Inflasi AS Masih Jinak Meski Dihantam Tarif Tinggi Era Trump

Selasa, 17 Jun 2025, 16:20 WIB

JAKARTA - Ekonomi Amerika Serikat terus menunjukkan ketangguhan yang mengejutkan meski berada di bawah tekanan kebijakan tarif besar-besaran dari pemerintahan Presiden Donald Trump. Sejak April lalu, pajak atas barang impor telah melonjak ke level tertinggi dalam hampir satu abad. Namun, inflasi tidak melonjak sejalan dengan kenaikan tarif, melainkan tetap lebih rendah dari perkiraan para ekonom selama dua bulan terakhir.

Presiden Trump telah memberlakukan pungutan dasar universal pada semua negara mitra dagang AS, memperluas tarif berbasis industri, dan meningkatkan ketegangan dengan Tiongkok. Meski begitu, harga barang-barang yang menjadi sorotan dalam perang dagang tetap stabil. Kondisi ini menciptakan teka-teki baru bagi Federal Reserve (The Fed) yang menunda pemangkasan suku bunga karena khawatir terhadap potensi lonjakan harga akibat tarif.

Ket. Foto: — Sumber: Getty Images

Pejabat Fed menyadari bahwa kenaikan harga bisa saja tertunda. Perusahaan-perusahaan sempat memborong stok barang sebagai langkah antisipasi terhadap tarif baru. Namun, ketika cadangan menipis, harga-harga dapat kembali naik. Dalam kondisi ini, mempertahankan suku bunga tinggi mungkin diperlukan untuk mengendalikan inflasi, meski ada risiko bagi pasar tenaga kerja yang mulai menunjukkan pelemahan.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) kemungkinan belum akan memangkas suku bunga pada pertemuan 18 Juni mendatang. Artinya, bunga kredit untuk pembelian besar seperti mobil atau renovasi rumah akan tetap tinggi, sementara pengembalian tabungan tetap menarik—terutama di bank-bank digital nontradisional.

Selain faktor ekonomi, tekanan politik juga mengemuka. Trump secara terbuka mengkritik Ketua The Fed Jerome Powell karena dianggap lambat dalam menyesuaikan suku bunga. Trump bahkan menuntut pemangkasan suku bunga sebesar satu poin penuh dan berencana segera mengumumkan pengganti Powell. Wakil Presiden JD Vance turut menyerukan penurunan suku bunga, menyebut suku bunga tinggi saat ini sebagai "malapraktik moneter."

Meski data inflasi tampak jinak, perdebatan besar di internal The Fed adalah apakah efek tarif hanya tertunda atau memang tidak berdampak besar. Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee menyatakan bahwa meski data inflasi dua bulan terakhir menggembirakan, pelaku usaha masih bersiap menaikkan harga dalam waktu dekat.

"Dampaknya sangat kecil sejauh ini, tapi kita belum tahu apa yang akan terjadi satu atau dua bulan ke depan," ujarnya.

Survei bisnis yang dilakukan oleh The Fed New York dan Cleveland menunjukkan bahwa sebagian perusahaan telah mulai menaikkan harga, sementara lainnya menyatakan kemungkinan akan melakukannya dalam waktu dekat. Model dari The Fed Atlanta menunjukkan bahwa jika hanya separuh dari biaya tarif yang dibebankan ke konsumen, maka harga eceran dapat naik hampir 1%.

Perusahaan besar seperti Walmart, Home Depot, dan Best Buy telah memperingatkan bahwa mereka mungkin akan terpaksa menaikkan harga jika tarif terus berlangsung dan menekan margin laba mereka. CEO Target, Brian Cornell, bahkan menyebut kenaikan harga sebagai “pilihan terakhir.” Ketidakpastian tarif yang berubah-ubah antar kategori membuat manuver bisnis semakin kompleks.

Tarif cenderung berdampak lambat terhadap harga, seperti yang terlihat dari kebijakan tarif mesin cuci pada awal 2018. Kenaikan harga baru terasa beberapa bulan kemudian. Oleh karena itu, meski inflasi saat ini masih terkendali, potensi lonjakan harga tetap mengintai, dan Fed belum memiliki cukup keyakinan untuk mulai menurunkan suku bunga.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.