Pogacar Tegaskan Hormati Vingegaard Jelang Duel Ulangan di Tour de France

Jumat, 04 Jul 2025, 07:30 WIB

LILLE, PRANCIS – Pembalap sepeda Tadej Pogacar menegaskan bahwa dirinya tetap menjunjung tinggi rasa hormat terhadap rival utamanya, Jonas Vingegaard, menjelang dimulainya Tour de France edisi ke-112, Minggu (6/7), di Lille. Meski persaingan di antara keduanya telah berlangsung sengit selama lima tahun terakhir, Pogacar menepis anggapan adanya permusuhan pribadi.

Berbicara dalam sesi media di gedung Opera Lille, Jumat (4/7), Pogacar—yang tahun ini telah memenangi Giro d’Italia dan Kejuaraan Dunia—menyampaikan bahwa persaingan dengan Vingegaard justru memacu performanya.

Ket. Foto: Juara bertahan Tour de France, Tadej Pogacar — Sumber: AFP

"Dalam tensi balapan, mungkin kita bisa berteriak satu sama lain, tapi itu semua bagian dari emosi," kata Pogacar yang tampil mengenakan jersey pelangi juara dunia. "Yang pasti, saya menghormati Jonas."

Pogacar, juara Tour de France 2020 dan 2021, kalah dua tahun berturut-turut dari Vingegaard (2022 dan 2023). Namun, musim ini, pebalap Slovenia dari tim UAE Emirates kembali difavoritkan menyusul performa luar biasanya di berbagai ajang.

"Lima tahun terakhir ini sangat intens antara saya dan Jonas. Persaingan yang hebat, dan menarik untuk melihat apakah gelar akan berpindah tangan lagi," ujarnya. "Saya tak sabar menghadapinya lagi. Ini akan menjadi tontonan luar biasa, baik bagi pemirsa televisi maupun fans di pinggir jalan."

Pogacar juga menyadari pentingnya mencuri waktu lebih awal sebelum medan berat pegunungan tiba di pekan ketiga.

"Dia adalah pendaki terbaik di dunia. Jadi target saya adalah memanfaatkan peluang di minggu pertama dan jangan sampai melakukan kesalahan," katanya.

Meski begitu, Pogacar meminta publik tak terlalu membesar-besarkan rivalitas mereka. "UAE dan Visma saling menghormati. Kalau mereka menang, kita harus angkat topi."

Bukan hanya Pogacar dan Vingegaard yang menyita perhatian. Remco Evenepoel, juara dunia time-trial asal Belgia, juga datang dengan ambisi besar setelah finis ketiga tahun lalu.

"Time trial di minggu pertama datar total, artinya Jonas dan Tadej tak bisa mengeluarkan tenaga luar biasa mereka seperti di tanjakan. Ini cocok buat saya, dan saya akan habis-habisan di sana," ujar pembalap 25 tahun dari tim Soudal Quick-Step.

Evenepoel menyatakan keinginannya untuk suatu hari nanti menyelesaikan karier dengan gelar di ketiga Grand Tour: Giro, Tour, dan Vuelta.

"Butuh waktu dan kerja keras bertahun-tahun untuk jadi kompetitif di pegunungan, dan saya terus berproses ke arah sana," tegasnya.

Ia juga melontarkan kritik terhadap sistem bonus waktu di Tour de France. "Mengapa tidak ada bonus detik di time trial seperti halnya di tanjakan? Kalau saya kehilangan waktu di pegunungan dan mereka kasih sepuluh detik lagi, itu menyebalkan," ujarnya dengan nada jengkel.

"Saya di sini untuk bertarung, untuk membuat mereka lebih kesulitan. Tahun lalu saya ketiga, sekarang saya akan berikan segalanya dan kita lihat hasilnya dalam beberapa minggu ke depan."

Tour de France tahun ini dimulai di utara Prancis, dekat perbatasan Belgia dan Selat Inggris. Dalam sepuluh hari pertama, jalur dirancang untuk mempertahankan ketegangan sebelum pertarungan sesungguhnya diperkirakan terjadi di Pegunungan Alpen pada pekan ketiga.

Dengan Pogacar yang tengah berada dalam performa puncak, Vingegaard yang punya reputasi tangguh di pegunungan, dan Evenepoel yang menargetkan kejutan lewat time trial, edisi kali ini menjanjikan persaingan tiga arah yang ketat dan spektakuler.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.