• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Asal Usul 1 Suro: Malam Mi...

Asal Usul 1 Suro: Malam Mistis Warisan Sultan Agung yang Masih Dikeramatkan hingga Kini!

Kamis, 26 Jun 2025, 10:55 WIB

JAKARTA - Malam 1 Suro bukan sekadar pergantian kalender Jawa, tapi juga malam yang sarat dengan nuansa mistis dan spiritual yang kental, khususnya bagi masyarakat Jawa. Tradisi ini masih lestari hingga kini dan selalu diperingati dengan berbagai ritual unik nan sakral.

Uniknya, 1 Suro sebenarnya bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah, yaitu Tahun Baru Islam. Namun, kenapa malam ini identik dengan nuansa gaib dan ritual-ritual berbau klenik?

Ket. Foto: Asal usul malam 1 suro — Sumber: Pexels

Mari kita telusuri jejak sejarah dan spiritualitas di balik malam 1 Suro yang kerap dianggap keramat.

Awal Mula: Perpaduan Kalender Saka dan Hijriah Sultan Agung

Menurut sumber resmi Kraton Yogyakarta, asal usul malam 1 Suro tak bisa dilepaskan dari kebijakan Sultan Agung, penguasa Mataram Islam. 

Pada masa itu, kerajaan menggunakan kalender Saka yang berbasis peredaran matahari. Namun Sultan Agung merasa sistem ini kurang selaras dengan nilai-nilai Islam yang berkembang pesat di kerajaannya.

Saat berziarah ke makam Sunan Tembayat, Sultan Agung dikisahkan mendapatkan wangsit atau ilham spiritual. Berdasarkan ilham tersebut, dia kemudian memadukan sistem kalender Saka dengan kalender Hijriah yang berbasis bulan. 

Hasilnya adalah sistem penanggalan Jawa yang unik, dan bulan pertamanya dinamai Suro.

Makna Suro dan Tragedi Karbala

Nama Suro diambil dari kata Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram dalam kalender Islam, hari berkabung atas gugurnya cucu Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Husein di Karbala. 

Dalam konteks Jawa, Suro juga memiliki arti mesu sarira, yang bermakna introspeksi diri atau laku spiritual.

Pada 1633 Masehi (8 Juli), Sultan Agung menetapkan 1 Suro sebagai awal tahun baru Jawa, tepatnya Jumat Legi, Tahun Alif 1555 Saka.

Ritual Mistis yang Jadi Tradisi

Masyarakat Jawa menyambut malam 1 Suro dengan berbagai ritual sakral. Di antaranya:
- Kirab Kebo Bule (kerbau albino).
- Pencucian pusaka seperti keris dan tombak.
- Pawai benda-benda keramat dari kraton.

Ritual-ritual ini bukan tanpa makna, semuanya sarat dengan filosofi tentang pensucian diri, penghormatan pada leluhur, dan perlindungan spiritual dari marabahaya di tahun baru.

Penanggalan Jawa: Perpaduan Unik Antara Spiritualitas dan Kosmologi

Sistem kalender Jawa juga mengenal konsep Saptawara (tujuh hari dari Ahad hingga Sabtu) dan Pancawara (lima pasaran: Kliwon, Legi, Pahing, Pon, Wage). Perpaduan ini membuat penanggalan Jawa begitu kompleks namun kaya akan makna dan perhitungan spiritual.

Warisan Budaya Penuh Makna

Malam 1 Suro bukan hanya tradisi, tapi warisan budaya adiluhung yang menyatukan unsur sejarah, kepercayaan, dan spiritualitas.

Bagi masyarakat Jawa, malam ini menjadi momentum untuk menyepi, merenung, dan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, sebuah malam sakral yang tak pernah lekang zaman.

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.