Riset Membuktikan Faktor Bengkel dan SPKLU Buat Orang Indonesia Urung Beli Mobil Listrik

Rabu, 02 Jul 2025, 19:20 WIB

JAKARTA - Berdasarkan studi Populix, ada beberapa faktor yang membuat konsumen Indonesia mengurungkan niatnya untuk membeli mobil listrik, dan yang paling banyak disebabkan ketersediaan bengkel yang dapat memperbaiki kendaraan ramah lingkungan tersebut.

Hasil riset terbaru yang dilakukan perusahaan riset dan penyedia platform survei daring berjudul “Electric Vehicles in Indonesia: Consumer Insights and Market Dynamics” yang dirilis Juli 2025 itu, “tidak semua bengkel menerima perbaikan meskipun kerusakannya bukan kelistrikan” menjadi alasan terbesar konsumen yakni sebanyak 56 persen, disusul lokasi pengisian ulang baterai yang sedikit dan jauh sebanyak 53 persen.

Ket. Foto: Kolase foto Chery J6 (kiri), Wuling Air EV (kanan atas), dan BYD Sealion 7 (kanan bawah) yang dipamerkan di IIMS 2025, JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu (22/2). — Sumber: ANTARA/Pamela Sakina

“Kenapa untuk orang-orang yang masih menahan untuk beli mobil listrik yang pertama adalah terkait sama keberadaan SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum), infrastruktur ini sangat penting, kemudian terkait dengan bengkelresmi, ini masih jadi perhatian karena jarak antara satu diler ke diler yang lain itu masih terlalu jauh jangkanya menurut mereka,” ujar Associate Head of Research for Automotive Populix Susan Adi Putra di Jakarta, Selasa (1/6) malam.

Selain itu, 52 persen responden menyebut kapasitas baterai juga menjadi salah satu pertimbangan signifikan bagi calon konsumen. Kapasitas baterai ini berpengaruh pada jarak tempuh yang mampu ditempuh mobil listrik dalam satu kali pengisian daya.

Meski saat ini harga mobil listrik sudah mulai kompetitif dibandingkan mobil ICE, harga masih menjadi faktor penghambat (47 persen) konsumen untuk meminang mobil listrik, disusul dengan pengisian baterai membutuhkan waktu yang lama (43 persen), dibandingkan mobil berbahan bakar minyak yang hanya membutuhkan beberapa menit di SPBU.

Lebih lanjut, riset ini juga menemukan bahwa 29 persen konsumen masih beranggapan bahwa subsidi atau insentif yang diberikan pemerintah terhadap mobil listrik masih relatif kecil.

“Insentif dari pemerintah ini juga mendukung mereka untuk beli akhirnya, ini sangat memengaruhi mereka,” kata Adi.

Sementara itu, ditemukan pula bahwa mayoritas orang Indonesia membeli kendaraan listrik (EV) bukan utamanya karena teknologi maupun efisiensi, desain, dan lain sebagainya, melainkan karena mereka peduli dengan lingkungan.

Sebanyak 67 persen responden mengungkap alasan utama mengadopsi kendaraan listrik adalah karena bebas polusi udara, 60 persen karena bebas polusi suara (suara mesin yang senyap), sementara 54 persen memilih EV karena dampaknya pada lingkungan yang positif. Ant

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.