Trump Ancam Tarif Tambahan bagi Negara Pendukung BRICS, Sementara KTT di Brasil Dorong Multilateralisme

Senin, 07 Jul 2025, 15:10 WIB

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan sebesar 10 persen terhadap negara mana pun yang dianggap mendukung kebijakan anti-Amerika dari kelompok negara berkembang BRICS. Pernyataan itu disampaikannya hanya beberapa jam setelah pertemuan puncak BRICS dibuka di Rio de Janeiro, Brasil, pada Minggu (6/7).

Kelompok BRICS yang awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, kini telah berkembang dengan masuknya Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, dan Uni Emirat Arab sebagai anggota baru. Perluasan ini menambah bobot diplomatik kelompok tersebut yang kini mencakup lebih dari separuh populasi dunia dan sekitar 40 persen produk domestik bruto global.

Ket. Foto: — Sumber: Reuters

Dalam pernyataan bersama saat pembukaan KTT, para pemimpin BRICS menyampaikan keprihatinan terhadap meningkatnya tarif global yang dianggap dapat mengancam stabilitas perdagangan internasional. Kelompok ini juga menyuarakan dukungan terhadap reformasi institusi global seperti Dewan Keamanan PBB dan Dana Moneter Internasional agar mencerminkan tatanan dunia multipolar yang baru.

"Negara mana pun yang mendukung kebijakan anti-Amerika dari BRICS, akan dikenakan Tarif TAMBAHAN sebesar 10%. Tidak akan ada pengecualian untuk kebijakan ini. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!" tulis Trump dalam unggahan di platform Truth Social.

Ia tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang yang dimaksud dengan “kebijakan anti-Amerika” tersebut.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, Airlangga Hartarto, hadir dalam pertemuan puncak di Brasil dan dijadwalkan bertolak ke Amerika Serikat untuk mengawasi pembicaraan perdagangan, termasuk kemungkinan dampak dari kebijakan tarif baru AS. Di sisi lain, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menyamakan peran BRICS saat ini dengan Gerakan Non-Blok pada era Perang Dingin.

“BRICS adalah pewaris Gerakan Non-Blok,” kata Lula. “Dengan multilateralisme yang sedang diserang, otonomi kita kembali terkekang.”

Dalam pernyataannya, Lula menyoroti meningkatnya proteksionisme global dan perlunya kerja sama negara-negara berkembang untuk melawan dominasi sepihak.

Pertemuan kali ini berlangsung di tengah ketidakhadiran langsung Presiden Tiongkok Xi Jinping yang diwakili oleh Perdana Menterinya, serta kehadiran virtual Presiden Rusia Vladimir Putin yang tidak bisa hadir secara fisik karena status buron dari Mahkamah Pidana Internasional. Meski demikian, para pemimpin lain seperti Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa hadir langsung di Rio de Janeiro.

Kelompok BRICS dalam pernyataan bersama juga menyampaikan keprihatinan terhadap serangan Israel ke Gaza dan mengutuk aksi teror di Kashmir yang dikelola India. Mereka juga mendukung penuh aksesi Iran dan Ethiopia ke Organisasi Perdagangan Dunia dan menyerukan pemulihan penuh terhadap fungsi penyelesaian sengketa dalam organisasi tersebut.

Selain isu geopolitik dan perdagangan, pertemuan juga membahas inisiatif keuangan termasuk rencana pengujian skema Jaminan Multilateral BRICS yang bertujuan menurunkan biaya pendanaan dan memperkuat investasi. Bank Pembangunan Baru yang dibentuk BRICS dipandang sebagai instrumen strategis untuk pembiayaan pembangunan di negara-negara anggotanya.

Dalam diskusi terpisah tentang kecerdasan buatan, para pemimpin BRICS menyerukan perlindungan terhadap penyalahgunaan teknologi AI, serta pentingnya sistem pembayaran yang adil dalam ekosistem digital. Mereka menegaskan pentingnya menjaga privasi data dan mencegah dominasi pihak tertentu dalam pengembangan teknologi masa depan.

Brasil, sebagai tuan rumah pertemuan, juga memanfaatkan momen ini untuk menegaskan komitmennya dalam menghadapi perubahan iklim. Presiden Lula menyebut bahwa negara-negara berkembang seperti Brasil serius dalam melindungi hutan tropis dan mengusulkan Fasilitas Hutan Tropis Selamanya untuk mendukung konservasi hutan global.

Menurut informasi dari dua sumber, Tiongkok dan Uni Emirat Arab telah menyampaikan niat mereka untuk berinvestasi dalam fasilitas tersebut kepada Menteri Keuangan Brasil, Fernando Haddad. Langkah ini menunjukkan bahwa pertemuan BRICS tidak hanya berfokus pada politik dan ekonomi global, tetapi juga memperkuat kolaborasi dalam isu lingkungan dan keberlanjutan.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.