Efek ‘Rojali’: Nongkrong Doang, Tapi Bikin F&B Cuan Gede!
Rabu, 23 Jul 2025, 22:15 WIBJAKARTA â Perilaku konsumen yang berubah membutuhkan pendekatan pemasaran yang berbeda. Misalnya, peningkatan belanja online mendorong bisnis untuk mengoptimalkan platform digital mereka.
Memahami bagaimana konsumen berinteraksi dengan berbagai saluran pemasaran memungkinkan perusahaan untuk menargetkan audiens dengan pesan yang lebih relevan dan personal.
Pergeseran perilaku konsumen juga memengaruhi bagaimana bisnis berinteraksi dengan pelanggan mereka.
Memahami kebutuhan dan harapan pelanggan memungkinkan bisnis untuk membangun hubungan yang lebih kuat dan langgeng
Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mengatakan fenomena ârombongan jarang beli" alias rojali, ketika pengunjung pusat perbelanjaan lebih banyak melihat daripada berbelanja, membuat omzet bisnis minuman dan makanan (F&B) naik 5â10 persen.
Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah menyebut fenomena ârojaliâ ini sebagai berkah bagi sektor F&B di tengah pergeseran perilaku konsumen yang cenderung berbelanja daring.
"Karena nongkrong pasti lihat minuman makanan beli. Kan enggak mungkin duduk enggak beli," ujar Budihardjo dalam acara Hari Retail Modern Indonesia di Jakarta, Rabu.
Senada dengan Budihardjo, Direktur Bina Usaha Perdagangan Kementerian Perdagangan Septo Soepriyatno menjelaskan fenomena ârojaliâ ini telah muncul sejak pandemi COVID-19.
Masyarakat mengalami perubahan perilaku; setelah terbiasa di rumah, mereka mulai mencari kepuasan interaksi sosial di luar.
Melihat fenomena tersebut, Septo mengatakan konsep pusat perbelanjaan pun berevolusi. Mal kini tidak lagi sekadar tempat belanja, tetapi juga berfungsi sebagai ruang rekreasi, hiburan, pengalaman, dan interaksi sosial.
âContoh adalah Plaza Semanggi, sudah berubah menjadi Plaza Nusantara. Konsepnya berubah total. Mereka menciptakan ruang-ruang yang memang dibutuhkan oleh masyarakat untuk berinteraksi. Nah itu yang sangat diperlukan sekarang,â kata Septo.
Menurut Septo, meskipun pengunjung Rojali mungkin tidak langsung membeli produk fesyen di toko, mereka seringkali memanfaatkan toko sebagai showrooming untuk melihat barang secara langsung sebelum akhirnya membeli secara daring.
Ia menyebut para peritel pun telah beradaptasi dengan memanfaatkan model omnichannel, yakni menjual produk baik di toko fisik maupun secara daring.
âSebenarnya secara keseluruhan, omset pedagang naik. Tetapi memang ada pergeseran, ada yang (menjual) online. Ini informasi yang kami dapat dari para pengusaha,â katanya.
- rombongan jarang beli (rojali)
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Menerapkan Sistem Merit untuk ASN
-
Dua Gol dari Darwin Nunez Antar Liverpool Taklukkan Brentford di Lanjutan Laga Liga Inggris
-
RRQ Hoshi Tersingkir di Babak Playoff ESL MLBB Season 6
-
Begini Penjelasan BI DKI Jakarta Terkait Fenomena Rojali dan Rohana
-
Tetap Muda dengan Kurangi Kalori
-
Banjir Jakarta Mulai Surut, namun 24 RT Masih Terendam
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.