- Home
-
- Perspektif
-
- Budaya Betawi Harus Bisa H...
Budaya Betawi Harus Bisa Hidup di Tengah Modernisasi
Jumat, 09 Mei 2025, 00:00 WIBSetiap kepala daerah memiliki fokus kerja masing-masing dalam 100 hari pertama, tak terkecuali pimpinan Jakarta. Wakil Gubernur Jakart,a Rano Karno, menginginkan kebudayaan Betawi menjadi perhatian utama. Ia berkomitmen untuk melestarikan dan mengembangkan warisan budaya Betawi agar tetap hidup di tengah modernisasi ibu kota.Guna mengulik lebih dalam program-program Rano Karno terkait kebudayaan Betawi, berikut perbincangan reporter Koran Jakarta, Paundra Zakirulloh dengan Wakil Gubernur Jakarta yang biasa disapa Si Doel itu.
Mengapa pelestarian dan pengembangan Budaya Betawi menjadi fokus?
Budaya Betawi adalah identitas Jakarta. Di tengah modernisasi, kita harus memastikan bahwa akar budaya ini tetap hidup dan berkembang. Ini bukan hanya soal melestarikan, tetapi juga menjadikan budaya Betawi sebagai daya tarik utama Jakarta di tingkat internasional.
Sejauh ini, apa langkah konkret Pemprov untuk memajukan kebudayaan Jakarta?
Kami telah merancang Peta Jalan Pemajuan Kebudayaan Jakarta yang akan menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Dokumen ini akan menjadi panduan strategis untuk memperkuat peran kebudayaan dalam membangun kehidupan berbangsa yang harmonis dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Apakah peta jalan ini hanya berfokus pada Budaya Betawi?
Tidak. Budaya Betawi memang menjadi inti. Tetapi Jakarta adalah pusat pertemuan beragam budaya Nusantara. Maka, peta jalan ini akan mengakomodasi berbagai unsur budaya agar tetap lestari dan berkembang.
Siapa saja yang terlibat dalam diskusi untuk rancangan tersebut?
Kami melibatkan berbagai pihak. Ini mulai dari perangkat daerah, akademisi, mitra kebudayaan, hingga komunitas seni budaya. Ada sekitar 80 peserta dalam diskusi. Semua berkontribusi dalam merumuskan strategi kebudayaan Jakarta ke depan.
Harapan dari hasil diskusi?
Kami berharap diskusi bisa menghasilkan rumusan kebijakan yang konkret dan efektif untuk pemajuan kebudayaan. Kami ingin Jakarta punya ekosistem kebudayaan yang kuat dan berdaya saing, bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga global.
Adakah kaitan dengan rencana renovasi seluruh museum di Jakarta?
Revitalisasi memang menjadi salah satu tugas utama saya. Jakarta sedang menuju kota global. Salah satu syaratnya penguatan aspek kebudayaan. Museum sebagai pusat edukasi sejarah dan budaya harus diperbarui agar lebih menarik bagi masyarakat dan wisatawan.
Seperti apa konsep revitalisasinya?
Kami tidak hanya mempertahankan koleksi sejarah, tetapi juga memadukannya dengan teknologi modern. Misalnya, teknologi imersif yang bisa membuat pengalaman berkunjung lebih menarik bagi generasi muda. Museum Wayang sudah menerapkan konsep ini. Hasilnya sangat baik.
Bagaimana dengan tingkat kunjungan ke museum?
Sudah mulai meningkat. Misalnya, Museum Wayang bisa menarik hingga 1.500 pengunjung per hari, terutama akhir pekan. Tapi tentu kami ingin lebih banyak lagi orang yang datang dan menjadikan museum sebagai destinasi wisata edukatif.
Selain revitalisasi, apakah ada langkah lain untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap museum?
Salah satunya mendorong sekolah-sekolah mengadakan study tour ke museum. Jakarta memiliki banyak museum yang bisa menjadi sarana edukasi bagi anak-anak. Kami ingin mereka lebih mengenal sejarah dan budaya melalui kunjungan langsung ke museum-museum.
Pentingkah anak-anak study tour ke museum?
Museum bukan hanya tempat menyimpan benda-benda bersejarah, tetapi juga sarana edukasi yang menarik. Anak-anak bisa belajar sejarah, budaya, dan seni secara langsung di musem. Kami sangat mendukung sekolah-sekolah mengadakan study tour ke museum-museum Jakarta.
Lalu, maksud museum kini lebih imersif dan atraktif?
Dulu, orang berpikir museum itu kuno dan kaku. Tapi, sekarang, museum-museum Jakarta mulai mengadaptasi teknologi terbaru. Seperti Museum Wayang, ada elemen interaktif yang membuat pengalaman berkunjung lebih hidup dan menarik. Ini yang perlu kami dorong agar lebih banyak anak tertarik belajar sejarah.
Wagub menyampaikan harapan agar Jakarta memiliki pusat oleh-oleh khas.
Kami melihat Jakarta ini kota besar, tapi belum punya pusat oleh-oleh yang benar-benar khas. Daerah lain seperti Bali atau Yogyakarta punya. Lalu, kenapa Jakarta tidak? Jadi, kami pikir ini saat yang tepat untuk membangun pusat oleh-oleh yang bisa mewakili identitas Jakarta.
Jenis oleh-oleh seperti apa yang Anda bayangkan bisa dijual di tempat tersebut?
Banyak sekali! Makanan khas seperti ongol-ongol, kue serabi, kerak telor, hingga dodol Betawi. Mereka bisa menjadi bagian dari pusat oleh-oleh. Tidak hanya makanan, tapi juga barang-barang khas Betawi lainnya seperti batik Betawi atau miniatur ondel-ondel.
Sudah memikirkan lokasinya?
Sebenarnya di Pasar Baru sudah ada Istana Pasar Baru yang bisa dikembangkan. Ke depan, mungkin tempat itu diperindah dan ditata lebih baik supaya menarik lebih banyak pengunjung.
Selain sebagai pusat oleh-oleh, apakah ada manfaat lain dari rencana ini?
Tentu saja! Ini bukan hanya soal tempat belanja, tapi juga cara melestarikan budaya dan kuliner khas Jakarta. Dengan adanya pusat oleh-oleh, para pelaku UMKM juga punya wadah untuk memasarkan produk, sehingga ekonomi lokal bisa lebih berkembang.
Apakah sudah ada langkah konkret untuk merealisasikannya?
Saat ini masih dalam tahap pembahasan. Kami ingin memastikan konsepnya matang dan benar-benar bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ada perkembangan lebih lanjut.
Wagub juga mendorong âNyok Ngeborong di Tenabang.â Maksudnya?
Ini adalah inisiatif untuk mengembalikan kejayaan Pasar Tanah Abang sebagai pusat perbelanjaan tekstil terbesar Asia Tenggara. Kami ingin mengajak masyarakat belanja ke Tanah Abang.
Beberapa waktu lalu ada acara "Goresan Warna dan Getaran Jiwa: Persembahan dari Hati."
Kami sangat terharu melihat anak-anak disabilitas menunjukkan bakat seni. Ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya dan berprestasi. Acara seperti ini sangat penting untuk memberikan ruang inklusif bagi penyandang disabilitas agar bisa terus berkembang.
Apa bentuk dukungan Pemprov terhadap inisiatif semacam ini?
Kami berkomitmen untuk memberikan kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas dalam berbagai bidang, termasuk seni dan budaya. Salah satu langkah konkret yang kami lakukan adalah memastikan fasilitas seni dan budaya. Contoh, Taman Ismail Marzuki, lebih inklusif dan dapat diakses semua kalangan.
Selain aspek infrastruktur, bagaimana Pemprov mendorong kemandirian ekonomi seniman difabel?
Kami mengajak masyarakat untuk mendukung para penyandang disabilitas, baik melalui apresiasi terhadap karya seni maupun penyediaan peluang kerja di industri kreatif. Dengan begitu, kami bisa membantu menciptakan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan bagi mereka.
Harapan ke depan terkait pemajuan inklusivitas penyandang disabilitas Jakarta?
Tentu, semua berharap semakin banyak ruang yang bisa diakses kaum difabel, tidak hanya di bidang seni, tetapi juga sektor lain. Jakarta harus menjadi kota yang ramah bagi semua, tanpa terkecuali, termasuk difabel. Tentu saja, kami ingin melihat lebih banyak acara seperti ini untuk terus menginspirasi dan memberikan semangat bagi para penyandang disabilitas agar mereka terus berkarya.
Terkait pengembangan pariwisata?
Jakarta memiliki potensi wisata yang sangat luas dan lengkap. Meskipun tidak memiliki gunung, Jakarta punya laut dan pulau-pulau dengan sejarah kaya. Pulau Onrust dan Pulau Cipir adalah contoh nyata dari potensi tersebut. Keduanya menyimpan nilai sejarah yang bisa dikembangkan untuk wisata bertema sejarah.
- wagub jakarta
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Tim Koran Jakarta
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.