Nikel Bukan Cuma Diekspor! BKPM Minta Investor EV Bangun Industri Lokal

Rabu, 06 Agu 2025, 17:45 WIB

JAKARTA - Dalam upaya memperkuat rantai nilai industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) nasional, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/ BKPM secara aktif mendorong investor—khususnya produsen otomotif global—untuk membangun pabrik mobil listrik yang terintegrasi dengan produksi baterai berbasis nikel. 

Langkah ini merupakan bagian dari strategi industrialisasi hilirisasi sumber daya alam, di mana Indonesia sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia ingin memastikan bahwa mineral strategis tersebut tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, melainkan dimanfaatkan secara maksimal di dalam negeri.

Ket. Foto: Ilustrasi - Pabrik pengolahan nikel. — Sumber: Antara.

Dorongan ini tidak semata bersifat teknis, tetapi mengandung dimensi geopolitik dan ekonomi strategis: dengan menciptakan ekosistem industri EV domestik yang lengkap, Indonesia berharap dapat mengukuhkan posisinya sebagai pemain kunci dalam transisi energi global.

“Akhir tahun ini mereka kan sudah selesai kuota impornya. Nah, setelah itu mereka harus bikin pabriknya di Indonesia. Kami akan mendorong mereka menggunakan baterai NMC (nickel mangan cobalt),” ucap Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Nurul Ichwan ketika ditemui di sela-sela acara International Battery Summit, Jakarta, Rabu (6/8).

Nurul menyampaikan langkah tersebut bertujuan untuk memaksimalkan penjualan baterai berbasis nikel, sebab selama ini kendaraan listrik yang banyak di Indonesia menggunakan baterai berbasis lithium.

Dengan mendorong penggunaan baterai berbasis nikel, Nurul berharap pasar untuk baterai berbasis nikel akan meningkat, sehingga hasil hilirisasi nikel di Indonesia dapat terserap dengan baik.

“Regulasinya juga harus kami perbaiki untuk lebih mendorong kehadiran EV dengan menggunakan NMC, sehingga pasarnya menarik, barangnya diserap,” tuturnya.

Terkait dengan kebutuhan regulasi, Analis Kebijakan Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan Riznaldi Akbar menyampaikan Kementerian Keuangan sedang mengkaji kemungkinan pemberian insentif untuk kendaraan listrik yang menggunakan baterai berbasis nikel.

“Kalau di DJSEF masih dalam kajian,” ucap Riznaldi.

Sebelumnya, Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menyatakan, saat ini pihaknya tengah mendorong regulasi agar produsen kendaraan listrik (Electric vehicle/EV) di Indonesia untuk menggunakan baterai berbasis nikel, mengingat selama ini baterai yang digunakan berbasis lithium.

"Pelan-pelan kita juga mendorong regulasi untuk yang pabrik-pabrik EV Indonesia sekarang yang produsen mobilnya supaya shifting juga dari lithium base ke nickel base," kata dia ditemui usai acara International Battery Summit 2025 di Jakarta, Selasa (5/8).

Disampaikan dia, saat ini BUMN sudah masuk dalam proyek baterai kendaraan listrik, seperti proyek bersama dengan CATL dan Huayou, serta turut mendorong untuk menambah porsi investasi di industri antara (midstream).

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.