Tak Cuma Warisan Budaya, ‘Nyesek’ Jadi Harapan Ekonomi Baru!

Minggu, 27 Jul 2025, 23:40 WIB

LOMBOK TENGAH – Menenun adalah bagian tak terpisahkan dari warisan budaya suatu daerah atau kelompok masyarakat. Dengan melestarikan menenun, kita turut menjaga identitas budaya dan menghormati leluhur.

Indonesia memiliki berbagai macam teknik dan motif tenun yang unik. Pelestarian ini memperkaya keberagaman budaya Indonesia dan menjadi identitas bangsa.

Ket. Foto: Salah satu peserta Festival begawe jelo nyesek atau menenun masal di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi NTB, Minggu (27/07/2025). — Sumber: ANTARA/Akhyar Rosidi.

Di tengah pengaruh budaya asing, melestarikan budaya lokal, termasuk menenun, membantu memperkuat jati diri bangsa dan rasa bangga terhadap warisan budaya sendiri.

Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri meminta budaya nyesek atau menenun yang diusung dalam festival begawe jelo nyesek (menenun masal) tetap dilestarikan karena juga dapat berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.

"Menenun ini harus tetap dilestarikan, karena budaya bisa menggerakkan ekonomi," kata Pathul Bahri saat acara festival begawe jelo nyesek 2025 di Desa Sukarara di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (27/7).

Selain bisa menggerakkan ekonomi, budaya tersebut bisa menumbuhkan pariwisata, katanya, sehingga tradisi tersebut harus tetap dilestarikan untuk kesejahteraan masyarakat dan kemajuan pembangunan daerah.

Pathul mengatakan telah meminta pemerintah desa untuk memberikan edukasi kepada anak-anak generasi berikutnya untuk belajar menenun, agar budaya tersebut tetap dilestarikan dan dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Terkait festival menenun yang sudah ada sejak 2016 itu, ia mengatakan kegiatan itu harus dilaksanakan secara meriah. Pemerintah daerah akan menyiapkan anggaran di APBD untuk mendukung budaya menenun tersebut.

Mereka yang datang ke Desa Wisata Tenun tidak hanya wisatawan domestik karena, menurut Pathul, wisatawan luar negeri terus berdatangan untuk melihat tradisi budaya yang tetap dilestarikan masyarakat.

"Semoga kegiatan ini bisa menumbuhkan semangat masyarakat dalam melestarikan budaya tenun," katanya.

Sementara itu, Kades Sukarara Saman Budi mengatakan kegiatan festival begawe jelo nyesek memang bertujuan untuk melestarikan budaya nyesek, sehingga bisa memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.

"Jumlah penenun yang ikut di acara ini sebanyak 1.000 orang perempuan mulai dari remaja hingga lansia," katanya.

Menurut Saman, jumlah penenun di Desa Sukarara ada sekitar 3.000 ribu orang. Namun karena kapasitas lokasi acara yang terbatas, sehingga yang ikut sekitar 1.000 penenun saja.

"Semoga tradisi ini dapat terus dilestarikan," katanya.

Menurut dia, pembinaan dalam melestarikan budaya tenun bagi generasi muda tetap dilakukan. Tradisi nyesek tersebut tidak begitu sulit bagi bagi masyarakat, karena itu merupakan warisan leluhur secara turun temurun.

"Artinya anak-anak perempuan di desa ini bisa belajar dengan melihat dan memantau orang tua mereka dalam menenun atau nyesek. Mereka pasti bisa," katanya.

  • Budaya Nyesek atau menenun

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.