Viral Keluarga dengan 11 Anak, Dedi Mulyadi Dorong Vasektomi Sebagai Bentuk Tanggung Jawab Suami

Jumat, 09 Mei 2025, 10:59 WIB

BANDUNG - Kisah keluarga dengan 11 anak yang viral di media sosial, di mana sang ayah menganggur dan ibu hamil anak ke-12, memicu perdebatan tentang pentingnya program Keluarga Berencana (KB), khususnya vasektomi.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang menemukan keluarga tersebut, menekankan pentingnya peran suami dalam KB untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Ket. Foto: Dedi Mulyadi berharap suami perlu ber-KB untuk menekan jumlah populasi dalam keluarga. — Sumber: TribunNews/yds

"Bapaknya yang KB dong," ujar Dedi Mulyadi dalam video yang viral, menanggapi pengakuan remaja perempuan, anak tertua di keluarga tersebut, bahwa orang tuanya "kebobolan". Ia menyarankan agar sang ayah menjalani vasektomi, tetapi tawaran tersebut ditolak dengan alasan keyakinan pribadi.

Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa KB bukan hanya tentang pengendalian populasi, tetapi juga tentang tanggung jawab suami dalam menjaga kesejahteraan keluarga.

"Jangankan untuk pendidikan ke depan, untuk melahirkan tidak ada biaya, itu tanggung jawab suami," tegasnya. Ia menambahkan bahwa keluarga pra-sejahtera seringkali memiliki anak lebih dari tiga, yang menyulitkan pemenuhan kebutuhan dasar.

"Saya harapkan yang ber-KB itu suaminya, jangan sampai ber-KB itu beban istri," kata Dedi Mulyadi. Ia menekankan bahwa jenis kontrasepsi bisa disesuaikan dengan kondisi dan kenyamanan pasangan, termasuk penggunaan kondom.

Menanggapi kasus ini, Dr. Andi Rahman, seorang ahli kesehatan reproduksi, menyatakan bahwa vasektomi adalah metode KB yang efektif dan aman bagi pria.

"Vasektomi adalah prosedur sederhana dengan risiko komplikasi yang rendah. Ini adalah bentuk tanggung jawab pria terhadap perencanaan keluarga," jelasnya.

Sementara itu, sosiolog keluarga, Dr. Ratna Sari, menyoroti pentingnya edukasi tentang KB bagi pasangan usia subur.

"Kurangnya pemahaman tentang metode kontrasepsi dan perencanaan keluarga dapat menyebabkan kesulitan ekonomi dan sosial," ujarnya. Ia menambahkan bahwa dialog terbuka antara pasangan dan tenaga kesehatan sangat penting untuk pengambilan keputusan yang tepat.

Dedi Mulyadi menegaskan bahwa pemerintah provinsi telah menyediakan berbagai program bantuan, tetapi keberlanjutan kesejahteraan tetap bergantung pada kontrol jumlah anggota keluarga.

"Artinya itu tinggi. Artinya suami bersama istrinya membuat kelahiran yang menentukannya Allah SWT, yang menjalaninya mereka," pungkasnya.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Yuniar Dwi Setiawati

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.