Empat Pembangkit EBT Siap Gantikan PLTU Cirebon 1

Senin, 21 Jul 2025, 01:00 WIB

JAKARTA - Haryono, seorang nelayan dari Desa Roban Timur, Batang, Jawa Tengah, mengungkapkan kekesalannya terhadap kondisi laut di kampungnya. Sejak beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batang atau Central Java Power Plant (CJPP) tiga tahun lalu, ia dan nelayan lain makin kesulitan melaut.

“Di pinggiran (Pantai Roban Timur), sudah ada tongkang-tongkang batu bara yang berkeliaran di situ. Sudah ada jangkar-jangkar maupun cor-coran yang ditanam di laut,” ujarnya pada Mei lalu.

Ket. Foto: Sumber: Kemen ESDM — Sumber: Koran jakarta /ones/and

Dikutip dari CNN Indonesia, lantaran tak ada lagi ikan di area pinggiran, Haryono harus merogoh kocek lebih dalam jika ingin melaut dengan kapalnya.

“Dulu itu, ke tengah (laut), satu jam sudah dapat banyak. Dulu bahan bakar bawanya 20 liter, sekarang 40 kadang 50 liter,” keluhnya.

Artinya, ongkos bahan bakar yang sebelumnya hanya 136 ribu rupiah sekali melaut– dengan asumsi harga solar subsidi 6.800 rupiah per liter– harganya bengkak menjadi Rp340 ribu sekali jalan.

Belum lagi, masalah abrasi yang membuat bibir pantai tergerus. Kondisi itu, menurutnya, tak lepas dari pohon cemara laut yang bertumbangan.

“Sekarang kenapa bisa tumbang? Itu karena di sebelah timur PLTU itu kan ada pemecah gelombang. Arusnya menghantam ke sana terus balik memutar ke arah kampung,” kata dia.

PLTU Batang adalah proyek pembangkit listrik tenaga uap Ultra Super Criticial (USC) sebesar 2 x 1.000 Mega Watt di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Pembangunan PLTU Batang dimulai dengan peletakan batu pertama oleh Presiden Joko Widodo pada 28 Agustus 2015.

“Dari awal peletakan batu pertama untuk pembangunan PLTU itu, proyek sudah ditolak sama sekali,” ujar Haryono.

Pembangkit ini resmi beroperasi sejak Agustus 2022. PT Bhimasena Power Indonesia/BPI (Persero) berperan sebagai Badan Usaha Pelaksana yang menjual listriknya ke PT PLN (Persero) selama 25 tahun.

Tapi nelayan macam Haryono menginginkan pembangkit itu tak lagi beroperasi.

“Nelayan mencari ikan sehari-hari susah,” kata dia.

Transisi Energi

Sebanyak empat pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) dikabarkan siap menggantikan operasional PLTU Cirebon 1. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen Indonesia dalam transisi energi menuju energi bersih dan mengurangi emisi karbon.

PLTU Cirebon 1 semula dijadwalkan pensiun pada 2042, namun kini dipercepat menjadi 2035—tujuh tahun lebih awal dari rencana awal.

“Sebagai bentuk komitmen kami, PLTU Cirebon-1 akan dipensiunkan lebih cepat, tujuh tahun sebelum jadwalnya. Ini bagian dari upaya kita untuk mempercepat transisi energi,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalial, beberapa waktu lalu.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, empat pembangkit listrik EBT telah disiapkan sebagai pengganti PLTU Cirebon-1. Rinciannya meliputi yaitu pertama pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 346 MW, kedua PLTS dengan sistem penyimpanan energi (BESS) 700 MW, ketiga pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) 1.000 MW, dan keempat pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) 12 MW.

Redaktur: Andreas Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.