Rupiah Melemah, Terseret Drama Trump dan Rusia
Selasa, 15 Jul 2025, 17:59 WIBJAKARTA - Rupiah kembali melemah hari ini (15/7), melanjutkan tren negatif awal pekan ini.Â
Pergerakan rupiah masih dipengaruhi sentimen dari global, terutama kebijakan tarif resiprokal dari Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlan negara mitra.Â
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Selasa (15/7) di Jakarta melemah sebesar 17 poin atau 0,10 persen dari sehari sebelumnya menjadi Rp16.267 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada, Selasa (15/7), juga melemah ke level Rp16.281 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.247 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan mengenakan tarif sekunder sebesar 100 persen terhadap Rusia.
âTrump mengancam akan mengenakan tarif sekunder sebesar 100 persen terhadap Rusia, jika Presiden Vladimir Putin tidak mencapai kesepakatan dalam 50 hari untuk mengakhiri perang di Ukraina,â kata Ibrahin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (15/7).
Mengutip Sputnik, Senator AS Lindsey Graham dan Richard Blumenthal mengajukan rancangan undang-undang (RUU) bipartisan yang bertujuan menjatuhkan sanksi primer dan sekunder terhadap Rusia jika Moskow gagal terlibat dalam negosiasi "iktikad baik" atas perdamaian di Ukraina pada April 2025.
Sanksi itu akan mencakup tarif 500 persen atas barang impor dari negara-negara yang membeli minyak, gas, uranium, dan produk-produk Rusia lainnya.
Pekan lalu, Trump kembali menyuarakan ketertarikannya terhadap RUU sanksi yang diusulkan Graham, menyatakan bahwa dirinya sedang mempertimbangkan undang-undang tersebut "dengan sangat matangâ.
Namun, ia menekankan keputusan untuk melanjutkan UU tersebut sepenuhnya berada di tangan Presiden. Salah seorang pejabat senior AS mengatakan bahwa presiden bersedia menandatangani RUU tersebut, asalkan ia memegang kendali penuh atas implementasi sanksi.
âMeskipun ancaman tarif baru-baru ini tidak berdampak besar pada pergerakan pasar secara keseluruhan, para pedagang mempertimbangkan apakah AS benar-benar akan mengenakan tarif tinggi pada negara-negara yang terus berdagang dengan Rusia, serta menahan diri untuk tidak memasang taruhan besar di tengah ketidakpastian,â kata Ibrahim pula.
Selain itu, sentimen lain berasal dari perkiraan Gubernur Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell terkait angka inflasi AS lebih tinggi, sehingga membuat bank sentral menunda kebijakan pemangkasan suku bunga.
Inflasi AS diprediksi naik 0,3 persen dibanding bulan lalu yang membawa inflasi year on year (YoY) meningkat 2,4 persen menjadi 2,7 persen.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
PP. PBVSI Targetkan Tim U-18 Indonesia Tembus Babak 4 Besar AVC Boys' Asia U18 Volleyball Championship 2026
-
Pembangunan Sekolah Rusak di Jakarta Mulai September 2026
-
Harga BBM Nonsubsidi Dinilai Sudah Layak Turun, Bisa Ringankan Beban Kelas Menengah dan Dongkrak Daya Beli
-
Tradisi Jamasan Gangsa Wayang Orang Sriwedari
-
Warga Diteror Ribuan Kutu Beras, Bulog Karawang Tindaklanjuti
-
Dibayangi Eskalasi Geopolitik, 10 Agustus 2026
-
Dongkrak Transaksi Aset Kripto di Tengah Demam Bola, Pintu Gelar Kompetisi Trading
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.