Ketidakpastian Ekonomi Global Masih Tetap Tinggi

Kamis, 19 Jun 2025, 01:15 WIB

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memperkirakan ketidakpastian perekonomian global masih tetap tinggi ke depan akibat masih berlangsungnya negosiasi tarif antara Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara, serta eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas.

Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam konprensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Bulan Juni 2025 di Jakarta, Rabu (18/6) mengatakan kondisi tersebut memerlukan kewaspadaan serta penguatan respons dan koordinasi kebijakan untuk menjaga ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.

Ket. Foto: Gubernur BI, Perry Warjiyo — Sumber: istimewa

Otoritas moneter itu menilai ketidakpastian perekonomian global saat ini sedikit mereda, namun tetap tinggi akibat dinamika negosiasi tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Perry mencatat berbagai indikator menunjukkan kebijakan tarif Amerika Serikat berdampak pada melambatnya ekonomi dunia. Pertumbuhan ekonomi di negara maju, yaitu Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang dalam tren menurun, di tengah ditempuhnya kebijakan fiskal ekspansif dan pelonggaran kebijakan moneter di negara-negara tersebut.

Ekonomi Tiongkok pun melambat akibat menurunnya ekspor terutama ke Amerika Serikat di tengah perlambatan permintaan domestiknya. Sedangkan, ekonomi India diperkirakan tumbuh baik terutama didorong oleh masih kuatnya investasi.

“Dengan perkembangan tersebut, prospek pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2025 tetap sebesar 3 persen,” kata Perry.

Sementara itu, tekanan inflasi di Amerika Serikat menurun sejalan dengan ekonomi yang melambat meskipun terjadi kenaikan inflasi pada kelompok barang akibat kebijakan tarif. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi terhadap arah penurunan Fed Funds Rate (FFR) atau suku bunga kebijakan moneter Bank Sentral AS ke depan.

Di pasar keuangan global, pergeseran aliran modal dari Amerika Serikat ke aset yang dianggap aman dan juga ke aset keuangan emerging market terus terjadi. Perkembangan itu pun mendorong berlanjutnya pelemahan indeks mata uang dollar AS terhadap mata uang negara maju (DXY) dan negara berkembang (ADXY).

Menanggapi kondisi sektor keuangan, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengatakan, berkaitan dengan pernyataan Bank Indonesia mencermati situasi eksternal termasuk konflik di Timur Tengah yang sedang berlangsung maka diperkirakan suku bunga akan ditahan dalam jangka waktu yang cukup lama oleh BI.

“Ini artinya di satu sisi bisa menjaga nilai tukar rupiah tidak terlalu fluktuatif tetapi di sisi lain pertumbuhan kredit diperkirakan akan melambat terutama di sektor sektor yang terkait dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM),” jelas Bhima.

Melambatnya pertumbuhan kredit sektor UMKM terangnya karena suku bunga masih akan cukup tinggi dan juga bisa memicu terjadinya perebutan liquiditas karena suku bunga yang tinggi juga akan memicu beberapa bank bahkan menaikan suku bunganya agar simpanan itu bisa lebih terjaga.

Bagi sektor riil, dengan situasi yang sekarang BI seolah tidak bisa berbuat banyak memberikan stimulus moneter. Padahal, sektor moneter itu sebenarnya penting di saat keterbatasan dari sisi APBN untuk memberikan stimulus fiskal yang diperlukan.

Devisa Negara

Pada kesempatan lain, Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti mengatakan, masalah sebenarnya adalah fundamental ekonomi Indonesia lemah. “Jadi ada gonjang ganjing di global, pasti kita terdampak,” kata Esther.

Kebijakan yang diambil menurut Esther seharusnya fokus memperkuat fundamental ekonomi, salah satunya bagaimana Indonesia bisa memperoleh banyak dollar AS. Pertama jelas Esther yaitu menarik investasi ke Indonesia sebanyak banyaknya untuk memperkuat modal dan menyerap banyak tenaga kerja.

Kedua, men?dorong ekspor sebanyak banyak dengan memberi insentif logistik, transport atau subsidi bahan input dan lain sebagainya.

“Ketiga, mem?perbanyak devisa negara dengan menarik wisatawan, mengirim tenaga kerja white collar dan lain sebagainya,”pungkas Esther.

Sementara itu, Pakar ekonomi dari Universitas Airlangga, Mohammad Nasih, mengatakan, ketidakpastian global menciptakan kekhawatiran tersendiri terhadap stabilitas ekonomi dan kestabilan sosial masyarakat.

Menurutnya, lembaga perbankan dapat mengurangi tekanan yang timbul, terutama gelombang PHK yang akhir-akhir marak akibat ketidakpastian.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.