PTDI Gandeng Malaysia, Produksi Pesawat Makin Lokal Rasa Global
Rabu, 21 Mei 2025, 23:55 WIBBANDUNG â Kerja sama memungkinkan pertukaran pengetahuan dan teknologi, sehingga industri dirgantara dapat mengembangkan produk dan layanan yang lebih inovatif dan canggih. Dengan berbagi sumber daya dan keahlian, industri dirgantara dapat meningkatkan daya saing mereka di pasar global.
Kerja sama dapat membantu industri dirgantara meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi permintaan pasar yang semakin tinggi. Kerja sama internasional dapat membuka pasar baru bagi produk dan layanan industri dirgantara, membantu meningkatkan ekspor dan pendapatan.
PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan salah satu perusahaan pertahanan asal Malaysia, Boustead Heavy Industries Corporation Bhd (BHIC), menyepakati kerja sama terkait produksi, lokalisasi rantai pasok, hingga layanan Maintenance, Repair & Overhaul (MRO) pesawat.
Kerja sama ini, dipastikan lewat Framework Agreement (FA) yang ditandatangani oleh Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan dan Chief Executive Officer (CEO) BHIC Feroz Razi Ramli dengan disaksikan oleh Menteri Pertahanan Malaysia Datoâ Seri Mohamed Khaled Nordin dalam The 17th Langkawi International Maritime & Aerospace Exhibition (LIMA) 2025, Rabu (21/5).
"Partisipasi dalam LIMA 2025 bukan hanya untuk mendorong eksistensi produk unggulan dan layanan PTDI, tetapi juga komitmen untuk terus membangun jejaring kolaborasi strategis di kawasan," kata Gita Amperiawan dalam keterangan di Bandung, Rabu (21/5).
Kerja sama antara PTDI dan BHIC ini menandai langkah penting dalam memperkuat sinergi kedua negara di sektor dirgantara dan pertahanan.
Sinergi ini, lanjut Gita, dipandang oleh PTDI sebagai pijakan awal menuju kolaborasi jangka panjang yang tidak hanya memperkuat posisi strategis perusahaan, tetapi juga mendukung stabilitas dan kapabilitas pertahanan kawasan.
Gita merinci, kesepakatan kerja sama ini berfokus pada perluasan kapabilitas produksi pesawat PTDI untuk meningkatkan output produksi sesuai kebutuhan pasar domestik dan internasional, serta mendorong lokalisasi rantai pasok Aerostructure dengan tetap mengacu pada aturan Original Equipment Manufacturer (OEM) terkait.
Selain itu, kerja sama ini juga mencakup kegiatan leasing terhadap pesawat produksi PTDI, serta penyediaan layanan Maintenance, Repair & Overhaul (MRO), yang kedepannya dapat dikembangkan bersama untuk memperkuat layanan after sales di kawasan Asia Tenggara.
Pada kesempatan ini, BHIC juga menyepakati FA dengan Anak Perusahaan PTDI yang berbasis di Amerika Serikat, dalam hal ini IPTN North America, Inc. (INA, Inc.).
Ruang lingkup kerja sama ini meliputi penyediaan material, peralatan dan suku cadang untuk mendukung operasional dan pengembangan pesawat produksi PTDI, maupun program non-PTDI yang dikembangkan oleh INA, Inc., serta pelaksanaan kegiatan penjualan dan pemasaran berbagai komponen Aerostructure.
"Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat rantai pasok industri kedirgantaraan nasional, sekaligus membuka potensi kerja sama yang lebih luas di tingkat regional maupun global dalam bidang manufaktur dan komersialisasi produk Aerostructure," tutur Gita.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Rakerna SP PLN 2026: 1.150 Pekerja PLN Komit Jaga Ketahanan Energi Nasional, Kawal Amanat Konstitusi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.