- Home
-
- Luar Negeri
-
- Studi: Suhu Panas Ekstrem ...
Studi: Suhu Panas Ekstrem Picu Penurunan Jumlah Burung Tropis
Selasa, 12 Agu 2025, 19:00 WIBPARIS â Sebuah studi yang diterbitkan pada Senin (11/8), di jurnal Nature Ecology & Evolution menyebutkan, populasi burung tropis telah menurun drastis tidak hanya akibat penggundulan hutan tetapi juga panas ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim. Â
Meningkatnya suhu menyebabkan penurunan populasi burung tropis sebesar 25 persen hingga 38 persen antara tahun 1950 dan 2020, dibandingkan dengan skenario tanpa pemanasan global buatan manusia, menurut laporan para ilmuwan yang berbasis di Eropa dan Australia.
"Temuannya cukup mengejutkan," ujar penulis utama studi, Maximilian Kotz, peneliti di Pusat Superkomputer Nasional di Barcelona dan Institut Penelitian Dampak Iklim Potsdam.
Populasi burung di daerah tropis sekarang menghadapi 30 hari cuaca panas ekstrem per tahun, dibandingkan dengan tiga hari per tahun pada pertengahan abad ke-20, katanya.
âHal ini berdampak besar pada cara kita berpikir tentang konservasi keanekaragaman hayati,â ujar Kotz melalui email. âMelindungi habitat asli memang krusial, tetapi tanpa mengatasi perubahan iklim, hal itu tidak akan cukup bagi burung.â
Hampir setengah dari semua spesies burung ditemukan di wilayah tropis yang kaya keanekaragaman hayati.
Hewan-hewan yang berwarna-warni ini melakukan layanan penting bagi ekosistem, seperti menyebarkan benih tanaman.
Spesies invasif merupakan ancaman lain
Namun burung yang hidup di wilayah ini mungkin sudah âhampir mencapai batasâ toleransinya terhadap suhu tinggi, yang dapat menyebabkan sengatan panas (hipertermia) atau dehidrasi.
Studi ikhtisar tidak memberikan angka untuk spesies individual, tetapi literatur sebelumnya kaya dengan contoh dampak buruk kenaikan suhu.
Yang satu mendokumentasikan penurunan jumlah burung di Panama akibat panas, termasuk burung quetzal raja, burung quetzal jambul merah, burung kingfisher dua warna, dan burung trogon aurora.
Studi lain yang diterbitkan pada tahun 2017 menunjukkan bagaimana beberapa burung kolibri tropis kini terpaksa mencari tempat teduh untuk mengatur suhu tubuh mereka dalam cuaca panas ekstrem, sehingga mengurangi jumlah waktu yang dapat mereka habiskan untuk mencari nektar yang dapat menopang kehidupan.
Gelombang panas ekstrem, yang semakin sering terjadi, menimbulkan ancaman yang jauh lebih besar daripada peningkatan suhu rata-rata atau curah hujan, yang merupakan akibat lain dari perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.
Hingga saat ini, diasumsikan bahwa penurunan populasi burung di seluruh dunia terutama disebabkan oleh faktor-faktor lain yang teridentifikasi dengan baik, terutama hilangnya habitat, penggunaan pestisida, perburuan dan spesies invasif, terutama ular yang memakan telur burung dan nyamuk pembawa malaria burung.
Namun, temuan baru ini âmenantang pandangan bahwa tekanan langsung manusia sejauh ini menjadi pendorong utama dampak terhadap populasi burung dibandingkan dengan perubahan iklim di wilayah tropisâ, menurut para penulis.
Untuk mencapai kesimpulan ini, mereka menganalisis data observasi dari lebih dari 3.000 populasi burung di seluruh dunia dan menggunakan pemodelan statistik untuk mengisolasi dampak cuaca ekstrem dari faktor-faktor lain.
Temuan ini membantu melengkapi gambaran penurunan jumlah burung tropis, kata Aimee Van Tatenhove, seorang peneliti pascadoktoral di Pusat Studi Populasi Unggas Universitas Cornell yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.
"Deforestasi memiliki dampak yang nyata â pohon ditebang dan habitatnya hancur," ujarnya kepada AFP. "Kita membutuhkan kumpulan data jangka panjang seperti yang digunakan para penulis untuk memahami bagaimana suhu ekstrem memengaruhi populasi burung."
âStudi ini merupakan pengingat penting bahwa kita perlu terus meneliti berbagai penyebab penurunan populasi dan menerapkan temuan tersebut pada inisiatif konservasi,â lanjutnya.
Redaktur: Andreas Tanjung
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Menlu: Iran Tak Akan Hentikan Pengayaan Nuklir
-
Pendidikan Kesetaraan bagi WBP di Lapas Banjarmasin
-
Perputaran Uang Lebaran Diperkirakan Capai Rp137 Triliun, Pemudik Turun 24 Persen
-
Dikecam Gara-gara Deepfake Foto Bugil, Chatbot Grok Batasi Fitur Edit Gambar AI Hanya untuk Pengguna Berbayar
-
Pemprov Pastikan Pengendalian Harga Jelang Puasa
-
Pemkot Depok Siapkan Sekolah Berkebutuhan Khusus di Eks SDN Pocin 1
Berita Terbaru
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.