Seixas Siap Ganggu Dominasi Pogacar dan Vingegaard di Tour de France 2026

Jumat, 05 Jun 2026, 06:20 WIB

PARIS – Tour de France 2026 yang akan berlangsung satu bulan lagi berpotensi menghadirkan salah satu persaingan perebutan jersey kuning paling menarik dalam beberapa tahun terakhir. Namun para penggemar balap sepeda harus bersabar karena tiga kandidat utama juara memilih jalur persiapan yang berbeda dan nyaris tidak pernah saling berhadapan menjelang balapan paling bergengsi di dunia tersebut.

Juara bertahan empat kali, Tadej Pogacar, akan berusaha menyamai rekor lima gelar Tour de France. Namun ambisi pembalap Slovenia itu diperkirakan akan mendapat tantangan serius dari Jonas Vingegaard, pemenang dua edisi Tour de France, serta sensasi muda Prancis, Paul Seixas, yang digadang-gadang menjadi bintang masa depan olahraga ini.

Ket. Foto: Ilustrasi peleton pembalap Tour de France. — Sumber: AFP

Menariknya, ketiga pembalap tersebut hampir tidak pernah bertemu dalam balapan etape sepanjang musim ini. Akibatnya, para pecinta balap sepeda kemungkinan baru akan melihat kekuatan sesungguhnya masing-masing saat Tour de France dimulai pada 4 Juli mendatang di Barcelona.

Fenomena ini terbilang unik di dunia balap sepeda modern. Biasanya para kandidat juara Tour de France saling mengukur kekuatan dalam beberapa ajang pemanasan sebelum memasuki Grand Tour. Namun musim ini berbeda.

Pogacar dan Vingegaard, yang mendominasi enam edisi Tour de France terakhir dengan membagi seluruh gelar juara di antara mereka, hanya bertemu satu kali sejak Tour de France tahun lalu, yakni pada Kejuaraan Eropa balap jalan raya pada Oktober.

Vingegaard bahkan memilih jadwal yang sangat terbatas sepanjang musim. Setelah baru saja menjuarai Giro d'Italia, pembalap Denmark berusia 29 tahun itu memutuskan tidak akan mengikuti balapan apa pun lagi sebelum Tour de France.

Sepanjang 2026, ia hanya turun dalam tiga ajang balap etape besar: Paris-Nice, Tour of Catalonia, dan Giro d'Italia. "Kami merasa berada di jalur yang tepat menuju Tour de France," kata Vingegaard.

"Saya merasa berkembang dan membuat kemajuan selama Giro. Itulah rencananya, lalu mencoba meningkat lagi setelah Giro."

Berbeda dengan rivalnya, Pogacar memilih persiapan yang lebih aktif. Pembalap berusia 27 tahun itu menggunakan Tour de Romandie dan Tour de Suisse sebagai pemanasan menuju Tour de France.

Strategi tersebut sejauh ini berjalan sempurna setelah ia berhasil menjuarai Tour de Romandie bulan lalu.

Selain itu, lima balapan lain yang diikutinya musim ini seluruhnya merupakan balapan klasik satu hari, memperlihatkan fleksibilitas luar biasa yang selama ini menjadi salah satu keunggulannya.

Sementara itu, Paul Seixas mengambil jalur berbeda dengan tampil di Criterium du Dauphine yang kini berganti nama menjadi Tour of Auvergne-Rhone-Alpes.

Pembalap remaja asal Prancis tersebut setidaknya sudah dua kali berhadapan dengan Pogacar musim ini. Dalam kedua kesempatan itu, Seixas harus puas finis sebagai runner-up di belakang sang juara dunia, yakni pada Strade Bianche dan Liege-Bastogne-Liege.

Meski belum mampu mengalahkan Pogacar, performanya semakin memperkuat statusnya sebagai salah satu talenta paling menjanjikan dalam peloton internasional.

Situasi tahun ini sangat berbeda dibandingkan musim lalu.

Pada tahun 2025, Pogacar, Vingegaard, dan Florian Lipowitz sama-sama tampil di Dauphine dan mengisi tiga posisi teratas. Sebulan kemudian, ketiganya kembali mengulang hasil serupa di Tour de France.

Kini, para kandidat utama memilih program berbeda demi menjaga kondisi fisik menjelang balapan utama. Lipowitz, misalnya, lebih memilih tampil di Tour of Slovenia sebagai pemanasan terakhirnya.

Sementara itu, Remco Evenepoel mengambil langkah yang lebih ekstrem. Pembalap Belgia yang finis ketiga pada Tour de France 2024 itu memutuskan tidak mengikuti satu pun balapan pemanasan tradisional.

Balapan terakhirnya adalah Liege-Bastogne-Liege pada akhir April. Artinya, saat Tour de France dimulai, ia akan menjalani periode 68 hari tanpa kompetisi.

"Kami ingin mengontrol beban kerja, stimulasi latihan, perkembangan, dan seluruh proses persiapan," ujar direktur olahraga Red Bull-Bora-Hansgrohe, Patxi Vila.

Meski para favorit utama jarang bertemu, penggemar tetap akan mendapatkan gambaran menarik mengenai masa depan balap sepeda dunia melalui Tour of Auvergne-Rhone-Alpes.

Selain Seixas, sejumlah pembalap muda berbakat seperti Oscar Olney dari Inggris, Isaac del Toro dari Meksiko, Juan Ayuso dari Spanyol, serta Joao Almeida dari Portugal akan bersaing di ajang tersebut.

Meskipun belum dianggap sebagai kandidat kuat juara Tour de France tahun ini, mereka berpotensi memperebutkan posisi lima besar atau bahkan podium.

Menariknya, Almeida menjadi satu-satunya pembalap berusia di atas 23 tahun di kelompok tersebut. Situasi ini menghadirkan gambaran tentang seperti apa persaingan perebutan jersey kuning di masa depan, ketika era dominasi Pogacar dan Vingegaard suatu hari nanti berakhir.

Untuk saat ini, perhatian dunia balap sepeda tetap tertuju pada dua nama besar yang mendominasi olahraga ini dalam beberapa tahun terakhir. Namun dengan munculnya Seixas dan generasi muda lainnya, Tour de France 2026 berpotensi menjadi awal perubahan besar dalam peta persaingan menuju jersey kuning.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.