Indonesia Gandakan Impor Gandum AS, Dorong Petani Kansas dan Perdagangan Global

Senin, 21 Jul 2025, 14:20 WIB

JAKARTA — Industri gandum Amerika Serikat mendapatkan dorongan signifikan setelah Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (APTINDO) menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan US Wheat Associates (USW). Kesepakatan ini mencakup komitmen untuk menggandakan impor gandum dari AS menjadi 1 juta metrik ton per tahun hingga 2030.

Langkah strategis ini menjadi angin segar bagi para petani gandum di negara bagian Kansas, yang merupakan produsen utama jenis gandum Hard Red Winter (HRW). Selama sepuluh tahun terakhir, HRW telah menyumbang sekitar 27 persen dari total ekspor gandum AS ke Indonesia.

Ket. Foto: — Sumber: Getty Images

APTINDO sebelumnya mengimpor rata-rata 500.000 metrik ton gandum AS per tahun dalam lima tahun terakhir. Namun, untuk periode 2024/2025, volume pengiriman telah melonjak melampaui 792.000 metrik ton, menandakan permintaan yang meningkat tajam.

Dengan MoU ini, APTINDO berkomitmen untuk meningkatkan volume pembelian menjadi minimal 800.000 metrik ton mulai tahun 2025. Jumlah tersebut akan terus meningkat menjadi 1 juta metrik ton per tahun, dengan nilai perdagangan diperkirakan mencapai 250 juta dolar AS.

Kesepakatan tersebut difasilitasi oleh selesainya pembahasan mengenai standar sanitasi dan fitosanitasi (SPS) yang sebelumnya menjadi kendala utama dalam ekspor. Perubahan kebijakan ini, termasuk dalam hal fumigasi dan ketertelusuran, berhasil disepakati pada Juni 2025 setelah 18 bulan koordinasi antara Departemen Pertanian AS (USDA) dan Badan Karantina Indonesia (IQA).

“Perjanjian ini mencerminkan kemitraan jangka panjang kami dengan APTINDO dan pentingnya pasar Indonesia bagi petani gandum AS,” kata Steve Mercer, Vice President of Communications US Wheat Associates.

Menurut data terbaru, konsumsi gandum di Indonesia meningkat sebesar 22 persen dalam sepuluh tahun terakhir. Hal ini menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat serta kebutuhan akan tepung terigu berkualitas tinggi di dalam negeri.

Gandum dari AS dinilai mampu memenuhi standar kualitas tersebut, baik dari sisi ketahanan produksi maupun karakteristik yang sesuai dengan kebutuhan industri pangan Indonesia. Dengan tercapainya kesepakatan ini, posisi Amerika Serikat sebagai pemasok utama gandum di kawasan Asia Tenggara semakin kokoh di tengah persaingan global.

Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan riset dan investasi yang dilakukan oleh asosiasi gandum Kansas dan kerja sama internasional USW. Mereka menanamkan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas gandum serta menjaga rantai pasok dan kepercayaan dagang internasional.

Peningkatan permintaan dari Indonesia juga diharapkan dapat membantu menstabilkan harga komoditas pertanian di dalam negeri AS. Para petani, terutama di Kansas, akan merasakan dampak positif langsung dari pembukaan pasar dan penguatan hubungan dagang ini.

Secara keseluruhan, MoU antara APTINDO dan USW menjadi tonggak penting dalam memperkuat kerja sama pangan antara Indonesia dan Amerika Serikat. Selain memperluas akses pasokan gandum berkualitas, perjanjian ini juga mendukung ketahanan pangan nasional dan membuka peluang baru bagi kerja sama bilateral di sektor pertanian dan perdagangan.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.