Laksa Tangerang: Jejak Rasa Peranakan Tionghoa Dalam Semangkuk Kuliner
Selasa, 24 Jun 2025, 17:43 WIBTANGERANG - Laksa adalah salah satu hidangan khas Asia Tenggara yang dikenal luas, terutama di Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Di Tanah Air, laksa memiliki berbagai varian berdasarkan daerahnya, seperti laksa Bogor, laksa Palembang, laksa Banjar, dan sebagainya. Namun, satu varian yang unik dan memiliki pengaruh Tionghoa adalah laksa Tangerang.
Tangerang dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki populasi etnis Tionghoa yang cukup signifikan sejak zaman kolonial Belanda. Komunitas ini, terutama yang dikenal dengan sebutan Tionghoa Benteng, telah berbaur dengan masyarakat lokal selama ratusan tahun.
Laksa Tangerang diyakini sebagai hasil dari perpaduan budaya kuliner Tionghoa dengan lokal Betawi dan Sunda. Kata "laksa" sendiri dipercaya berasal dari bahasa Sanskertalaksha yang berarti "banyak", merujuk pada banyaknya bahan dan rempah yang digunakan.
Dilansir dari situs indonesia.go.id pada tahun 1970-an, laksa mulai dijajaki oleh banyak pedagang keliling di Kota Tangerang. Teriakan khas, "laksa, laksa ..." dari para pedagang biasa terdengar.
Mereka menjualnya dengan berkeliling dari kampung ke kampung. Namun seiring berkembangnya zaman, laksa mulai tergeser oleh jenis makanan lain yang cepat dimasak, cepat dijual, dan mungkin lebih murah (makanan cepat saji). Sehingga, pada saat itu jejak makanan laksa mulai menghilang dalam kurun waktu 20 tahun.
Laksa Tangerang yang populer mendapat perhatian khusus dari pemerintah setempat. Pemerintah Kota Tangerang memfasilitasi penjual laksa dengan menyediakan bangunan pondok yang terbuat dari bambu dan beratap jerami di Jalan Mohamad Yamin, Kota Tangerang. Tempat ini bernama Kawasan Kuliner Laksa Tangerang dan terdapat tujuh warung yang menjajakan laksa racikan mereka di sini dan beberapa dari mereka buka 24 jam.
Namun pada tahun 2000, makanan ini kembali muncul di banyak tempat, apalagi setelah keberadaannya ternyata mulai mendapat tempat di hati masyarakat. Bukan itu saja, bahkan Pemerintah Kota Tangerang juga memberikan dukungannya sampai saat ini.
Salah satu penjual yang ditemui Xinhua pada Senin (23/6) yakni Mang UU menuturkan bahwa kebanyakan dari pedagang di sini mulai berjualan sekitar tahun 2010. Sebelum COVID melanda, mereka mampu menjual hingga 100 porsi dalam sehari tetapi pascapandemi menjual 50 porsi sehari saja dirasakan para pedagang sangat sulit. Ant
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Opik
Berita Terkait:
-
Jadwal dan Lokasi Perayaan Imlek 2026 di Jakarta: Dari Monas hingga Cap Go Meh Glodok
-
Goretzka Cetak Gol Bawa Jerman Kalahkan Italia di UNL
-
Pemkab Batang Menata Kawasan Wisata Pantai Sigandu
-
BMKG imbau warga Manggarai Barat waspadai potensi cuaca ekstrem
-
Dukung Industri Kulit dan Alas Kaki, Krista Exhibitions Gelar Indo Leather & Footwear (ILF) Expo 2025
-
Carlos Alcaraz Catat Kemenangan di Lapangan Keras Ke-150 pada Laga Pembuka Doha
-
Tak Punya Peternakan, Batam Butuh Pasokan 10.000 Hewan Kurban untuk Idul Adha 2025
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.