari besar keagamaan.

Kebijakan ini juga menjadi bagian dari respons pemerintah terhadap dinamika pasar beras global dan domestik, termasuk potensi gangguan produksi akibat perubahan iklim. 

Melalui distribusi SPHP yang masif dan terukur, Kementan berupaya memastikan stabilitas harga, menjaga daya beli masyarakat, serta melindungi petani dan konsumen dari gejolak pasar.

"Ada target capaian hariannya. Ini sekarang sudah di atas 3.000 ton per hari, kita target 7.000 ton per hari," ujar Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono saat ditemui seusai Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2025, di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (15/8).

Sudaryono mengatakan pendistribusian beras SPHP sangat penting di masa tidak ada panen raya saat ini, sebagai upaya untuk menstabilkan harga beras di pasaran.

"Di masa sekarang ini, dimana masa sekarang tidak ada panen, ini penting untuk penstabilan harga. Ini kan sebetulnya siklus biasa tahunan, siklusnya selalu ada dan kita harus lebih siap," ujar Sudaryono.

Pihaknya memastikan pemerintah siap untuk mencapai target distribusi beras SPHP sebanyak 7.000 ton per hari tersebut, seiring cadangan beras nasional yang memadai.

"Kenapa kita harus lebih siap. Dan kita siap saat ini karena kita punya cadangan berasnya," ujar Sudaryono.

Ia menjelaskan, peningkatan distribusi beras SPHP akan dilakukan secara bertahap, di antaranya awalnya sebanyak 2.000 ton per hari, dan saat ini telah meningkat menjadi 3.000 ton per hari, kemudian akan ditingkatkan menjadi sebanyak 7.000 ton per hari.

"Target 7.000 per hari ini kan naik terus tiap hari. Mulai dari awalnya 2.000 ton per hari, sekarang sudah 3.000 sekian, terus kita tingkatkan terus," ujar Sudaryono.

Ketua Komisi IV DPR Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto meminta Perum Bulog mempercepat penyaluran beras melalui program SPHP secara merata ke seluruh daerah.

"(Program) SPHP-nya jalan terus. Kita minta supaya cepat selesai, cepat dihabiskan," ujar Titiek.

Ia mengatakan sejauh ini hasil pemantauan pihaknya di sejumlah daerah, termasuk Sulawesi Selatan, menunjukkan penyaluran SPHP telah berjalan.

Meski demikian, ia menekankan agar Bulog segera mengeluarkan stok-stok lama di gudang agar perputaran pasokan berjalan lancar.

Menjelang peringatan 80 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, program pendistribusian beras SPHP yang dijalankan Perum Bulog secara masif di seluruh wilayah mulai membuahkan hasil positif.

Harga beras di pasar berangsur turun, yang diikuti penurunan harga gabah di tingkat petani setelah sebelumnya sempat melambung tinggi.

Data Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat, dalam periode 1-14 Agustus 2025, harga GKP terkoreksi di sejumlah wilayah, antara lain: Aceh dari Rp7.750 menjadi Rp6.900 per kilogram, Jambi dari Rp6.867 menjadi Rp6.720/kg; Sumatera Selatan dari Rp6.666 menjadi Rp6.543/kg; Jawa Tengah dari Rp6.814 menjadi Rp6.809/kg; DIY dari Rp6.608 menjadi Rp6.547/kg; Banten dari Rp6.527 menjadi Rp6.500/kg; Kalimantan Selatan dari Rp6.581 menjadi Rp6.533/kg; dan Sulawesi Barat dari Rp6.759 menjadi Rp6.730/kg.

  • Beras SPHP

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.