• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Cedera ACL: Kapan Perlu Op...

Cedera ACL: Kapan Perlu Operasi dan Apa Keunggulan Artificial Ligament?

Kamis, 13 Agu 2026, 18:04 WIB

JAKARTA — Cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL) merupakan salah satu cedera lutut yang cukup sering terjadi, terutama pada aktivitas olahraga yang melibatkan perubahan arah secara tiba-tiba atau pendaratan dengan posisi yang kurang tepat. Kondisi ini tidak hanya dialami atlet profesional, tetapi juga dapat terjadi pada masyarakat yang berolahraga secara rekreasional.

Menurut dr. Christian Silas, Sp.OT (K), AIFO-K, Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Sports Injury RS Pondok Indah – Puri Indah, lutut memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas tubuh. Karena itu, cedera ligamen dapat mengganggu aktivitas sehari-hari maupun rutinitas olahraga dan membutuhkan penanganan yang tepat.

Ket. Foto: Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Sports Injury RS Pondok Indah – Puri Indah, dr. Christian Silas, Sp.OT (K), AIFO-K, saat memberikan pemaparan dalam acara diskusi media bertajuk Inovasi Penanganan Cedera Lutut dengan Artificial Ligament di Jakarta, Selasa (11/8). — Sumber: Koran Jakarta - Haryo Brono

“Cedera ACL terjadi ketika salah satu ligamen utama yang menopang sendi lutut mengalami robekan. Risiko cedera meningkat pada orang yang melakukan aktivitas fisik dengan intensitas tinggi. Perempuan juga disebut memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan laki-laki karena faktor anatomi tubuh,” tuturnya dalam acara diskusi media bertajuk Inovasi Penanganan Cedera Lutut dengan Artificial Ligament di Jakarta pada hari Selasa (11/8).

Sejumlah faktor lain yang dapat meningkatkan risiko antara lain olahraga high impact, riwayat cedera lutut, otot kaki yang kurang kuat, tingkat kebugaran yang buruk, kurang melakukan pemanasan, serta penggunaan sepatu yang tidak sesuai dengan aktivitas.

Diagnosis Ditentukan dari Gejala hingga MRI

“Diagnosis cedera ACL dilakukan melalui beberapa tahapan. Dokter terlebih dahulu melakukan wawancara medis untuk mengetahui kronologi cedera dan gejala yang muncul,” ucap dr. Christian.

Beberapa tanda yang dapat menyertai cedera ACL antara lain terdengar bunyi “pop” ketika cedera terjadi, lutut terasa bergeser, pembengkakan dalam beberapa jam pertama, rasa tidak stabil, hingga keterbatasan gerak lutut.

Pemeriksaan fisik kemudian dilakukan untuk menilai kestabilan lutut. Dokter dapat menggunakan sejumlah metode pemeriksaan, seperti Lachman Test, Anterior Drawer Test, Pivot Shift Test, atau Lever Sign Test, sesuai kondisi pasien.

Dalam kondisi tertentu, pemeriksaan penunjang seperti Magnetic Resonance Imaging (MRI) diperlukan untuk memastikan tingkat keparahan cedera maupun kemungkinan adanya gangguan lain pada lutut. Cedera ACL dikategorikan menjadi tiga tingkat, yakni derajat 1 dengan peregangan ligamen tetapi struktur masih relatif utuh, derajat 2 berupa robekan sebagian, dan derajat 3 ketika ligamen mengalami putus total atau terlepas dari tulang sehingga lutut kehilangan stabilitas.

Penanganan Disesuaikan Kondisi Pasien

“Penanganan cedera ACL terbagi menjadi metode non-bedah dan bedah. Pilihan terapi mempertimbangkan tingkat keparahan cedera, usia, tingkat aktivitas, serta kondisi masing-masing pasien,” paparnya.

Penanganan non-bedah dapat dipilih untuk cedera derajat 1 atau 2, pasien berusia lanjut, maupun individu dengan aktivitas fisik yang relatif rendah. Terapi dapat berupa fisioterapi untuk mengembalikan fleksibilitas dan memperkuat otot sekitar lutut, penggunaan knee brace atau kruk untuk mengurangi beban pada sendi, serta obat pereda nyeri atau antiradang sesuai resep dokter.

Sementara itu, rekonstruksi ACL melalui operasi umumnya dipertimbangkan pada pasien dengan robekan total, atlet, individu yang aktif berolahraga, atau pasien dengan lutut yang tidak stabil. Prosedur ini dilakukan dengan teknik artroskopi, yakni metode pembedahan minimal invasif menggunakan alat berukuran kecil untuk mengganti ligamen yang rusak dengan jaringan cangkok atau graft. Sebelum operasi, pasien biasanya menjalani fisioterapi praoperasi atau prehabilitation untuk mempersiapkan kekuatan otot dan pergerakan lutut.

Graft dapat berasal dari jaringan tubuh pasien sendiri atau autograft, seperti quadriceps, hamstring, tendon patella, dan tendon ankle. Alternatif lainnya adalah jaringan donor atau allograft. Jaringan tersebut kemudian ditempatkan melalui saluran pada tulang paha dan tulang kering sebelum difiksasi menggunakan sekrup khusus.

Artificial Ligament Tawarkan Alternatif Rekonstruksi

Selain menggunakan jaringan tubuh sendiri maupun donor, rekonstruksi ACL juga dapat menggunakan artificial ligament atau ligamen buatan. Material sintetik berbahan polietilen khusus tersebut digunakan untuk menggantikan ligamen yang mengalami kerusakan.

Menurut dr. Christian Silas, artificial ligament dirancang untuk menyerupai kekuatan mekanik ligamen manusia sehingga dapat membantu menstabilkan sendi dan mengembalikan mobilitas lutut. Pilihan ini dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu, antara lain ketika pasien membutuhkan pemulihan lebih cepat, jaringan tubuh yang tersedia kurang memadai, maupun dalam operasi revisi.

Salah satu perbedaan utama metode tersebut adalah tidak diperlukannya sayatan tambahan untuk mengambil jaringan dari tubuh pasien. Kondisi ini dapat mengurangi nyeri dan kelemahan sementara pada area pengambilan graft.

Artificial ligament juga disebut dapat memperpendek waktu tindakan karena dokter tidak perlu melakukan proses pengambilan jaringan. Ia menyebut waktu tindakan dapat lebih cepat sekitar 30–60 menit. Selain itu, artificial ligament memiliki kekuatan yang lebih tinggi dan konsisten serta menawarkan waktu pemulihan yang lebih cepat.

Pemulihan Bergantung pada Metode Rekonstruksi

Sebelum menjalani rekonstruksi ACL, pasien umumnya perlu menunggu pembengkakan berkurang dan rentang gerak lutut kembali normal. Kondisi tersebut biasanya membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu setelah cedera.

Fisioterapi praoperasi dapat dilakukan untuk memperkuat otot paha, khususnya quadriceps dan hamstring. Pasien juga menjalani pemeriksaan medis yang diperlukan, termasuk tes darah, rontgen dada, dan MRI. Persiapan operasi juga mencakup puasa selama 6–8 jam serta penghentian obat pengencer darah beberapa hari sebelum tindakan sesuai arahan dokter.

“Setelah operasi, proses pemulihan dilakukan secara bertahap berdasarkan kondisi pasien serta evaluasi dokter dan fisioterapis,” terangnya.

Pada rekonstruksi menggunakan jaringan tubuh sendiri, pemulihan dibagi menjadi lima fase. Dalam 12 minggu pertama, fokus diberikan pada pengendalian nyeri, pemulihan gerak, dan penguatan otot. Latihan kelincahan kemudian dapat dimulai pada bulan ketiga hingga keenam, sedangkan latihan khusus untuk kembali berolahraga (return to play) umumnya baru dilakukan mulai bulan keenam hingga ke-12 dan seterusnya.

Sementara itu, pemulihan setelah rekonstruksi menggunakan artificial ligament disebut berlangsung lebih cepat dan terdiri dari empat fase. Setelah melewati tahapan awal yang serupa selama 12 minggu pertama, pasien dapat memasuki latihan kelincahan sekaligus persiapan kembali berolahraga lebih awal, yakni mulai bulan ketiga hingga keenam dan seterusnya.

Meski demikian, waktu untuk kembali berolahraga atau melakukan aktivitas normal tetap harus ditentukan berdasarkan evaluasi kekuatan dan fungsi lutut oleh dokter spesialis ortopedi dan fisioterapis.

Pencegahan Tetap Menjadi Bagian Penting

“Cedera ACL tidak dapat sembuh dengan sendirinya, meski pasien dengan robekan ringan masih dapat beraktivitas dengan kondisi tersebut. Bagi atlet atau individu yang ingin kembali melakukan aktivitas fisik, rekonstruksi ACL direkomendasikan sesuai hasil evaluasi medis,” tegas dr. Christian.

Pencegahan dapat dilakukan dengan memperkuat otot kaki, paha, dan otot inti. Latihan seperti squat, lunge, dan glute bridge dapat dilakukan secara rutin dua hingga tiga kali seminggu. Teknik mendarat dan mengubah arah juga perlu diperbaiki, disertai latihan koordinasi dan keseimbangan.

“Selain itu, risiko cedera dapat dikurangi dengan menghindari gerakan pivot secara tiba-tiba, melakukan pemanasan dinamis sebelum olahraga, serta menggunakan sepatu yang sesuai dengan jenis aktivitas atau lapangan,” jelasnya.

Untuk artificial ligament, dr. Christian mengatakan, ligamen buatan tidak perlu diganti secara berkala karena bersifat permanen. Penggantian hanya diperlukan apabila terjadi kerusakan atau robekan kembali akibat trauma maupun kecelakaan baru.

Dengan demikian, pilihan rekonstruksi ACL perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Evaluasi dokter spesialis ortopedi konsultan sports injury dan fisioterapis tetap menjadi dasar dalam menentukan metode penanganan serta target pemulihan, termasuk kapan pasien dapat kembali beraktivitas secara normal atau berolahraga.

  • Fisioterapi
  • ortopedi
  • cedera acl
  • artificial ligament
  • Cedera Olahraga
  • RS Pondok Indah
  • Kesehatan Olahraga
  • Rekonstruksi ACL
  • Kesehatan Lutut
  • Sports Injury

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.