Mimpi Promosi ke Premier League Berujung Pahit bagi Klub-klub Championship

Jumat, 23 Mei 2025, 09:30 WIB

MANCHESTER — Pertarungan antara Sunderland dan Sheffield United di final play-off Championship akhir pekan ini bukan sekadar tiket menuju Premier League, melainkan juga pintu gerbang menuju risiko besar. Di balik iming-iming kekayaan kasta tertinggi Liga Inggris, realitas pahit justru kerap menanti para pendatang baru.

Musim ini menjadi tahun kedua berturut-turut di mana tiga tim promosi langsung kembali terdegradasi ke Championship. Sebelum musim 2023/24, situasi serupa hanya pernah terjadi sekali dalam sejarah sepak bola Inggris, tepatnya pada musim 1997/98.

Ket. Foto: Pemain Sunderland dan Sheffield United berebut bola. Kedua tim bertemu di playoff Championship berebut tiket ke Premiere League. — Sumber: AFP

Data dua musim terakhir mengungkap betapa lebarnya jurang kualitas antara Premier League dan Championship. Musim lalu, Luton Town, Burnley, dan Sheffield United terdegradasi dengan total 66 poin—jumlah terendah dari tiga tim terdegradasi sejak era Premier League modern dimulai.

Rekor suram itu bahkan belum bisa dipatahkan musim ini. Leicester City, Ipswich Town, dan Southampton hanya mengumpulkan total 59 poin menjelang laga pamungkas musim 2024/25. Ketiganya juga tercatat baru meraih dua kemenangan melawan tim-tim di posisi 17 besar sepanjang tahun ini.

“Jelas sekali jurangnya besar,” kata manajer Ipswich, Kieran McKenna, yang sebelumnya sukses membawa klubnya promosi dua musim beruntun. “Kalau ini terjadi dua musim berturut-turut, berarti ada 17 tim yang sudah menikmati dua musim penuh uang Premier League dan semua yang datang bersamanya. Jelas, semakin sulit mengejar mereka.”

Menurut laporan, Sheffield United mengantongi 110 juta pound (sekitar 2,1 triliun rupiah) musim lalu dari hak siar dan kerja sama komersial Premier League, meski finis di dasar klasemen. Jika ditambah parachute payments—dana talangan untuk klub yang terdegradasi selama tiga tahun—satu musim di Premier League bisa menghasilkan lebih dari 200 juta pound.

Namun, sistem ini justru menciptakan ketimpangan baru. Klub-klub yang baru saja terdegradasi cenderung langsung kembali promosi. Jika Sheffield United berhasil naik musim ini, enam dari sembilan tim terakhir yang promosi berasal dari klub-klub yang baru satu musim turun kasta.

Hal ini menjadi sorotan serius English Football League (EFL). “Dampak dana talangan terhadap keseimbangan kompetitif Championship dan keberlangsungan finansial klub lainnya menjadi perhatian utama,” ujar Ketua EFL, Rick Parry.

Rencana pembentukan regulator independen sepak bola Inggris memunculkan opsi untuk menghapus parachute payments. Namun, kebijakan tersebut dikhawatirkan justru memperlebar jurang antara Premier League dan Championship.

Padahal, awalnya dana itu dimaksudkan untuk membantu klub promosi agar cukup kuat bersaing. Namun realitas Premier League yang semakin kompetitif membuat setiap tim pendatang baru harus bekerja ekstra keras hanya untuk bertahan.

Ironisnya, bahkan tim-tim besar pun kini kesulitan. Tottenham Hotspur dan Manchester United—dua finalis Liga Europa musim ini—masih tertahan di peringkat 16 dan 17 menjelang pekan terakhir.

“Semakin lama sebuah tim bertahan di Premier League, semakin kuat mereka,” ujar manajer Leicester, Ruud van Nistelrooy. “Kalau 17 tim yang sama terus bertahan dan terus berinvestasi besar, mereka akan jadi lebih kuat dari sebelumnya. Jurangnya tampaknya hanya akan makin lebar.”

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.