Bukan Sekadar Rusun: Pemprov Kalsel Fokus Bangun Rumah Berkualitas, Apa Bedanya?

Jumat, 16 Mei 2025, 12:00 WIB

KALIMANTAN SELATAN - Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Pemprov Kalsel) terus menggeber program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dengan penekanan pada kualitas hunian, sebuah konsep yang jauh melampaui sekadar penyediaan unit rumah susun (rusun). Bimbingan teknis bersama pemerintah kabupaten/kota menjadi langkah strategis memperkuat tata kelola bantuan perumahan yang benar-benar layak dan berkualitas bagi masyarakat.

Kepala Disperkim Kalsel, Mursyidah Aminy, menegaskan bahwa fokus utama adalah memberikan hunian yang melampaui fungsi dasar berteduh. “Kami ingin membangun rumah yang benar-benar berkualitas, bukan sekadar mengganti rumah yang tidak layak dengan bangunan seadanya. Ini tentang memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat,” ujarnya di Banjarbaru, Kamis (15/5) kemarin.

Ket. Foto: Kegiatan bimbingan teknis modul kerja kegiatan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) se-Kalsel di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada Kamis (15/5) kemarin. — Sumber: ANTARA/yds

Bimbingan teknis ini bertujuan menyamakan persepsi dan meningkatkan kapasitas pelaksana program RTLH agar bantuan yang diberikan tepat sasaran dan berkualitas. Mursyidah menekankan bahwa kualitas hunian mencakup aspek kenyamanan, keamanan, dan kesehatan penghuni, yang seringkali menjadi pembeda signifikan dengan konsep rusun.

Perbedaan Esensial: Rumah Berkualitas vs Rusun

Mengupas lebih dalam tentang perbedaannya, Dr. Wicaksono Sarosa, pakar tata kota dan perumahan ITB, menjelaskan demikian, “Rusun umumnya dirancang untuk menampung banyak orang dengan keterbatasan lahan dan anggaran, seringkali mengorbankan ruang gerak, privasi, dan kualitas material. Sementara, rumah berkualitas dibangun dengan mempertimbangkan kebutuhan ruang yang layak, sirkulasi udara dan pencahayaan alami yang baik, serta material bangunan yang tahan lama dan sehat,” paparnya.

Selanjutnya, Dr. Wicaksono menyoroti aspek kepemilikan dan keberlanjutan. “Program RTLH yang fokus pada rumah berkualitas umumnya memberikan kepemilikan kepada penerima manfaat, menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab jangka panjang. Rusun, di sisi lain, berstatus sewa, yang bisa menimbulkan ketidakpastian dan kurangnya insentif untuk pemeliharaan jangka panjang,” tambahnya.

Ketua Umum REI Kalsel, Roy Nirwan, pun menggarisbawahi dampak sosial dan ekonomi. “Rumah berkualitas menciptakan lingkungan tinggal yang lebih kondusif untuk tumbuh kembang keluarga, meningkatkan kesehatan, dan pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan produktivitas masyarakat. Ini adalah investasi jangka panjang yang jauh lebih bernilai daripada sekadar menyediakan hunian sementara seperti rusun,” tegasnya. Roy berharap pemerintah terus memprioritaskan pembangunan rumah berkualitas bagi masyarakat yang membutuhkan, sebagai fondasi untuk kesejahteraan yang berkelanjutan.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Yuniar Dwi Setiawati

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.