Menkes Percepat Target 70.000 Dokter Spesialis
Selasa, 12 Agu 2025, 03:03 WIBMenkes dan Kemendiktisaintek berupaya untuk mempercepat capaian target 70 ribu dokter spesialis yang akan rampung dalam 10 hingga 15 tahun ke depan.
PADANG - Menteri Kesehatan (Menkes) bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) RI sedang mengupayakan percepatan pencapaian target 70.000 dokter spesialis permintaan Presiden Prabowo Subianto.
âPresiden memang meminta saya dan Mendiktisaintek Prof Brian untuk mempercepat target 70 ribu dokter spesialis dan ini sedang kita upayakan,â kata Menkes Budi Gunadi Sadikin di Kota Padang, Sumatera Barat, Senin (11/8).
Hal tersebut disampaikan Menkes RI saat memberikan kuliah umum pada Pembukaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat.
Untuk mempercepat target lulusan 70 ribu dokter spesialis, kata dia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan berbagai intervensi, salah satunya di sektor hospital based.
Pada saat bersamaan, lanjutnya, Kemendiktisaintek juga sedang mengupayakan percepatan menghasilkan dokter spesialis. Dari pembicaraan antara Menkes dengan Mendiktisaintek, kata dia, target serapan atau lulusan 70 ribu dokter spesialis tersebut diperkirakan rampung dalam kurun waktu 10 hingga 15 tahun ke depan. Namun kepala negara meminta tidak terlalu lama mengingat tingginya kebutuhan dokter spesialis di Tanah Air.âPak Presiden tidak mau (10-15 tahun) dan minta lebih cepat lagi,â ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin.
Pihaknya memahami desakan dan permintaan target 70 ribu dokter spesialis tersebut merupakan hal yang mendasar, karena menyangkut sisi kesehatan. Oleh karena itu kedua kementerian terkait terus berupaya merealisasikan arahan Presiden Prabowo.
Kemenkes telah melakukan perencanaan kebutuhan dokter spesialis hingga tahun 2032 dengan proyeksi kekurangan sekitar 70 ribu dokter spesialis. Akselerasi untuk kebutuhan dokter spesialis mutlak dilakukan karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.
Negara Lain
Dalam kesempatan itu, Menkes Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan sejumlah perbedaan implementasi pendidikan dokter spesialis di Indonesia dengan negara-negara maju atau negara lainnya di dunia. âTernyata memang di negara-negara lain itu, pendidikan dokter spesialis dilakukan di rumah sakit,â kata Menkes.
Setelah mengetahui perbedaan mendasar penerapan pendidikan dokter spesialis di Indonesia dengan negara lain, Menkes langsung melaporkan pada Presiden Prabowo. Menyikapinya, kepala negara meminta agar Indonesia melalui perguruan tinggi memperbanyak lulusan dokter spesialis. âTujuan Bapak Presiden agar lebih banyak dokter spesialis dan itu diutamakan dari putera dan puteri daerah,â kata Budi Gunadi Sadikin.
Ia menjelaskan pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit akan memprioritaskan daerah-daerah yang belum memiliki dokter spesialis. Dalam praktiknya, mereka mendapatkan pendidikan dengan kualitas atau standar yang baik. âJadi, kita juga menggunakan standar akreditasi dari Amerika Serikat,â kata dia.
Menkes dalam kesempatan itu juga mengatakan sedang mengupayakan dan membujuk Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Muâti agar memasukkan kurikulum kesehatan dasar ke setiap satuan pendidikan. âKita sedang membujuk Pak Mendikdasmen agar menjadikannya kurikulum wajib,â kata Menkes.
Menkes mengatakan dalam materi atau kurikulum tersebut, anak didik akan diajarkan cara bertindak ketika menghadapi situasi tidak terduga, seperti gempa bumi, menangani diri sendiri ketika terluka, pentingnya menjaga higienis, dan lain sebagainya.
Bahkan dalam kurikulum tersebut, kata dia, anak didik juga diajarkan untuk menegur atau menjelaskan kepada masing-masing orang tua perokok terkait bahaya terpapar asap rokok. âJadi, tujuannya agar setiap orang itu sejak dini sudah memahami pentingnya menjaga kesehatan,â kata Menkes.
Pendidikan tentang kurikulum kesehatan tersebut sudah dikerjakan dan diimplementasikan oleh Kemenkes pada 2023 yang bekerja sama dengan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendiktisaintek) yang pada saat itu dijabat oleh Nadiem Anwar Makarim.
Ia menyakini apabila kurikulum tentang kesehatan dimasukkan ke dalam ranah pendidikan, maka kesadaran masyarakat tentang kesehatan akan jauh lebih baik.
Terakhir Menkes mencontohkan keberhasilan Singapura dalam aspek kesehatan. Rata-rata penduduk di negara tersebut berusia 84 tahun atau lebih lama bila dibandingkan dengan Amerika Serikat yakni 79 tahun yang biaya kesehatannya jauh lebih tinggi. Hal itu tidak lepas dari keberhasilan pemerintah Singapura dalam memberikan pemahaman tentang pentingnya menjaga kesehatan. Ant/S-2
Redaktur: Sriyono
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
ASN Pemkot Jaktim Deklarasi Dukung Gerakan Masyarakat Punya APAR
-
Vietnam jadi Negara Pertama di Asia Tenggara yang Berlakukan UU “AI”
-
Perumda Dharma Jaya Berkomitmen Wujudkan Ketahanan Pangan dan Penyediaan Protein Hewani di DKI Jakarta
-
Peresmian Bunda Clinic MRT Dukuh Atas
-
Rencana penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis
-
Dewan Keamanan PBB akan Gelar Pertemuan Darurat Pasca Serangan Drone Russia di Polandia
-
Sidak ke Pabrik Ban Michelin, DPR: Hentikan Sementara PHK, Kembalikan Warga Bekerja!
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.