Bila Tak Bermanfaat Buat Kehidupan Sehari-hari, AI Dibuang Saja

Jumat, 25 Jul 2025, 10:20 WIB

JAKARTA -  Tekonologi kecerdasan buatan (AI) harus bisa dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari. Kalau tidak ya untuk apa, buang saja.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mengatakan penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) harus bisa digunakan dengan ‘bahasa manusia’ dan bisa diadopsi untuk solusi kehidupan sehari-hari. Ini sebagai indikator sebuah startup berhasil mengoptimalkan AI di bisnisnya.

Ket. Foto: AI — Sumber: ist

“Bukan hanya menggunakan AI di pitch deck-nya, tapi benar-benar menggunakan AI di kehidupan sehari-harinya dari bisnis tersebut. Itu buat aku menjadi indikator kesuksesannya ya,” kata Irene dalam acara Kick Off Semesta AI Lintasarta bersama NVIDIA Inception di Jakarta, Kamis.

Irene mengatakan internet saat ini sudah dirasakan oleh banyak orang, maka harus juga berdampak pada kehidupannya. Di situlah perlunya kehadiran AI untuk bisa memberikan solusi dari kasus sebenarnya (real case) yang dibutuhkan masyarakat.

Menurutnya, penggunaan AI selain hanya untuk estetika atau hiburan juga harus bisa mendorong ekonomi. Hal itu membutuhkan tangan manusia untuk bisa mengembangkannya.

“Dengan adanya AI akan nge-boost ke kreativitas, bukan hanya teknologi yang kita lihat, tapi percepatan waktu juga. Tapi yang perlu kita garisbawahi, AI tidak akan mengganti yang namanya manusia,” katanya.

AI perlu memiliki dampak ekonomi dan masyarakat yang menggunakan AI juga memerlukan infrastruktur yang berdampak bagi penggunanya. Irene mengatakan dengan adanya Semesta AI yang digagas Lintasarta dengan program Laskar AI maka perusahaan yang bergerak di bidang digital dapat mengenali teknologi baru dan bisa menggunakannya dengan optimal.

“Dengan 280 juta populasi Indonesia dan kontribusi AI kita bisa memiliki 1 juta sumber produktif bisa memiliki 2 juta, tergantung seberapa cepat kita bisa menyelesaikan masalah ini,” kata Irene

Ia juga mendorong para startup untuk mendatangi perusahaan hardware yang mengikuti perkembangan zaman untuk menghindari kesenjangan talenta pada zaman yang semakin maju.

Masyarakat yang bisa beradaptasi dengan teknologi AI juga nantinya akan bisa menciptakan AI sehingga bisa menciptakan Indonesia Emas 2045 dengan produktivitas yang tidak hanya matang di Indonesia namun bisa menembus pasar internasional.

Sementara itu, Gubernur Jakarta Pramono Anung Wibowo mengakui kehadiran kecerdasan buatan dalam  membantu untuk membangun Jakarta menjadi kota lebih baik.

"Salah satunya, kehadiran AI mampu menurunkan peringkat Jakarta sebagai kota termacet di Indonesia," katanya saat Workshop Penyusunan Roadmap Implementasi AI di Jakarta, di Balai Kota Jakarta, Kamis.

Dengan demikian, bukan semata-mata karena Transjabodetabek, tetapi AI juga membantu. Menurutnya, untuk mengatasi kemacetan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta melalui Dinas Perhubungan (Dishub) Jakarta sudah menggunakan AI yakni Intelligent Traffic Control System (ITCS) dalam pengaturan lalu lintas.

Pramono menyebutkan, meski kini baru 65 dari 321 titik di Jakarta yang dipasang ITCS, namun hal ini sudah membawa dampak yang signifikan untuk Jakarta. Terbukti, Jakarta kini menjadi kota kelima termacet di Indonesia. Tak hanya itu, Pramono menuturkan birokrasi di Jakarta sudah seharusnya beradaptasi dengan perubahan zaman.

  • kecerdasan buatan (AI)

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.