- Home
-
- Luar Negeri
-
- Taiwan Uji Coba Drone Laut...
Taiwan Uji Coba Drone Laut yang Mampu Bawa Bom Melintasi Perairan
Selasa, 17 Jun 2025, 15:30 WIBYILAN - Sebuah drone laut buatan Taiwan yang mampu membawa bom melintasi perairan di lepas pantai pulau itu pada hari Selasa (17/6) dalam sebuah demonstrasi kendaraan permukaan tak berawak yang dapat meningkatkan daya tembak militernya melawan Tiongkok.
Dengan Beijing yang terus memberikan tekanan militer terhadap pulau itu, Taiwan meningkatkan investasi dalam drone udara dan laut, yang telah banyak digunakan dalam perang Russia di Ukraina untuk mengakali persenjataan berat tradisional.
Tiongkok mengklaim Taiwan sebagai bagian wilayahnya dan mengancam akan menggunakan kekerasan untuk menguasainya.
Dua belas perusahaan lokal dan asing mengambil bagian dalam demonstrasi Kendaraan Laut Tanpa Awak (USV) yang diselenggarakan oleh Institut Sains dan Teknologi Nasional Chung-Shan milik pemerintah di Yilan, tenggara Taipei.Â
Ini merupakan kesempatan bagi "klien potensial seperti militer dan penjaga pantai" untuk mengumpulkan data dari produsen drone untuk produksi massal di masa mendatang, kata lembaga itu dalam sebuah pernyataan.Â
Drone laut Black Tide milik pembuat kapal Taiwan Lungteh, yang dirancang untuk beroperasi di "lingkungan yang diperebutkan", adalah salah satu dari tiga USV yang diuji coba.
Dengan kecepatan tertinggi lebih dari 43 knot (80 kilometer per jam; 50 mil per jam), Black Tide dapat digunakan untuk intelijen, pengawasan, pengintaian, dan "serangan satu arah", menurut perusahaan tersebut.
Sementara itu, USV "siluman" milik Carbon-Based Technology Inc dapat membawa bom dan cukup murah untuk melakukan misi "pengorbanan", kata direktur perusahaan Stacy Yu setelah drone tersebut diuji.
Walaupun Presiden Lai Ching-te telah berjanji menjadikan Taiwan "pusat Asia" untuk produksi drone, Taiwan menghadapi tantangan dalam meningkatkan hasil produksinya.
Kapasitas produksi tahunan Taiwan untuk drone udara berkisar antara 8.000 hingga 10.000 unit, jauh di bawah target tahun 2028 sebanyak 180.000 unit, kata Institut Penelitian untuk Demokrasi, Masyarakat, dan Teknologi Baru (DSET) dalam sebuah laporan pada hari Senin.Â
Biaya produksi yang tinggi akibat penggunaan komponen non-Tiongkok membuat "produk Taiwan sulit bersaing dengan produk buatan Tiongkok di pasar komersial," kata analis DSET.
Dan terbatasnya pesanan dalam negeri dan minimnya kontrak pemerintah asing juga menghambat "peningkatan skala produksi lebih lanjut", katanya.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: AFP
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.