Situasi Suram Melanda Para Pemain Diaspora, Timnas Indonesia Dihantui Kekhawatiran Jelang Laga Kualifikasi Piala Dunia

Selasa, 06 Mei 2025, 13:05 WIB

JAKARTA — Kabar kurang menggembirakan datang dari sejumlah pemain diaspora Indonesia yang tengah berkarir di luar negeri. Di saat Timnas Indonesia membutuhkan kekuatan penuh untuk menghadapi dua laga krusial di Babak Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026, kondisi sebagian pemain andalan justru mengkhawatirkan.

Indonesia dijadwalkan menjamu Tiongkok di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 5 Juni 2025. Lima hari berselang, skuad Garuda harus terbang ke Jepang untuk melakoni laga berat melawan Samurai Biru. Dua pertandingan ini menjadi penentu langkah Indonesia ke babak keempat, sekaligus menjaga asa menuju putaran final Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Ket. Foto: Pelatih Tim nasional Indonesia Patrick Kluivert. — Sumber: PSSI

Pelatih Patrick Kluivert menegaskan bahwa hanya akan memanggil pemain yang aktif dan tampil konsisten di klub masing-masing. “Saya menghargai semua pemain, tetapi untuk menghadapi laga besar seperti ini, saya butuh pemain yang fit secara fisik dan mental, dan itu hanya bisa diperoleh lewat jam terbang tinggi bersama klub,” ujar Kluivert.

Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Beberapa pemain diaspora yang sebelumnya menjadi andalan justru sedang mengalami masa sulit.

Gelandang Thom Haye, misalnya, tengah berjuang menyelamatkan Almere City dari ancaman degradasi di Eredivisie Belanda. Nasib serupa dialami Jay Idzes bersama Venezia yang terdampar di zona merah Serie A Italia. Sementara bek senior Jordi Amat akan berstatus tanpa klub usai kontraknya bersama Johor Darul Ta'zim (Malaysia) berakhir pada bulan Juni mendatang.

Situasi tidak kalah pelik dialami Shayne Pattynama. Timnya, AS Eupen, terdegradasi dari kasta tertinggi Liga Belgia musim lalu dan kini bermain di divisi dua. Sandy Walsh, yang kini membela Yokohama F. Marinos di J-League, hanya mencatatkan lima penampilan dengan total 323 menit bermain. Sedangkan Nathan Tjoe-A-On dan Rafael Struick justru hampir tidak terpakai di klub masing-masing. Nathan hanya mencatat dua menit bermain untuk Swansea City sepanjang musim ini, sementara Struick hanya tampil 10 kali untuk Queensland Roar dengan durasi 240 menit.

Padahal, kehadiran para pemain diaspora ini sangat diharapkan untuk menambah kualitas teknik, kekuatan fisik, dan mentalitas timnas yang akan menghadapi dua laga berat melawan Tiongkok dan Jepang.

Kondisi ini pun menjadi perhatian klub-klub Liga 1. Isu berembus bahwa Bhayangkara Presisi Lampung FC siap menampung Nathan, Shayne, dan Rafael Struick untuk memberikan menit bermain reguler. Jordi Amat dan Sandy Walsh juga disebut-sebut masuk radar klub besar seperti Persib Bandung dan Bali United.

Langkah “mudik” ke Liga 1 bisa menjadi solusi demi menjaga kebugaran dan jam terbang, sekaligus memenuhi syarat Kluivert agar layak dipanggil memperkuat Garuda. “Jika mereka ingin memperkuat timnas, mereka harus bermain reguler. Itu syarat utama. Saya tidak akan ambil risiko membawa pemain yang tidak dalam kondisi kompetitif,” tegas Kluivert.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.