- Home
-
- Luar Negeri
-
- Sekjen Guterres Sampaikan ...
Sekjen Guterres Sampaikan Pencapaian Transisi Energi Bersih
Jumat, 25 Jul 2025, 01:00 WIBJAKARTA - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, telah menyampaikan laporan pencapaian upaya transisi mewujudkan energi yang bersih.
"Laporan ini menunjukkan kemajuan besar sejak Persetujuan Paris memicu revolusi energi bersih, dan manfaat besar serta langkah-langkah yang perlu diambil, untuk mempercepat transisi yang adil secara global," kata Sekjen Guterres, dalam teks pidato yang disampaikan Perwakilan PBB di Indonesia, Jakarta, Rabu (23/7) lalu.
Laporan khusus yang disusun bersama lembaga-lembaga PBB dan mitra seperti IEA, IMF, IRENA, OECD, dan Bank Dunia tersebut, ia sampaikan dalam pidato berjudul A Moment of Opportunity: Supercharging the New Energy Era di markas besar PBB di Kota New York, Selasa (22/7).
Dalam pidatonya itu, Sekjen Guterres menyampaikan bahwa energi terbarukan kini hampir setara dengan bahan bakar fosil dalam kapasitas daya terpasang secara global. Dan semua itu baru awal.
Tahun lalu, hampir seluruh pembangkit listrik baru berasal dari energi terbarukan. Setiap benua menambahkan lebih banyak kapasitas energi terbarukan dibanding bahan bakar fosil. Dan energi terbarukan telah menghasilkan hampir sepertiga dari listrik dunia.
"Masa depan energi bersih bukan lagi janji. Ini adalah kenyataan. Tidak ada pemerintah, industri, atau kepentingan khusus yang bisa menghentikannya," kata dia.
Sekjen Guterres pun mengatakan ada tiga alasan mengapa pengembangan energi bersih akan terus berkembang pesat. Pertama adalah karena ekonomi pasar.
Pada 2023 saja, sektor energi bersih, kata dia, mendorong 10 persen pertumbuhan PDB global, dengan India sebesar 5 persen; di Amerika Serikat sebesar 6 persen; di Tiongkok, yang merupakan pemimpin transisi energi, sebesar 20 persen; dan di Uni Eropa hampir 33 persen.
Jumlah pekerjaan di sektor energi bersih juga saat ini melebihi pekerjaan di sektor bahan bakar fosil, dengan hampir 35 juta pekerja di seluruh dunia.
Kemudian, alasan keduanya adalah karena energi terbarukan akan tetap ada karena menjadi dasar keamanan dan kedaulatan energi.
Ancaman Keamanan
Sekjen Guterres menyebutkan bahwa ancaman terbesar terhadap keamanan energi hari ini adalah bahan bakar fosil. Bahan bakar tersebut membuat negara dan rakyat rentan terhadap guncangan harga, gangguan pasokan, dan gejolak geopolitik.
"Lihat saja invasi Russia ke Ukraina. Satu perang di Eropa memicu krisis energi global. Harga minyak dan gas melonjak; tagihan listrik dan makanan ikut naik. Tahun 2022, rata-rata rumah tangga di dunia mengalami kenaikan biaya energi sebesar 20 persen," ungkap dia.
Padahal, ekonomi modern dan kompetitif, kata dia, butuh energi yang stabil dan terjangkau. Dan energi terbarukan, kata Guterres, menawarkan keduanya.
- transisi energi bersih
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.