PCO: CKG Dorong Masyarakat Ubah Pola Pikir Kesehatan

Selasa, 12 Agu 2025, 02:30 WIB

JAKARTA - Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) tidak hanya seremonial, tapi strategi pencegahan penyakit yang berjangka panjang. Pemerintah ingin masyarakat sadar pentingnya menjaga kesehatan sejak dini, sebelum jatuh sakit.

"CKG itu titik start menuju merdeka dari penyakit," kata Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan/Presidential Communication Office (PCO), Hariqo Wibawa Satria, dalam siaran pers, Senin (11/8).

Ket. Foto: — Sumber: Istimewa

Ia menambahkan, program ini akan membentuk kesadaran kolektif tentang pentingnya hidup sehat.

Hariqo berharap, setiap ulang tahun kemerdekaan, bertambah pula jumlah warga yang merdeka dari penyakit. Pemerintah menyiapkan program kesehatan prioritas, mulai dari CKG hingga tunjangan dokter spesialis di daerah.

Indonesia sudah 80 tahun merdeka, namun beban penyakit masih berat dan menggerus produktivitas masyarakat. Biaya sosial dan ekonomi dari penyakit sangat besar, bahkan berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional.

"Data ini menegaskan bahwa kesehatan adalah investasi strategis, bukan sekadar pengeluaran sosial," kata Hariqo.

Studi menunjukkan, penyakit mengurangiProduk Domestik Bruto (GDP) hingga 6,5 persen pada 2015 dan bisa naik di 2030.

Biaya ekonomi dari rokok, obesitas, dan penyakit tropis mencapai ratusan triliun setiap tahun.

"Kerugian ini bisa ditekan jika masyarakat lebih sadar dan rutin cek kesehatan," ujar Hariqo.

Banyak anak menderita obesitas, diabetes, hingga gangguan mata akibat kurang edukasi kesehatan. "CKG itu bukan hanya pencegahan, tapi juga pendidikan kesehatan masyarakat," kata Hariqo.

Hariqo menekankan pentingnya mengubah pola pikir masyarakat tentang kesehatan. "Ibarat menempuh jarak 80 km, seseorang harus tahu kondisi tubuhnya,” ujar dia.

Melalui CKG, masyarakat diajak mengenali tubuh dan risiko penyakit sejak awal. Hal ini memperkuat budaya hidup sehat dalam keluarga.

"Program ini memicu percakapan tentang kesehatan di rumah, seperti halnya Program Makan Bergizi Gratis," ucap dia.

Semakin banyak penerima manfaat, semakin besar dampak budayanya.

Pemerintah menargetkan masyarakat bisa cek kesehatan rutin setahun sekali.

"Semua orang berhak mendapat layanan ini, tanpa terkecuali," kata Hariqo.

Ia menambahkan, makin tua usia Indonesia, makin besar kesadaran rakyat menjaga kesehatan. "Karena, menjaga kesehatan sama saja menjaga kemerdekaan," ujar dia.

CKG juga menjadi alat evaluasi sistem kesehatan nasional. Pemerintah bisa mengukur kesiapan fasilitas dan tenaga medis dari data CKG.

Tahun ini, pemerintah menargetkan peningkatan layanan di 32 RSUD. Tahun depan, menyusul 36 RSUD lainnya.

Presiden Prabowo juga meneken Perpres No. 81/2025 tentang tunjangan dokter spesialis di daerah terpencil.

"Ini bentuk dukungan nyata pemerintah untuk tenaga kesehatan," kata Hariqo.

Frederikus Jesly Maijai (21 tahun), penerima manfaat CKG, merasa program ini menyelamatkan dirinya dari keterpurukan.

"Saya kecewa karena harus tunda karier atlet karena TBC," kata Rickson, sapaan akrabnya.

Setelah ikut CKG, Rickson tahu langkah penyembuhan yang harus ia tempuh.

"Saya semangat bangkit lagi mengejar cita-cita," kata dia.

Kepala Puskesmas Bupul, Merauke, dr Libertine Mandala Putri, menilai CKG sangat membantu puskesmas. "Puskesmas bukan hanya kuratif, tapi juga preventif. Makanya CKG sangat membantu," ujar dia. ils/I-1

  • Kantor Komunikasi Kepresidenan RI (PCO)
  • Cek Kesehatan Gratis (CKG)

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.